Senin, 06 Oktober 2008

PRODUKSI BIOMASSA ARTEMIA

PRODUKSI BIOMASSA ARTEMIA


Sebagaimana telah dijelaskan, Artemia merupakan salah satu makanan hidup yang sampai saat ini paling banyak digunakan dalam usaha budidaya udang, khususnya dalam pengelolaan pembenihan. Sebagai makanan hidup, Artemia tidak hanya dapat digunakan dalam bentuk nauplius, tetapi juga dalam bentuk dewasanya. Bahkan jika dibandingkan dengan naupliusnya, nilai nutrisi Artemia dewasa mempunyai keunggulan, yakni

kandungan proteinnya meningkat dari rata-rata 47 % pada nauplius menjadi 60 % pada Artemia dewasa yang telah dikeringkan. Selain itu kualitas protein Artemia dewasa juga meningkat, karena lebih kaya akan asam-asam amino essensial. Demikian pula jika dibandingkan dengan makanan udang lainnya, keunggulan Artemia dewasa tidak hanya pada nilai nutrisinya, tetapi juga karena mempunyai kerangka luar (eksoskeleton) yang sangat tipis, sehingga dapat dicerna seluruhnya oleh hewan pemangsa.
Melihat keunggulan nutrisi Artemia dewasa dibandingkan dengan naupliusnya dan juga jenis makanan lainnya, maka Artemia dewasa merupakan makanan udang yang sangat baikjika digunakan sebagai makanan hidup maupun sumber protein utama makanan buatan. Untuk itulah kultur massal Artemia memegang peranan sangat penting dan dapat dijadikan usaha industri tersendiri dalam kaitannya dengan suplai makanan hidup maupun bahan dasar utama makanan buatan.
Untuk dapat diperoleh biomassa Artemia dalam jumlah cukup banyak, harus dilakukan kultur terlebih dahulu. Produksi biomassa Artemia dapat dilakukan secara ekstensif pada tambak bersalinitas cukup tinggi yang sekaligus memproduksi Cyst (kista) dan dapat dilakukan secara terkendali pada bak-bak dalam kultur massal ini. BBAP (Balai Budidaya Air Payau) Jepara telah berhasil melakukan penerapan metode untuk mendapatkan produksi biomassa dan cyst Artemia secara berkesinambungan di tambak bersalinitas tinggi. Teknologi yang dihasilkan ini sesungguhnya dapat diserap oleh masyarakat, khususnya para petani yang memiliki tambak garam. Sedangkan dalam hal produksi biomassa pada bak-bak secara terkendali, telah pula dibuat modifikasi teknik kultur yang sangat memungkinkan dapat diterapkan oleh para pengusaha pembenihan, bahkan dapat dijadikan usaha industri skala rumah tangga. Dalam melakukan kultur massal Artemia secara terkendali berdasarkan metode yang dikembangkan oleh BBAP Jepara, diperlukan beberapa persyaratan sebagai berikut :

1. Bak Pemeliharaan dan Perlengkapan
Kultur Artemia dapat dilakukan pada bak-bak yang terbuat dari tembok, bak kayu berlapis plastik maupun bak dari fiberglass. Kapasitas bak tersebut minimal 1 ton air, Pada usaha pembenihan udang,
Gambar 10. konstruksi bak sengan system air berputar

kultur Artemia ini dapat dilakukan pada bak-bak untuk pemeliharaan larva udang. Bak kultur tersebut harus dilengkapi dengan peralatan aerasi dan jika memungkinkan dilengkapi dengan air lift untuk membuat sistem air berputar.

2. Makanan
Karena cara makan Artemia adalah dengan menyaring (Filter feeder), maka diperlukan makanan dengan ukuran partikel khusus, yaitu lebih kecil dari 60 mikron. Makanan yang diberikan dapat berupa makanan buatan maupun makanan hidup atau plankton. Makanan buatan yang memberikan hasil cukup baik dan mudah didapat adalah dedak halus. Cara pemberiannya harus disaring terlebih dahulu dengan saringan 60 mikron. Sedangkan plankton yang dapat digunakan sebagai makanan Artemia adalah jenis plankton yang juga digunakan sebagai makanan larva udang, seperti Tetraselmis sp, Chaetoceros sp, Skeletonema sp. Oleh karena itu kultur Artemia dengan plankton sebagai makanan alami lebih mudah dilakukan dalam suatu unit usaha pembenihan udang.

