Jumat, 07 November 2008

Golongan Kerapu

Golongan Kerapu

Ikan-ikan dari golongan ini mempunyai nilai pasar yang tinggi meskipun tingkat harga tergantung pada spesies. Di kalangan internasional, ikan ini dinamakan grouper dan dipasarkan dalam keadaan hidup. Ikan kerapu di alam tergolong karnivora yang memakan ikan, udang, dan Crustacea. Ikan dari golongan famili Serranidae ini mempunyai lebih dari 46 spesies yang hidup tersebar dengan tipe habitat yang beragam dan hanya beberapa jenis yang telah dibudidayakan.
Kerapu tikus (Chromileptes altivelis) merupakan jenis kerapu yang saat ini paling mahal. Ikan ini mempunyai bentuk agak pipih yang bila diperhatikan warna dasarnya abu-abu dengan bintik hitam pada badannya. Ikan yang muda merupakan ikan hias laut yang mempunyai bintik lebih besar serta lebih sedikit dibanding ikan yang lebih tua. Lain halnya kerapu jenis sunuk/lodi atau yang dikenal dengan coral trout, kerapu jenis ini mempunyai bentuk memanjang dan agak gilig. Kerapu sunuk merupakan golongan kerapu genus Plectropomus. Dari genus ini kurang lebih ada delapan spesies yang hidup di Indonesia, tetapi yang paling umum dibudidayakan adalah kerapu merah jenis Pfectrof5omus maculatus dan P. leopardus.
Kerapu merah jenis Plectropomus maculatus dan P. leopardus terkadang berubah warnanya menjadi cokelat. Perubahan warna terjadi bila kondisi berubah, misalkan dalam keadaan stres. Bintik-bintik



Kerapu tikus (Chromileptes altivelis) paling mahal harganya
Dibandingkan kerapu jenis lainnya


Kerapu merah (Plectropomus maculatus) akan berubah warna menjadi
Cokelat dalam keadaan stress






Kerapu Lumpur (Epenephelus suillus) mempunyai bintik cokelat dan pita
Vertical berwarna gelap


Kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) mempunyai bintik cokelat
Yang lebih rapat daripada kerapu Lumpur sehingga
Badannya berwarna lebih gelap

berwarna biru dengan tepi berwarna lebih gelap dan enam pita berwarna gelap pada tubuhnya merupakan ciri khas kerapu jenis ini. Bintik-bindk pada P. maculatus lebih besar dan bentuk bintiknya tidak beraturan. Pita-pita gelap tersebut terkadang tidak tampak.
Golongan kerapu yang paling banyak jenisnya adalah dari genus Epinephelus. Namun, yang paling dikenal dan dibudidayakan adalah kerapu lumpur Epinephelus suillus (dulu dikenal E. tauvina) dan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus). Golongan Epinephelus mempunyai bentuk badan memanjang dan gilig. Badan kerapu lumpur mempunyai wama dasar abu-abu muda dengan bintik cokelat dan lima pita vertikal berwarna gelap. Badan kerapu macan lebih tinggi dengan bintik yang rapat berwarna gelap. Strip dada kerapu.macan berwarna kemerahan, sedangkan bagian pinggir sirip-sirip yang lain cokelat kemerahan.

