Selasa, 07 April 2009

3 Easy Ways to Treat Body Acne!

3 Easy Ways to Treat Body Acne!

by: Venkata Ramana
Are you suffering from Body acne? or Zits below the neckline? Don't worry. You are not alone! Lot's of teen get body acne. It is common in the winter months, when you are wearing piles of heavy clothing.

Sweat can clog skin pores and lead to breakouts all over. Other things that can cause body acne are tight fitting clothing ( It traps sweat against the skin, leading to clogged pores and blemishes) stress and hormones. Body acne commonly pops up on the chest and back.

Ø To zap body acne and prevent it from coming back, you can wash your body daily with a salicylic acid based cleanser. Look for this ingredient on product labels.

Ø Shower daily and be sure to shower as soon as possible anytime you have been sweating - such as after playing sports, working outside or just being in the sun. After your shower, you can follow up by a body moisturizer that contains Alfa Hydroxy acid. This will exfoliate skin and help prevent breakouts, without drying skin out.

Ø At Nighttime you can treat body acne just like facial acne, by applying an acne zapping gel or cream at the effected parts.

Ø If your body acne is particularly bad and wont respond to this treatment after about a month, you will probably need to see a dermatologist.

ABOUT THE AUTHOR
Venkata Ramana is a Fitness Enthusiast and a Professional Body Builder. Visit his http://www.awacne.com/ and http://www.awdepression.com/ websites and gain maximum Information to stay fit and healthy.

3 Essential Tools for Starting and Maintaining a Small Business

3 Essential Tools for Starting and Maintaining a Small Business

by: Ryan Hough
We believe that there are 3 factors that drive the success of small businesses.


1) Acquiring start-up capital
2) Finding customers
3) Accounting for, budgeting and controlling sales and expenses



The following resources will help your small business achieve these success factors.

Acquiring Start-Up Capital


An adequate supply of capital is essential as many profitable businesses fail because they don’t have enough cash to pay their employees and suppliers. But what is an adequate supply of capital? The only way to tell is by doing a significant amount of research on your potential market and formally documenting this in a business plan. I’m sure you know that a business plan is a very important document that is crucial to convincing your banker to lend you money.


There are two ways to obtain a business plan.


1) Do it yourself by amending a business plan template, or
2) Hire a professional to do it for you.


Obviously obtain 1) will be a great deal cheaper.


Our research led to a website that has over 60 high quality and free business plan templates. We also found a directory that you can use to easily find a business plan writer in your city – where ever you live in the world.


Finding Customers


Finding customers is a difficult and expensive task for service business owners such as accountants, lawyers and plumbers. We believe that a cost effective marketing strategy for service business owners is to simply give all their personal contacts a few business cards.


Our research led to a few websites that have pre-designed business card templates. We felt that the diversity and quality of these designs was outstanding. In addition, we found that you can obtain a significant saving by finding a printing service on the Internet. We found that you could get 2,000 full color business cards for as little as US $150.


Accounting For, Budgeting and Controlling Revenue and Expenses


Accurate accounting is very important for small business owners. It’s essential that you have timely access to information that could make or break your business. If stocks are running low – you need to know about it. If a large proportion of your debtors haven’t paid – you need to know about it. If you do not react to these situations quickly you may have a situation where you don’t have enough money to pay your employees – or worse still someone is stealing cash out the till.


Our research led to a website that compares and reviews top accounting software for small businesses. The cheapest software cost US $89.99 and the most expensive software cost US $1,499. It was interesting to note that the top 3 ranked websites were not the most expensive and cost between US $250 - US $300.


Hopefully you now have an idea of some of the tools that you can use to grow and maintain your small business. If you would like to benefit from our research please visit our website. We do not charge for this research and offer the content freely on our website.


About the author:
http://www.best-quality-small-business-resources.com/

Ryan Hough is the webmaster of best quality small business resources.com, who's aim is to help you save time and money by finding reviews and case studies that will enable you to choose the best resources at the right price.