3. Prosedur Pemeliharaan
Untuk mendapatkan biomassa Artemia, nauplius Artemia dikultur dalam beberapa hari. Lama pemeliharaan tergantung pada ukuran Artemia yang dikehendaki. Jika Artemia digunakan sebagai makanan juvenil udang, maka lama pemeliharaan sekitar 7 hari, sedangkan jika digunakan sebagai makanan udang dewasa maupun untuk diproses sebagai bahan baku makanan buatan, maka lama pemeliharaan sekurang-kurangnya 15 hari. Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam mengkultur Artemia adalah sebagai berikut :
Tetaskan cyst Artemia untuk menghasilkan nauplius. Jumlah cyst yang ditetaskan 10 - 15 gram untuk 1 ton air dengan perhitungan efisiensi penetasannya adalah 200.000 nauplius/gram cyst.
Isi bak dengan air bersalinitas antara 20 - 35 permil yang disaring terlebih dahulu.
Tebarkan nauplius Artemia yang baru menetas dan aerasi medium pemeliharaan.
Berikan makanan (dedak halus atau plankton) jumlahnya ditentukan berdasarkan kecerahan air medium pemeliharaan. Pemberian makanan ini dilakukan sampai kecerahan air antara 15 – 20 cm dan dipertahankan terns selama masa pemeliharaan. Untuk mengukur kecerahan air medium pemeliharaan dapat digunakan "tingkat kecerahan" yang berskala (dalam centimeter). Selama pemeliharaan, amati perkembangan Artemia, yaitu pertumbuhan dan perkiraan yang masih hidup.
Setelah lama pemeliharaan tertentu, 7 sampai 15 hari, dapat dilakukan pemanenan biomassa Artemia. Caranya adalah matikan aerasi dan biarkan sekitar 15 menit. Artemia akan muncul di permukaan dan selanjutnya dipanen dengan menggunakan seser, lalu dicuci. Biomassa Artemia dapat langsung diberikan kepada udang yang disesuaikan dengan ukurannya atau disimpan dalam bentuk segar (dalam freezer) maupun dikeringkan untuk dibuat tepung Artemia.
sumber : Source : Ir. Sri Umiyati Sumeru
Dra. Suzy Anna



READY [of] NAUPLII ARTEMIA PRAWN

READY [of] NAUPLII ARTEMIA PRAWN.


Requirement of Artemia as food live to prawn larva pasca represent conditions which is [is] absolute to be provided, because till now domicile Artemia not yet earned to be replaced with is other. reserved for [by] Cyst [is] the food require to be incubated beforehand. As for quality of hatch of cyst can be seen from various assessment, that is :


- Hatching Efficiency ( HE) that is to the number of nauplii hatching from 1 gram of cyst Artemia
- Hatching Percentage ( H %) [is] the amount of nauplii hatching to be compared to the amount of used cyst
- T0 : needed Incubation period happened hatch of first nauplii
- T90 : needed Incubation period till reach 90 % hatch.















In practice, ready [of] food live Artemia have to [pass/through] process of dekapsulasi beforehand, because will be obtained [by] some advantage, that is
- Needn'T the existence of dissociation of nauplius from covering, because cyst chorion have been eliminated
- content of Energi higher because [do] not wear for the process of hatch
- Cyst have been sterilized from pest [pass/through] condensation of hipokhlorit
- Earn used direct for the food of larva
- lessening the amount of labour.

As for procedure stages;steps of dekapsulasi shall be as follows
1. hydration of Cyst
2. Treatment in condensation of hipokhlorit
3. Wash and activation of residu khiorin
4. Can be used directly as food or dehydrationed to [be] is depository.

Hydrasi Cyst. Omission of coat of khorion perfect can only be [done/conducted] [by] if globular cyst. To get that situation, cyst have to be let puffy by hydration. Generally full (of) hydration can reach [by] after 1 - 2 [hour/clock] with sea water or freshwater ( maximal 35 permil) [at] temperature 25°C.