PROSPEK USAHA PEMBENIHAN IKAN LAUT

PROSPEK USAHA PEMBENIHAN IKAN LAUT

Sejak diperkenalkan teknologi budi daya ikan laut melalui model karamba jaring apung (KJA) yang di Indonesia mulai dikenal sekitar tahun 1978 maka usaha budi daya terus meningkat dari waktu ke waktu. Hal ini dibarengi dengan permintaan pasar komoditas tersebut untuk tujuan ekspor maupun lokal.
Beberapa jenis ikan laut yang ekonomis dan merupakan komoditas budi daya umumnya ada tiga golongan yaitu kerapu, kakap, dan beronang. Namun, sayangnya pemasokan benih ikan budi daya siap tebar masih mengandalkan dari usaha penangkapan di alam. Dengan demikian, ada kemungkinan akan terjadi eksploitasi penangkapan ikan di alam secara berlebihan. Hal ini tentu saja akan merusak keseimbangan ekosistem di masa mendatang.
Di lain pihak, usaha pemasokan benih dari usaha panti benih (hatchery) ikan laut belum mampu memenuhi permintaan. Teknologi pembenihan ikan laut sekarang sebetulnya telah diketahui meskipun belum memasyarakat. Salah satu contoh negara yang telah mampu memenuhi permintaan benih ikan budi daya yaitu Jepang. Berkat kerja keras serta keuletan para penelitinya, Jepang telah mampu membuat teknologi pembenihan ikan laut dan sekarang telah banyak panti benih milik swasta maupun milik pemerintah. Bahkan negara ini telah mampu mengadakan restocking di laut untuk beberapa jenis ikan. Jenis-jenis ikan laut komersial di Jepang yang telah mampu diproduksi secara massal setiap tahun adalah ikan kakap merah (Pagrus major), ikan sebelah (Paralichthys olivaceus), ekor kuning (SerioIa quinqueradiata), dan ikan buntal (Takifugu rubripes). Secara umum, prinsip teknologi pembenihan ikan laut sama meskipun jenis ikannya berbeda. Di Indonesia yang merupakan daerah tropika dengan tipe habitat yang beragam mempunyai sumber daya induk ikan komersial yang potensial untuk dibenihkan.
Dalam buku ini akan dibahas beberapa jenis ikan laut budidaya yang mempunyai prospek untuk usaha pembenihan. Jenis-jenis ikan itu di antaranya dari golongan kerapu, kakap, dan beronang.

sumber : Drs. Pramu Sunyoto
Dr. Mustahal, M.Sc

Penebar Swadaya

Kamis, 06 November 2008

makan ikan kurangi resiko diabetes

Belum lama ini, Journal of the American Medical Assosiciation (JAMA) telah mempublikasikan studi internasional baru tentang peran makan ikan yang dapat mengurangi risiko penyakit diabetes pada anak-anak.
Dalam studi tersebut disimpulkan bahwa sebuah pola makan (diet) yang kaya dengan minyak omega3, yang ditemukan melimpah pada ikan dan berbagai seafood lainnya dapat memotong peluang risiko sebesar 55% terhadap diabetes tipe 1 pada anak-anak. Hal ini merupakan temuan yang sangat penting bagi anak-anak di Autralia, karena rerata kasus penyakit ini relatif lebih tinggi dibandingkan dengan negara lain.
Studi dilakukan selama 6 tahun, melibatkan 1.700 anak-anak dan diklaim sebagai penelitian yang pertama mengaitkan dengan diet anak-anak (diatas balita). Studi diketuai oleh Dr. Jill Norris, epidemiloght dari Universitas Colorado, Amerika Serikat. Temuan tersebut sangat signifikan dan menggembirakan karena nampaknya dimungkinkan untuk mengatasi suatu penyakit melalui intervensi nutrisi.
Penyakit dibetes tipe 1, umumnya diwariskan, sehingga penelitian difokuskan kepada anak-anak yang berisiko tinggi, yaitu yang mempunyai jenis genetis (genotype) berisiko tinggi atau yang mempunyai orang tua atau saudara kandung penderita diabetes. Para peneliti menemukan bahwa , anak-anak yang banyak makan ikan, kacang-kacangan dan pangan sumber asam lemak omega3 lainnya berkurang 55 % kemungkinannya menjadi penderita diabetes.
Pemerintah Federal Australia melalui Institute of Health & Welfare (AIHW) baru-baru ini mengumumkan data, kasus baru diabetes tipe 1 pada anak-anak yang cukup meningkat dan menuntut perhatian lebih. Diantara 6.100 anak-anak dibawah usia 15 tahun yang telah menderita diabetes tipe 1 lebih dari 7 tahun, jumlah kasusnya telah meningkat, naik dari 19 menjadi 23 per 100.000 anak pada periode tahun 2000-2005.
Adanya temuan baru untuk pengobatan maupun pencegahan penyakit melalui intervensi nutrisi ini sangat penting, tidak hanya bagi anak yang bersangkutan tetapi juga bagi kedua orang tuanya. Meskipun penelitian tersebut baru mampu menunjukkan penurunan risiko, tetapi hal tersebut telah merupakan langkah awal yang menjanjikan. Diduga zat penting dari omega3 yang paling berpengaruh adalah kandungan anti-inflamatory yang cukup tinggi.
Diantara pertanyaan yang ditujukan kepada orang tua anak dalam daftar kuisoner adalah ukuran porsi makan ikan dari anak yang menjadi obyekpenelitian yaitu sekitar 85 gram hingga 115 gram, dengan kisaran dari tidak pernah hingga 6 kali atau lebih dalam sehari. Secara spesifik, mereka ditanya tentang frekuensi makan tuna, mackarel, salmon, sardin, tailor dan swordfish, serta ikan lainnya, udang, lobster dan scallop. Hal yang menarik dalam penelitian tersebut adalah, adanya 45 anak dalam kelompok tersebut yang paling berpeluang untuk menderita diabetes tipe 1 adalah anak-anak yang paling sedikit mengkonsumsi omega3 dari ikan dan sumber lainnya.
Tentu saja, kepada orang tua yang mempunyai anak bermasalah dengan diabetes tipe 1 sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan advis medis langsung yang lebih pribadi sifatnya. Bagimanapun hasil studi di Amerika Serikat tersebut telah membawa pencerahan dan bahwa makan ikan sangat bermanfaat bagi semua kelompok umur.i art
Sumber : Warta Pasar Ikan,