Circulated by Article Emporium

Minggu, 05 April 2009

Kerapu Bebek : protogony hermaphrodite


Kerapu Bebek

Sewaktu masih berukuran benih, kerapu tikus merupakan ikan hias dengan nama panther-fish. Setelah besar, ikan ini menjadi ikan konsumsi yang bergengsi sehingga mahal. harganya. Selain Indonesia, banyak negara tetangga yang sudah mengembangkan budi daya kerapu bebek dan berpotensi menjadi pesaing, yaitu Thailand, Filipina, Vietnam, Taiwan, dan Australia. Di Thailand penggunaan benih sebagian besar dari hasil tangkapan di alam. Produksi budi daya kerapu bebek umumnya di ekspor ke Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Hongkong.


A. Sistematika

Famili : Serranidae
Spesies : Chromileptes altivelis
Nama dagang: humpback grouper, mero, jorobado, mero bassu, baramundi cod, sarasa hata, polka dot grouper, lo su pan
Nama lokal : kerapu tikus



B. Ciri-ciri dan Aspek Biologi

1. Ciri fisik
Badan kerapu bebek pipih dengan bentuk kepala bagian atas cekung. Tubuh agak pucat berwarna cokelat kehijauan dan terdapat bintik-bintik hitam bulat pada sekujur tubuhnya. Ujung semua sirip, berbentuk bundar/busur.


2. pertumbuhan dan perkembangan

pertumbuhan kerapu bebek sangat lambat dibanding dengan jenis kerapu lainnya. laju pertumbuhan kerapu bebek yang diberi pakan ikan rucah tumbuh dari bobot awal 13 g menjadi 51 g dalam waktu 9o hari, sedangkan ikan yang diberi pelet tumbuh dari bobot awal 14 g menjadi 52 g dalam waktu yang sama. panjang total maksimum yang pernah tercatat adalah 70 cm.


Kedewasaan pertama terjadi setelah mencapai ukuran
1,5 kg. Ikan ini memiliki sifat protogony hermaphrodite, yaitu berubah kelamin dari betina menjadi jantan. Perubahan tersebut terjadi setelah berukuran di atas 2,5-3,o kg. Seekor induk betina berukuran 3-4 kg dapat menghasilkan 200-30o ribu butir telur setiap kali memijah.


C. Pemilihan Lokasi Budi Daya

Kerapu bebek hidup di wilayah perairan karang yang masih baik maupun yang telah rusak atau agak berlumpur. Ikan ini dapat dipelihara di KJA, di bak, maupun di tambak. Lokasi perairan laut untuk penempatan KJA harus terlindung dari gelombang besar dan tiupan angin kencang, berair jernih, bersih, serta bebas polusi sepanjang tahun. Kedalaman airnya minimal 10 m pada saat air surut.


D. Wadah Budi Daya

KJA terdiri atas rangka yang terbuat dari kayu. Kerangka rakit yang digunakan sebaiknya berukuran 5 m x 5 m dengan ukuran jaring 2 m x 2 m sehingga pada satu unit rakit akan dapat dipasang 4 unit jaring. Mata jaring disesuaikan dengan besar ukuran ikan yang ditebar. Semakin besar ukuran benih, semakin besar mata jaring yang digunakan. Selain itu, harus disediakan jaring pengganti dengan ukuran mata jaring yang berbeda.


Pelampung dan jaring yang berbentuk kelambu terbalik diikatkan pada kerangka kayu. Pelampung tersebut dapat berupa plastic foam maupun drum bekas (drum plastik atau drum besi).



E. Pengelolaan Budidaya

1. penyediaan benih
Benih berukuran panjang 4-10 cm dari hatchery tersedia hampir sepanjang tahun. Benih yang diperlukan dapat diperoleh dari alam atau dari HSRI'atau HL di Gondol, Situbondo, atau Lampung.


2. Penebaran benih
Benih yang ditebar adalah benih yang sehat. Penebaran benih yang terlalu padat bisa menyebabkan pertumbuhan lambat dan kematian tinggi selama pemeliharaan. Kepadatan benih diusahakan kurang dari 2 kg/m3 sebelum berat mencapai 10g. Selanjutnya, kepadatan benih dipertahankan 7 kg/m3.