Treatment in Condensation of Hipokhlorit. For the treatment of dekapsulasi, can be used [by] condensation of Naocl or of Ca ( OCL)2 which more knowledgeable with kaporit. If used Naoci, hence Natrium and of OCL ionized in condensation and formed [by] HOCL in water, while if Ca ( used OCL)2 will be yielded [by] 2 ion of OCL to each;every molecule of hipokhlorit. Can be said that [by] OCL play a part in khorion, but this matter still is not sure. Activity and maximal concentration [is] [at] PH 10, compared to [at] low PH. 0,5 materials gram of aktifdan 14 condensation ml of dekapsulasi needed to dekapsulasi 1 gram of cyst.


[In] many state, Ca ( OCL)2, cheaper as source of active khiorin from [at] Na Ocl2 Ca ( OCL)2 represent more stable product than Na OCL and can be kept longer during. Activity of Ca ( OCL)2 usually precisely [is] such as those which expressed in lable of commercial product ( generally 70 % active materials). Condensation activity of Na OCL can be determined with measuring index of refraktif [at] refraktometer. Its value [is] :


Y = 3000 X - 4003
Y = Activity of Na OCL in gram per litre
X = Make an index to refraktif.


With NaOCl, 0, 15 gram of NaOH technical ( 0,33 ml, 40 % condensation) have to be enhanced in every gram of cyst to increase pH condensation of dekapsulasi until [about/around] 10. If which [is] used [by] Ca(OCl)2 hence 0,67 gram of Na2CO3 or 0,4 gram of CaO have to be made with water go out to sea 35 permil. For Ca(OCl)2, the used [is] its just dilution, by mixing [him/ it] with sea water, volume have been determined and strong diaerasi during [about/around] 10 minute. Hereinafter aerasi killed and suspensi let to tuang and also pregnant dilution [of] condensation of Ca ( OCL)2, can be used for dekapsulasi.

After evacuation of cyst in condensation of dekapsulasi, hence have to be defended in a state of suspensi with aerasi continually. In a few minute take its rise reaction of exothermic oxidation and grow spume. In line with is dissolve [of] him of khorion, happened change of colour of cyst, that is from deep brown to is grey, later;then orange. During dekapsulasi, temperature have to be checked regularly and ice have to be enhanced to prevent the make-up of temperature above 40°C. If cyst defended in condensation of dekapsulasi, will kill embryo. Therefore, cyst have to be removed immediately from condensation after process finish. Solving of process can be [done/conducted] with perception periodical after existence of change of colour of cyst which [is] didekapsulasi.

Wash and Activation of Residu Khiorin. During treatment, condensation of dekapsulasi respond to cyst khorion. Effect of reaction, formed [by] some compound of organokhiorin coherent [at] cyst result of dekapsulasi able to lessen quality and usefulness of cyst which [is] didekapsulasi. Therefore, after wash can be enhanced [by] 1 % Na2S203, counted 0,5 ml / gram of cyst so that form dissolve compound with compound of organokhlorin. Thereby can eliminate condensation pickings of dekapsulasi [at] cyst.

4. Direct Usage [of] Cyst or Dehydration to [be] is Depository.
Cyst result of dekapsulasi can be given direct to predator if needed. This Cyst can be kept for a few day in refrigerator [at] temperature 0 - 4°C. Because can immerse in sea water and also freshwater, hence time used direct as food of predator, needed [by] and aerasi of sirkulasi last for maintaining cyst in suspensi. To [be] is depository [of] cyst result of dekapsulasi, dehydration hams [done/conducted] [by] after finishing activation procedure and wash. For that, cyst have to be defended in saturated condensation [of] Nad (± 330 gram / litre). After [about/around] 3 [hour/clock], salt condensation have to pinch hit for to streamline to dehydration. If dehydrationed, dekapsulasi cyst will become like seed copy and sink although in saturated salt condensation.