makan ikan kurangi resiko diabetes

Belum lama ini, Journal of the American Medical Assosiciation (JAMA) telah mempublikasikan studi internasional baru tentang peran makan ikan yang dapat mengurangi risiko penyakit diabetes pada anak-anak.
Dalam studi tersebut disimpulkan bahwa sebuah pola makan (diet) yang kaya dengan minyak omega3, yang ditemukan melimpah pada ikan dan berbagai seafood lainnya dapat memotong peluang risiko sebesar 55% terhadap diabetes tipe 1 pada anak-anak. Hal ini merupakan temuan yang sangat penting bagi anak-anak di Autralia, karena rerata kasus penyakit ini relatif lebih tinggi dibandingkan dengan negara lain.
Studi dilakukan selama 6 tahun, melibatkan 1.700 anak-anak dan diklaim sebagai penelitian yang pertama mengaitkan dengan diet anak-anak (diatas balita). Studi diketuai oleh Dr. Jill Norris, epidemiloght dari Universitas Colorado, Amerika Serikat. Temuan tersebut sangat signifikan dan menggembirakan karena nampaknya dimungkinkan untuk mengatasi suatu penyakit melalui intervensi nutrisi.
Penyakit dibetes tipe 1, umumnya diwariskan, sehingga penelitian difokuskan kepada anak-anak yang berisiko tinggi, yaitu yang mempunyai jenis genetis (genotype) berisiko tinggi atau yang mempunyai orang tua atau saudara kandung penderita diabetes. Para peneliti menemukan bahwa , anak-anak yang banyak makan ikan, kacang-kacangan dan pangan sumber asam lemak omega3 lainnya berkurang 55 % kemungkinannya menjadi penderita diabetes.
Pemerintah Federal Australia melalui Institute of Health & Welfare (AIHW) baru-baru ini mengumumkan data, kasus baru diabetes tipe 1 pada anak-anak yang cukup meningkat dan menuntut perhatian lebih. Diantara 6.100 anak-anak dibawah usia 15 tahun yang telah menderita diabetes tipe 1 lebih dari 7 tahun, jumlah kasusnya telah meningkat, naik dari 19 menjadi 23 per 100.000 anak pada periode tahun 2000-2005.
Adanya temuan baru untuk pengobatan maupun pencegahan penyakit melalui intervensi nutrisi ini sangat penting, tidak hanya bagi anak yang bersangkutan tetapi juga bagi kedua orang tuanya. Meskipun penelitian tersebut baru mampu menunjukkan penurunan risiko, tetapi hal tersebut telah merupakan langkah awal yang menjanjikan. Diduga zat penting dari omega3 yang paling berpengaruh adalah kandungan anti-inflamatory yang cukup tinggi.
Diantara pertanyaan yang ditujukan kepada orang tua anak dalam daftar kuisoner adalah ukuran porsi makan ikan dari anak yang menjadi obyekpenelitian yaitu sekitar 85 gram hingga 115 gram, dengan kisaran dari tidak pernah hingga 6 kali atau lebih dalam sehari. Secara spesifik, mereka ditanya tentang frekuensi makan tuna, mackarel, salmon, sardin, tailor dan swordfish, serta ikan lainnya, udang, lobster dan scallop. Hal yang menarik dalam penelitian tersebut adalah, adanya 45 anak dalam kelompok tersebut yang paling berpeluang untuk menderita diabetes tipe 1 adalah anak-anak yang paling sedikit mengkonsumsi omega3 dari ikan dan sumber lainnya.
Tentu saja, kepada orang tua yang mempunyai anak bermasalah dengan diabetes tipe 1 sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan advis medis langsung yang lebih pribadi sifatnya. Bagimanapun hasil studi di Amerika Serikat tersebut telah membawa pencerahan dan bahwa makan ikan sangat bermanfaat bagi semua kelompok umur.i art
Sumber : Warta Pasar Ikan,