3. Pendederan
Pendederan dapat dilakukan di dalam bak beton/semen/ fiberglass maupun dalam KJA. Bak beton/fiberglass yang digunakan berbentuk silinder maupun empat persegi panjang. Volumenya beragam antara 4,0-20 m3 dengan ketinggian air 80—100 cm. Bak ini dilengkapi dengan pipa pemasukan dan pipa pembuangan air serta pipa udara (aerator).


usaha pendederan yang menggunakan KJA harus memiliki dua jenis karamba yang berbeda ukuran dan mata jaringnya. jenis pertama berukuran lebih kecil, yaitu 1,0 m x 1,0 m x 1,5 m buat dari waring bermata jaring 4,o mm. Sebulan kemudian ukuran jaring karamba yang digunakan lebih besar, yaitu 2,0 m x 2,0 m x 2,0 m dengan jaring terbuat dari polietilen bermata jaring 0,5 inci.


Padat tebar dalam bak dan KJA pendederan disesuaikan dengan ukuran benih yang ditebar. Benih yang ditebar sedapat mungkin harus seragam ukurannya. Apabila digunakan benih berukuran 3-4 cm, padat tebar yang digunakan sekitar 300-500 ekor/m3 air.


4. Pembesaran
Usaha pembesaran adalah usaha membesarkan ikan dari benih berukuran sekitar 8 cm menjadi ikan konsumsi berukuran 250-500 g/ekor. Usaha ini umumnya dilakukan di dalam KJA di laut.



5. Pemberian pakan
kerapu bebek merupakan ikan karnivora.dan. tanggap terhadap pakan buatan asalkan dilatih terlebih dahulu. Untuk pembesaran jenis ikan kerapu bebek, diperlukan pelet terapung dengan kadar protein 47,5%. Rincian pemberian pakan bisa dilihat pada Tabel 5 dan 6.



jika berasal dari alam, benih yang ditebar dapat diberi pakan berupa ikan rucah. Sementara itu, pakan buatan (pelet) diberikan jika benihnya berasal dari hatchery. Dewasa ini pakan buatan untuk kerapu telah terdapat di pasar sehingga tidak lagi tergantung pada ketersediaan ikan rucah. Pemberian pakan berkisar 2-10% bobot badan ikan saat ditebar masih berukuran <10>10g.


F. Pengendalian Hama dan Penyakit
Di dalam tempat pemeliharaan, seperti KJA, tangki, atau bak jenis ikan ini sering menjadi sasaran berbagai parasit, bakteri, dan virus. Parasit yang paling sering dijumpai adalah Benedenia dan Neobenedenia yang hidup di kulit maupun insang. Serangan parasit ini dapat diatasi dengan cara ikan direndam selama beberapa menit di dalam air tawar. Sementara, itu, jenis bakteri yang sutra menyerang sirip dan kulit kerapu adalah Flexibacter dan Vibrio.


Penyakit bakteri tersebut dapat diatasi dengan pemberian antibiotik, seperti mytetracycline (5o mg) atau oxolinic acid (10-30 mg) per kg bobot badan ikan secara oral. Penyakit lain yang hingga sekarang belum dapat diatasi adalah penyakit yang disebabkan oleh virus VNN dan iridovirus. Golongan penyakit ini sangat merugikan. Oleh karena itu, pemilihan benih yang sehat sebelum ditebar ke dalam karamba sangat penting untuk dilakukan.