Dekapsulasi Cyst which [is] this hydration [of] leak have to and by using filter 120 micron, carried over in place of plastic, enhanced [by] salt condensation and kept in or refrigerator of freezer. Depository [of] dekapsulasi cyst in salt condensation have limitation. During 6 kalends after dekapsulasi, cyst admit of to maintain maximal hatching energy [of] him, ika sekalipunj kept [at] temperature 20°C.Untukperiode longer, continuity of life of cyst downhill seems.

Degradation of energy hatch dekapsulasi cyst which [is] kept in salt condensation possible because of content of aimya which high relative ( [about/around] 20 %). Depository for time old ones from dry dekapsulasi cyst ( content irrigate below/under 5%) enabling if kept in a state of running dry in free media [of] oxygen ( place of filled [by] nitrogen or is air-less).
Source : Ir. Sri Umiyati Sumeru
Dra. Suzy Anna


PENYEDIAAN NAUPLII ARTEMIA

Kebutuhan Artemia sebagai pakan hidup bagi pasca larva udang merupakan persyaratan yang mutlak disediakan, karena sampai saat ini kedudukan Artemia belum dapat digantikan dengan yang lain. Cyst yang disediakan untuk pakan tersebut perlu ditetaskan terlebih dahulu. Adapun kualitas penetasan cyst dapat dilihat dari berbagai penilaian, yaitu :
- Hatching Efficiency (HE) yaitu banyaknya nauplii yang menetas dari 1 gram cyst Artemia.
- Hatching Percentage (H %) ialahjumlah nauplii yang menetas dibandingkan dengan jumlah cyst yang digunakan.
- T0 : Masa inkubasi yang diperlukan sampai terjadi penetasan nauplii yang pertama.
- T90 : Masa inkubasi yang diperlukan hingga mencapai 90 % penetasan.
















Gambar 8. Cyst Artemia
Gambar 9. nauplii artemia yang baru menetas

Dalam prakteknya, penyediaan pakan hidup Artemia harus melalui proses dekapsulasi terlebih dahulu, karena akan diperoleh beberapa keuntungan, yaitu :
- Tidak perlu adanya pemisahan nauplius dari cangkang, karena chorion cyst sudah dihilangkan.
- Kandungan energi lebih tinggi karena tidak dipakai untuk proses penetasan.
- Cyst telah disucihamakan melalui larutan hipokhlorit.
- Dapat langsung digunakan untuk makanan larva.
- mengurangi jumlah tenaga kerja.
Adapun langkah-langkah prosedur dekapsulasi adalah sebagai berikut :

1. Hidrasi cyst
2. Perlakuan dalam larutan hipokhlorit
3. Pencucian dan diaktivasi residu khiorin
4. Dapat digunakan secara langsung sebagai makanan atau didehidrasi untuk penyimpanan.
1. Hydrasi Cyst
Penghilangan lapisan khorion yang sempuma hanya dapat dilakukan jika cyst berbentuk bulat. Untuk mendapatkan keadaan itu, cyst harus dibiarkan menggembung dengan cara hidrasi. Umumnya hidrasi penuh dapat tercapai setelah 1 - 2 jam dengan air tawar atau air laut (maksimal 35 permil) pada suhu 25°C.

2. Perlakuan dalam Larutan Hipokhlorit
Untuk perlakuan dekapsulasi, dapat digunakan larutan NaOCI atau Ca (OCl)2 yang lebih dikenal dengan kaporit. Jika NaOCI yang digunakan, maka Natrium dan OCl terionisasi dalam larutan dan terbentuk HOCl dalam air, sedangkan jika Ca (OCl)2 yang digunakan akan dihasilkan 2 ion OCl untuk setiap molekul hipokhlorit. Dapat dikatakan bahwa OCl berperan dalam khorion, tetapi hal ini masih belum pasti. Aktivitas dan konsentrasi maksimal adalah pada PH 10, dibandingkan pada PH rendah. 0,5 gram bahan aktifdan 14 ml larutan dekapsulasi diperlukan untuk dekapsulasi 1 gram cyst. Di banyak negara, Ca (OCl)2, lebih murah sebagai sumber khiorin aktifdaripada Na Ocl2 Ca (OCl)2 merupakan produk yang lebih stabil daripada Na OCl dan dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama. Aktivitas Ca (OCl)2 biasanya tepat seperti yang dinyatakan dalam label dari produk komersial (umumnya 70 % bahan aktif). Aktivitas larutan Na OCl dapat ditentukan dengan mengukur indeks refraktif pada refraktometer. Nilainya adalah :