Seedling FISH GRASS CARP

Seedling FISH GRASS CARP
(Ctenopharyngodon idella)

I. INTRODUCTION
Grass Carp (Ctenopharyngodon idella) originating from China from the east and the USSR was imported into Indonesia in 1915 in Sumatra and in 1949 was imported to Java with the goal to be cultivated.
Grass Carp fish or also known by the name of the fish Koan is a herbivorous fish that live in fresh water. This type of fish eater water plants such as Hydrilla sp, Salvinia, herbaceous plants and other water, so this type can be used as a fish out of the weeds in the water and swimming in the waters of the public.





II. Biological
- The systematic Grass Carp fish in the classroom, including Osteichthyes, Knights Cypriniformes, family Cyprinidae.
-Fish Grass Carp can reach a maximum size: 120 cm long and 20 kg of body weight.
-physical characteristics of the fish is dark gray with yellowish mixture of silver sheen, body stretching, the width of the head with a white short snout, teeth paringeal in a row with a double as a comb.
-Master Grass Carp can memijah at age s 3 / 4 years with the weight of female to 3 kg and 2 kg male, spawning usually occurs in the rainy season.

III. Seedling
A. Maintenance Association
Parent-parent kept in the pool with a density 0.2 d 0.3 kg/m2 any given day, other than feed or water the plants, herbaceous also be given feed made in the form of Pellet as much as 3% of the total weight of the population with the frequency of three times per day.
Signs mark the parent cooked gonad:
-Betta: the lower abdomen when the belly is very weak, redness and gender hole rather swell out and the movement is relatively slow.
-male: Compared with the female part of the pectoral fin more rough and when the stomach hole ordered toward sex will be out of the white liquid.

B. Spawning
How to spawning. Grass Carp fish can be done in several ways including:
a. Induced breeding
-Pemijahan the "induced breeding" with the menyuntikan hormone stimulation that comes from the gland hipofisa fish or use ovaprim donors.
- Master female states twice with the lapse of time 4 s / d for 6 hours, when the gland hipofisa 2 doses, but when using ovaprim with doses of 0.5 ml / kg. The first injection of 1 / 3 and the second injection of 2 / 3 part.
-Master male states once when using gland hipofisa 1 dose, when using ovaprim 0.15 cc / kg and performed simultaneously with the injection of both the female parent.
-Both parent fish after the states included in the spawning tanks equipped with a hapa, six hours after the injection of the first checked the readiness ovu / as / hya once every one hour.
-Fish will usually memijah was characterized by mutual kejac, big belly and soft, yellow liquid out of the hole or holes sex of the reddish color and slightly swell out.
-Once the signs are visible, male and female master appointed to the striping is done with the stomach to trace the hole sex. The eggs were in the container / plastic tray and at the same time the male parent disthping and spermanya put in another container and then diluted with physiological lamtan (NaCI 0.9%) or liquids Doofus Sodium Klonda.
- sperm that has been diluted to include in the container of eggs in slowly, and stirred by using a quill. Add water and aduklah evenly so that fertilization can take place with both. To wash eggs from the blood and dirt, and the remaining sperm, add more water and the water is removed. Make some time to clean, clean after the eggs moved into a larger container, and contains water and given Aeration, leave for more than sa.tu hours to inflate the maximum.

b. Induced spawning
- spawning the "induced spawning" apply the same as the spawning induced breeding, only after the parent male and female states, is inserted into the vessel and left until spawning occurs naturally spawning.
-After memijah the parent male and female, were excluded from spawning tanks and fertilized eggs that have been put in the container that contains water and diaerasi and left to expand the maximum.