G. Panen
Ikan kerapu bebek dapat dipanen setelah mencapai ukuran konsumsi, yaitu 500-600 g/ekor. Adapun waktu yang dibutuhkan untuk mencapai ukuran tersebut sekitar 16-2o bulan untuk kerapu bebek dengan sintasan rata-rata 80%.

sumber : Penebar Swadaya, 2008

Sabtu, 04 April 2009

pemilihan Lokasi pada Budidaya Ikan Laut

Pemilihan Lokasi

Sebagai langkah awal usaha budi daya laut adalah pemilihan lokasi yang tepat. Oleh karena itu, pemilihan dan penentuan lokasi lahan budi daya laut harus didasarkan pertimbangan ekologis, teknis, higienis, sosio-ekonomis, dan ketentuan peraturan/ perundang-undangan yang berlaku. pemilihan lokasi sebaiknya dilakukan dengan mempertimbangkan gabungan beberapa faktor yang; dikaji secara menyeluruh.

Persyaratan teknis
Sesuai dengan sifatnya yang sangat dipengaruhi oleh kondisi perairan, lingkungan bagi kegiatan budi daya laut dalam karamba jaring apung sangat menentukan keberhasilan usaha. pemilihan lokasi yang baik harus mempertimbangkan aspek fisika, kimia, dan biologi perairan yang cocok untuk biota laut. Selain itu, pemilihan lokasi perlu juga mempertimbangkan aspek efisiensi biaya operasional budi daya sehingga harus memperhatikan aspek kemudahan dalam mendapatkan benih, pakan, pemasaran, dan keamanan.


Teluk atau selat kecil yang terlindung dari ombak dan badai, tetapi memiliki pola pergantian massa air yang baik, bebas dari pencemaran, terdapat sumber benih dan pakan, mudah dijangkau dan aman, sangat cocok dijadikan lokasi budi daya laut. Beberapa kriteria kualitas air dan lahan yang optimum untuk budi daya ikan dalam KJA disajikan pada Tabel 1.



2. Persyaratan sosiol-ekonomi

Berikut beberapa aspek sosio-ekonomi yang perlu mendapat perhatian dalam pemilihan dan penentuan lokasi.

a) Keterjangkauan lokasi. Lokasi budi daya yang dipilih sebaiknya adalah lokasi yang mudah dijangkau. Umumnya lokasi budi daya relatif berdekatan dengan rumah tempat tinggal agar lebih mudah dalam pemeliharaan.

b) Tenaga kerja. Tenaga kerja sebaiknya dipilih yang bertempat tinggal berdekatan dengan lokasi budi daya, terutama pembudidaya atau nelayan lokal. Upaya tersebut dilakukan untuk menghemat biaya produksi dan sekaligus membuka peluang atau kesempatan kerja.

c) Sarana dan prasarana. Lokasi budi daya sebaiknya berdekatan dengan sarana dan prasarana perhubungan yang memadai untuk mempermudah dalam pengangkutan bahan, benih, hasil panen, dan pemasarannya.

d) Kondisi masyarakat. Kondisi masyarakat yang lebih kondusif memungkinkan perkembangan usaha budi daya laut di daerah tersebut. Kondisi ini perlu menjadi perhatian dalam pemilihan lokasi budi daya.

persyaratan nonteknis

Persyaratan nonteknis yang perlu mendapat perhatian dalam pemilihan lokasi budi daya adalah sebagai berikut.

a) Keterlindungan. Untuk menghindari kerusakan fisik sarana budi daya dan biota laut, diperlukan lokasi yang terlindung dari pengaruh angin dan gelombang yang besar. Lokasi yang terlindung biasanya didapatkan di perairan teluk atau perairan yang terlindung atau terhalang oleh pulau di depannya.

b) Keamanan lokasi. Masalah pencurian dan sabotase mungkin saja dapat terjadi pada lokasi tertentu sehingga upaya pengamanan, baik secara perorangan maupun kelompok harus dilakukan. Sebaiknya dilakukan upaya pendekatan dan hubungan yang baik dengan masyarakat sekitar lokasi budi daya.


c) Konflik kepentingan. pemilihan lokasi sebaiknya tidak menimbulkan konflik dengan kepentingan lain. Beberapa kegiatan perikanan (penangkapan ikan, pemasangan bubu, dan bagan dan kegiatan nonperikanan (pariwisata, perhubungan laut, industri, dan taman laut,) dapat berpengaruh negatif terhadap aktivitas budi daya laut.