Y = 3000 X- 4003
Y = Aktivitas Na OCl dalam gram per liter
X = Indeks refraktif.
Dengan Na OCl, 0, 15 gram NaOH teknis (0,33 ml, 40 % larutan) harus ditambahkan dalam tiap gram cyst untuk meningkatkan PH larutan dekapsulasi sampai sekitar 10. Jika yang digunakan Ca(OCl)2 maka 0,67 gram Na2CO3 atau 0,4 gram CaO harus dibuat dengan air laut 35 permil. Untuk Ca (OCl)2, yang digunakan adalah cairannya saja, dengan cara mencampurkannya dengan air laut, volume telah ditentukan dan diaerasi kuat selama sekitar 10 menit. Selanjutnya aerasi dimatikan dan suspensi dibiarkan mengendap serta cairan yang mengandung larutan Ca (OCl)2, dapat digunakan untuk dekapsulasi.
Setelah pemindahan cyst dalam larutan dekapsulasi, maka harus dipertahankan dalam keadaan suspensi dengan aerasi secara kontinu. Dalam beberapa menit mulai terjadi reaksi oksidasi eksotermik dan tumbuh busa. Sejalan dengan larutnya khorion, terjadi perubahan warna cyst, yaitu dari coklat tua ke abu-abu, kemudian oranye. Selama dekapsulasi, temperatur harus diperiksa secara teratur dan es harus ditambahkan untuk mencegah peningkatan temperatur di atas 40°C. Jika cyst dipertahankan dalam larutan dekapsulasi, akan membunuh embrio. Oleh karena itu, cyst harus dipindahkan segera dari larutan setelah proses selesai. Penyelesaian proses dapat dilakukan dengan pengamatan secara periodik setelah adanya perubahan warna dari cyst yang didekapsulasi.

3. Pencucian dan Diaktivasi Residu Khiorin
Selama perlakuan, larutan dekapsulasi bereaksi terhadap khorion cyst. Akibat reaksi tersebut, terbentuk beberapa senyawa organokhiorin yang melekat pada cyst hasil dekapsulasi yang dapat mengurangi kualitas dan kegunaan cyst yang didekapsulasi. Oleh karena itu, setelah pencucian dapat ditambahkan 1 % Na2S203, sebanyak 0,5 ml/gram cyst sehingga membentuk persenyawaan yang larut dengan persenyawaan organokhlorin. Dengan demikian dapat menghilangkan sisa-sisa larutan dekapsulasi pada cyst tersebut.

4. Penggunaan Langsung Cyst atau Dehidrasi untuk Penyimpanan
Cyst hasil dekapsulasi dapat diberikan langsung kepada predator jika diperlukan. Cyst ini dapat disimpan untuk beberapa hari dalam refrigerator pada suhu 0 - 4°C. Karena dapat tenggelam dalam air tawar maupun air laut, maka waktu digunakan langsung sebagai pakan predator, diperlukan aerasi dan sirkulasi cukup untuk mempertahankan cyst dalam suspensi. Untuk penyimpanan cyst hasil dekapsulasi, dehidrasi hams dilakukan setelah selesai prosedur diaktivasi dan pencucian. Untuk itu, cyst harus dipertahankan dalam larutan jenuh Nad (± 330 gram/liter). Setelah sekitar 3 jam, larutan garam harus diganti untuk mengefektifkan dehidrasi. Jika didehidrasi, cyst dekapsulasi akan menjadi seperti biji kopi dan tenggelam walaupun dalam larutan garam jenuh. Cyst dekapsulasi yang terhidrasi ini harus ditiriskan dan dengan menggunakan saringan 120 mikron, dipindahkan ke dalam wadah plastik, ditambahkan larutan garam dan disimpan dalam refrigerator atau freezer.
Penyimpanan cyst dekapsulasi dalam larutan garam mempunyai keterbatasan. Selama 6 bulan pertama setelah dekapsulasi, cyst masih dapat mempertahankan daya tetas maksimalnya, sekalipunj ika disimpan pada temperatur 20°C.Untukperiode yang lebih lama, kelangsungan hidup cyst tampaknya menurun. Penurunan daya tetas cyst dekapsulasi yang disimpan dalam larutan garam mungkin disebabkan oleh kandungan aimya yang relatif tinggi (sekitar 20 %). Penyimpanan untuk waktu yang lama dari cyst dekapsulasi kering (kandungan air di bawah 5%) memungkinkan jika disimpan dalam keadaan kering dalam media yang bebas oksigen (wadah diisi nitrogen atau hampa udara).