C. Hatching Egg
Hatching done in berdiameter in hapa funnel 40 cm and 40 cm high with a stream of water from below as Aeration and water to play. The density of the separation of eggs 10,000 eggs / chimney. The eggs will hatch within ± 24 hours at a temperature 26 ° C.
In addition to the hapa funnel, the hatchery can also be done at the aquarium (40 X 60 X 40) cm equipped Aeration. The density of the separation of eggs 5,000 eggs / aquarium temperature in the 27's 29 ° C, the eggs will hatch within ± 20 hours.

D. Maintenance flyblow
After the hatch flyblow kept on the same shaft, but the eggs hatch, which is not removed first. The duration of maintenance in the shaft four days. When ditetaskan eggs in the aquarium, after the hatch flyblow aquarium can be kept in the same but the eggs do not hatch and% of the water must first be removed and filled with new water. Flyblow the age of four days have been given feed natural form nauplii Artemia, Brachionus or Moina. Flyblow maintenance for 10 days for maintenance and water must be replaced every day as much as 2 / 3 part.

E. Separating a. The first
-Preparing the pond done a week before researching flyblow which includes drying, repair, constructed, the processing of the land base and making kemalir. Swimming is the widespread use 500's 1,000 m2.
-Swimming and dikapur with calcium oxide. Dose management's 50 / 100 gr/m2, how calcium oxide first and then be distributed equally to all constructed and the pond.
-fertilization by using chicken dung. 500 doses of fertilizers's 700 gr / m, and then filled with water as high as 40 cm and 3 days after swimming organophosphat accomplished using the 4 ppm.
-The 4's 6 days after spraying the seeds of Grass Carp can be spread, preferably in the morning. The density of the separation 300 d 400 ekor/m2.
-Maintenance in the pool during the first 21 days. Additional feed given each day Pellet fine form as much as 75 gr/1.000 tail flyblow with the frequency of feeding 3 times per day.

b. Separating the two
-Preparing the pond on the second done the same as in the first.
-The density of the separation flyblow 50 s / 100 ekor/m2. Flyblow every day given the form of additional Pellet feed as many as 10% of the biomass with the frequency of feeding 3 times per day.
- duration of maintenance on the second for 28 days.


IV. DISEASES
Disease that often attacks the seeds of Grass Carp are parasites, namely: Tfichodina, Gyrodactylus, Glosatella, Scypidia, Chillodonella, which usually attacks the body's surface and gills. How to cope with 25 ppm of formalin.

PEMBENIHAN IKAN GRASS CARP

PEMBENIHAN IKAN GRASS CARP
(Ctenopharyngodon idella)

I. PENDAHULUAN
Grass Carp (Ctenopharyngodon idella) berasal dari China bagian timur dan USSR didatangkan ke Indonesia pada tahun 1915 di Sumatera dan pada tahun 1949 didatangkan ke Jawa dengan tujuan untuk dibudidayakan.
Ikan Grass Carp atau dikenal juga dengan nama ikan Koan merupakan ikan herbivora yang hidup di air tawar. Ikan jenis ini pemakan tumbuhan air seperti Hydrilla sp, Salvinia, rumput-rumputan dan tumbuhan air lainnya, sehingga jenis ini dapat dipakai sebagai ikan pengendali gulma air baik di kolam maupun di perairan umum.

II. BIOLOGI
-Secara sistematis ikan Grass Carp termasuk dalam kelas Osteichthyes, ordo Cypriniformes, famili Cyprinidae.
-Ikan Grass Carp dapat mencapai ukuran maksimal : panjang 120 cm dan bobot tubuh 20 kg.
-Ciri-ciri fisik ikan ini adalah warna abu-abu gelap kekuningan dengan campuran perak kemilau, badan memanjang, kepala lebar dengan moncong bulai pendek, gigi paringeal dalam deretan ganda dengan bentuk seperti sisir.
-Induk Grass Carp sudah dapat memijah pada umur 3 s/d 4 tahun dengan berat betina mencapai 3 kg dan jantan 2 kg, pemijahan biasanya terjadi pada musim penghujan.