sumber : Ir. Sri Umiyati Sumeru
Dra. Suzy Anna

Rabu, 01 Oktober 2008

Brachionus Plicatilis



Brachionus Plicatilis.


This Group [is] included in Rotifera phyllum, Mogononta klas, Ordo Ploima, Crachionidae familia, gender of Brachionus. Culture of Rotifera this can be [done/conducted] in volume wood basin 300 litre with salinitas 18 permil. After equipments cleaned, water [is] enough filtered with filter 60 micron. Produce this [is] Rotifera very depend on is ready [of] food. Some life food type able to be utilized for the food of Rotifera [is] : Chlorella Sp, Tetraselmis Sp and bread yeast. From [among/between] some the type which at most weared [is] Chlorella sp. Way of practical for the culture of Brachionus plicatilis that is with inokulasi [at] tank which have been filled [by] water go out to sea and have been growed [by] chlorella.
source : Ir. Sri Umiyati Sumeru
Dra. Suzy Anna

Chuii Tetraselmis

Chuii Tetraselmis.

green Group Alga ( This Chlorophyceae) have important role also for natural food [of] prawn larva. Species of this group [is] to have single cell [to] and have flagella and also contain many green pigment ( khlorophil), so that if seen in under visible microscope [of] green chromatic with khioroplast plastida. Its pigment consist of two kinds of, that is; a khiorophil and of khiorophil b, and also a few/little other pigment that is caroten, and xanthophyl of carotenoid red. Core of small fairish and stand-out cell, pregnant cell wall [of] cellulose materials and of pektosa. This group [of] cosmopolitan life and easy to live with to change of environment.

Its reproduction happened by vegetatif sexual and aseksual. [At] reproduction of aseksual, happened bisection of protoplasm from 2, 4, 8 and so on in the form of zoospora after provided with 4 of flagella. [At] sexual reproduction, each;every cell have gamet which [is] identik ( isogami) which later;then degrade new zygote and followed with growth of perfect zygote.
sumber : Ir. Sri Umiyati Sumeru
Dra. Suzy Anna

Brachionus plicatilis

Brachionus plicatilis
Kelompok ini termasuk dalam phyllum Rotifera, klas Mogononta, Ordo Ploima, familia Crachionidae, genus Brachionus.
Kultur Rotifera ini dapat dilakukan dalam bak kayu volume 300 liter dengan salinitas 18 permil. Setelah peralatan dibersihkan, air cukup disaring dengan saringan 60 mikron. Produksi Rotifera ini sangat tergantung pada penyediaan pakannya. Beberapajenis pakan hidup yang dapat dipergunakan untuk pakan Rotifera adalah : Chlorella sp, Tetraselmis sp dan ragi roti. Dari antara beberapa jenis tersebut yang paling banyak dipakai adalah Chlorella sp.
Cara yang praktis untuk kultur Brachionus plicatilis yaitu dengan menginokulasikan pada tangki yang telah diisi air laut dan telah ditumbuhi chlorella.
sumber : Ir. Sri Umiyati Sumeru
Dra. Suzy Anna

Tetraselmis chuii , Chaetoceros calcitrans

Tetraselmis chuii

Kelompok alga hijau (Chlorophyceae) ini mempunyai peranan penting pula untuk makanan alami larva udang. Species dari kelompok ini adalah bersel tunggal dan mempunyai flagella serta mengandung banyak pigmen hijau (khlorophil), sehingga jika dilihat di bawah mikroskop tampak berwama hijau dengan plastida khioroplast. Pigmennya terdiri dari dua macam, yaitu; khiorophil a dan khiorophil b, serta sedikit pigmen lain yaitu caroten, xanthophyl dan carotenoid merah. Inti sel terlihat jelas dan berukuran kecil, dinding sel mengandung bahan selulosa dan pektosa. Kelompok ini hidup kosmopolit dan mudah menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan.