III. PEMBENIHAN
A. Pemeliharaan Induk
Induk-induk dipelihara di kolam dengan kepadatan 0,2 s/d 0,3 kg/m2 setiap hari selain diberi pakan tumbuhan air atau rumput-rumputan juga diberi pakan buatan berupa pellet sebanyak 3% dari berat total populasi dengan frekuensi pemberian sebanyak tiga kali per hari.
Tanda tanda induk matang gonad :
-Betina : Perut bagian bawah membesar bila ditekan terasa lembek, lubang kelamin kemerahan dan agak menyembul keluar serta gerakan relatif lamban.
-Jantan : Dibandingkan dengan betina sirip dada bagian atas lebih kasar dan bila bagian perut diurut ke arah lubang kelamin akan keluar cairan berwarna putih.

B. Pemijahan
Cara pemijahan. ikan Grass Carp dapat dilakukan dengan beberapa cara diantaranya :
a. Induced breeding
-Pemijahan secara "induced breeding" yaitu dengan menyuntikan hormon perangsang yang berasal dari kelenjar hipofisa ikan donor atau menggunakan ovaprim.
-Induk betina disuntik dua kali dengan selang waktu 4 s/d 6 jam, apabila menggunakan kelenjar hipofisa 2 dosis tetapi bila menggunakan ovaprim dengan dosis 0,5 ml/kg. Penyuntikan pertama 1/3 bagian dan penyuntikan kedua 2/3 bagian.
-Induk jantan disuntik sekali bila menggunakan kelenjar hipofisa 1 dosis, bila menggunakan ovaprim 0,15 cc/kg dan dilakukan bersamaan dengan penyuntikan kedua pada induk betina.
-Kedua induk ikan setelah disuntik dimasukkan ke dalam bak pemijahan yang dilengkapi dengan hapa, enam jam setelah penyuntikan pertama diperiksa kesiapan ovu/as/hya setiap satu jam sekali.
-Ikan yang akan memijah biasanya dicirikan dengan saling kejac, perut besar dan lunak, keluar cairan kuning dari lubang kelamin atau lubang kelaminnya berwarna kemerah-merahan dan agak menyembul keluar.
-Setelah tanda-tanda tersebut terlihat, induk jantan dan betina diangkat untuk dilakukan striping yaitu dengan mengurut bagian perut ke arah lubang kelamin. Telurnya ditampung dalam wadah/baki plastik dan pada saat bersamaan induk jantan disthping dan spermanya ditampung dalam wadah yang lain kemudian diencerkan dengan lamtan fisiologis (NaCI 0,9%) atau cairan infus Sodium Klonda.
-Sperma yang telah diencerkan dimasukkan ke dalam wadah telur secara perlahan-lahan serta diaduk dengan menggunakan bulu ayam. Tambahkan air bersih dan aduklah secara merata sehingga pembuahan dapat berlangsung dengan baik. Untuk mencuci telur dari darah dan kotoran serta sisa sperma, tambahkan lagi air bersih kemudian airnya dibuang. Lakukan beberapa kali sampai bersih, setelah bersih telur dipindahkan ke dalam wadah yang lebih besar dan berisi air serta diberi aerasi, biarkan selama kurang lebih sa.tu jam sampai mengembang secara maksimal.

b. Induced spawning
-Pemijahan secara "induced spawning" perlakuannya sama seperti pada pemijahan induced breeding, hanya setelah induk jantan dan betina disuntik, dimasukkan ke dalam bak pemijahan dan dibiarkan sampai terjadi pemijahan secara alami.
-Setelah memijah maka induk jantan dan betina dikeluarkan dari bak pemijahan dan telur yang sudah dibuahi ditampung dalam wadah yang berisi air serta diaerasi dan dibiarkan sampai mengembang secara maksimal.

C. Penetasan Telur
Penetasan dilakukan di dalam hapa corong berdiameter 40 cm dan tinggi 40 cm dengan mengalirkan air dari bawah sebagai aerasi dan untuk memutar air. Padat penebaran telur 10.000 butir/corong. Telur akan menetas dalam waktu ± 24 jam pada suhu 26 ° C.
Selain di dalam hapa corong, penetasan juga dapat dilakukan di akuarium (40 X 60 X 40) cm yang dilengkapi aerasi. Padat penebaran telur 5.000 butir/akuarium pada suhu 27 s/d 29° C, telur akan menetas dalam waktu ± 20 jam.

D. Pemeliharaan Larva
Setelah menetas larva dipelihara pada corong yang sama, namun sebelumnya telur-telur yang tidak menetas dibuang dahulu. Lama pemeliharaan dalam corong empat hari. Apabila telur ditetaskan di dalam akuarium, setelah menetas larva bisa dipelihara pada akuarium yang sama namun sebelumnya telur yang tidak menetas dan % bagian airnya dibuang terlebih dahulu dan diisi dengan air yang baru. Larva yang sudah berumur empat hari diberi pakan alami berupa nauplii Artemia, Brachionus atau Moina. Pemeliharaan larva selama 10 hari dan selama pemeliharaan air harus diganti setiap hari sebanyak 2/3 bagian.

E. Pendederan a. Pendederan pertama
-Persiapan kolam pendederan dilakukan seminggu sebelum penebaran larva yang meliputi : pengeringan, perbaikan, pematang, pengolahan tanah dasar dan pembuatan kemalir. Kolam yang digunakan luasnya 500 s/d 1.000 m2.
-Kolam kemudian dikapur dengan kapur tohor. Dosis pengapuran 50 s/d 100 gr/m2, caranya kapur tohor dilarutkan terlebih dahulu kemudian disebarkan secara merata ke seluruh pematang dan dasar kolam.
-Pemupukan dengan menggunakan kotoran ayam. Dosis pemupukan 500 s/d 700 gr/m , kemudian diisi air setinggi 40 cm dan setelah 3 hari kolam disemprot menggunakan organophosphat 4 ppm.
-Selang 4 s/d 6 hari setelah penyemprotan benih Grass Carp sudah dapat ditebar, sebaiknya pada pagi hari. Padat penebaran 300 s/d 400 ekor/m2.
-Pemeliharaan di kolam pendederan pertama selama 21 hari. Pakan tambahan diberikan setiap hari berupa pellet halus sebanyak 75 gr/1.000 ekor larva dengan frekuensi pemberian pakan 3 kali per hari.

b. Pendederan kedua
-Persiapan kolam pada pendederan kedua dilakukan sama seperti pada pendederan pertama.
-Padat penebaran larva 50 s/d 100 ekor/m2. Larva setiap hari diberi pakan tambahan berupa pellet sebanyak 10% dari biomass dengan frekuensi pemberian pakan 3 kali per hari.
-Lama pemeliharaan pada pendederan kedua selama 28 hari.


IV. PENYAKIT
Penyakit yang sering menyerang benih Grass Carp adalah parasit, yaitu : Tfichodina, Gyrodactylus, Glosatella, Scypidia, Chillodonella, yang biasanya menyerang bagian permukaan tubuh dan insang. Cara mengatasinya dengan pemberian formalin 25 ppm.

Rabu, 05 November 2008

Anak Arwana Silver


Anak Arwana Silver yang sudah mulai habis kandungan kuning telurnya.

Anak ikan arwana ini dipelihara di dalam akuarium setelah dipisahkan dengan induknya pada kolam pemijahan. Anak arwana iniperlu diisahkan untuk menghidari / mengurangi kematian yang tinggi dan untuk menghindari dari serangan predator yang akan memasangnya.

Anak arwana ini perlu dijaga agar bias tumbuh dewasa. Bila anak arwana ini sudah habis kuning telurnya maka perlu diberi pakan. Arwana bersifat karnivora yaitu pemakan daging maka dengan itu arwana ini cocok diberi pakan seperti ikan-ikan kecil, udang kecil. Arwana lebih menyukai pakan hidup dari pakan yang sudah mati. Alasannya karena pakan hidup akan lebih segar.

Dalam pemeliharaan anak Arwana ini perlu diperhatikan parameter kualitas airnya. Pada umumnya parameter kualitas air untuk arwana hamper sama dengan parameter kualitas air untuk ikan lainnya.