Reproduksinya terjadi secara vegetatif aseksual dan seksual. Pada reproduksi aseksual, terjadi pembelahan protoplasma dari 2, 4, 8 dan seterusnya dalam bentuk zoospora setelah dilengkapi dengan 4 buah flagella. Pada reproduksi seksual, setiap sel mempunyai gamet yang identik (isogami) yang kemudian menurunkan zygote baru dan diikuti dengan perkembangan zygote yang sempurna.










































Gambar 5. Sistem Reproduksi pada Tefraselmis Chuii

Di bawah ini formula Wayne Medium untuk kultur Tetraselmis chuii dan beberapa algae lainnya.






Stock A :
Fe Cl3 6H2 O.......................................1,30 gram
Mn CI2 4H2 O.....................................0,36 gram
H3 BO3................................................ 33,60 gram
EDTA (Na salt)....................................45,00 gram
Na H2 PO4 2H2 O ..............................20,00 gram
NaNO3 ................................................ 100,00 gram
Trace metal solution............................1,0 ml
Air suling (Destilled water) ............... 1,0 I
Tambahkan 1 ml stock A untuk 1 liter air laut.

Stock B :
Vitamin B12 (Cyanobalamin) ...................................10 mg
Vitamin B1 (thiamin) ................................................ 200 mg
Air suling (Destilled water) .......................................100 ml
Tambahkan 0,1 ml stock B untuk 1 liter air laut.


Trace Metal Solution :
Zn Cl2 ................................................ 2,1 gram
Co Cl2 6H2 O .................................... 2,0 gram
(NH4)6 Mo7 O24 4H2O .................. 0,9 gram
Cu SO4 5 H2 O .................................. 2,0 gram
Air suling (Destilled water) .............. 100 ml

Sumber : Liao I Chiu, 1983.

Chaetoceros calcitrans
Chaetoceros termasuk dalam kelompok diatomae (Bacillariophyceae) yang mempunyai banyak species yang dimungkinkan untuk pakan larva udang. Jenis yang sering digunakan adalah Chaetoceros calcitrans














Gambar 6. Chaetoceros sp

yang mempunyai karakteristik toleransi yang tinggi terhadap temperatur. Bila kulturnya dilakukan pada temperatur 40°C, tidak terdapat pigmentasi, sedangkan pada temperatur 20 -30°C pertumbuhan terjadi secara normal, sedangkan temperatur yang optimal adalah 25 - 30°C. Salinitas minimal yaitu 6 permil akan tetapi yang optimal adalah 17 - 25 permil.

Formulasi pupuk untuk Chaetoceros sp :
Jenis nutrien................................................ Konsentrasi (mg/liter)
NH4 NO3 ............................................79,2
NH2 PO4 .............................................10,0
Na2 Si O3 ........................................... 15,0
Fe Cl3 ................................................ 1,3
EDTA ................................................ 10,0

Trace Metal Medium :
- Na NO3 ................................................ 150 mg
- Na H2 PO4 2H2 O .............................. 10 mg
- Na2 SiO3 ................................................ 10 mg
- Mikronutrien .........................................1 ml
- Air laut ................................................ 1 liter
Mikronutrien : 7,3 gram Na2 EDTA, 6 gram Fe C136H2O, 12 mg Na2Mo O42H2O, 44 mg Zn SO47H2O, 360 mg Mn Cl24H2O, 20 mg CoCl26H2O, 2 mg CuSO4 5H2O. Seluruhnya dilarutkan dalam air suling (destilled water) 1 liter.
sumber : Ir. Sri Umiyati Sumeru
Dra. Suzy Anna