d) Aspek peraturan dan perundang-undangan. Untuk menguatkan keberlanjutan usaha budi daya laut, pemilihan lokasi tidak bertentangan dengan peraturan pemerintah serta mengikuti tata ruang yang telah ditetapkan oleh pemerintah daerah (BAPPEDA serta dinas kelautan dan perikanan setempat).

sumber : Penebar Swadaya, 2008

Jumat, 03 April 2009

Prinsip Budidaya Ikan Laut

Pemilihan Koinoditas

Ada beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan dalam penentuan pilihan biota laut yang akan dibudidayakan, di antaranya aspek permintaan pasar, pasok benih, sediaan teknologi budi daya, sediaan lahan, dan kemungkinan timbulnya dampak negatif terhadap lingkungan. Untuk lebih rincinya, berilukut beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemilihan komoditas budi daya.


1) Sebaiknya mengembangkan spesies asli/lokal daripada spesies introduksi/impor.

2) Memilih spesies yang sesuai dengan permintaan pasar.

3) Diversifikasi spesies budi daya diprioritaskan pada Ikan pemakan plankton dan ikan herbivora jumlahnya lebih banyak dari ikan karnivora.

4) jenis ikan pelagic (ikan permukaan) lebih mudah dibudidayakan dilihat dari penerapan teknologinya dibandingkan ikan demersal (ikan dasar), tetapi perolehan keuntungan perlu dijadikan pertimbangan utama.

5) Ikan yang dapat bernapas bukan hanya dengan insang atau ikan yang mempunyai labirin (air breathing) mudah pemeliharaannya dan tidak memerlukan mutu air yang baik.

6) Ikan yang teknologi pembenihannya sudah maju sehingga pasok benih baik jumlah dan mutu tersedia setiap saat.

7) Seluruh siklus hidup ikan budi daya harus dapat dikontrol dan teknologinya sudah dikuasai.
Banyak jenis biota laut yang sudah bisa dibudidayakan, seperti jenis ikan, crustasea, moluska, echinodermata, dan rumput laut.

Untuk ikan, ada 12 jenis ikan yang mempunyai potensi untuk dikembangkan pembudidayaannya, yaitu kerapu bebek, kerapu macan, kerapu Lumpur, kerapu sunu, kerapu batik, ikan kuwe, hkap putih, kakap merah, baronang, nila merah, bandeng, dan cobia.

Sementara itu, ada dua jenis biota laut dari crustasea, yaitu udang windu dan udang barong, yang termasuk dalam famili Penaeidae dan Panuliraidae. Selain itu, ada tujuh jenis moluska, yaitu tiram daging, tiram mutiara, tiram mabe, kerang hijau, kerang darah, abalon. Biota laut lainnya, yaitu teripang pasir dan rumput laut.

sumber : Penebar Swadaya, 2008

Prospek Bisnis Budidaya Laut

Prospek Bisnis
Budi Daya Laut

Di dalam perairan Indonesia hidup berbagai jenis biota laut. di antaranya yang potensial untuk dibudidayakan karena harga jualnya cukup tinggi dan memililki pertumbuhan yang relatif cepat. Selain itu, kegiatan budi daya laut yang relatif baru kini mulai berkembang. Komoditas yang dibudidayakan meliputi jenis ikan, khususnya ikan kerapu, kakap putih, kakap merah, ikan kuwe, dan bandeng. Selain ikan, dibudidayakan jenis krustasea (udang barong), kekerangan (moluska), jenis Echinodermata (teripang), dan rumput laut.


Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, produksi budi daya secara nasional pada tahun 2006 sebesar 2.682.596 ton, yang terdiri dari produksi budi daya laut 1.365.918 ton, budi daya air payau 629.61o ton, dan budi daya air tawar 687.o69 ton. Komposisi produksi budi daya laut berturut-turut adalah rumput laut, kerapu, kakap, dan teripang.


Kelompok ikan yang mempunyai jumlah produksi tinggi adalah kerapu.
Kerapu merupakan jenis ikan laut yang paling populer dan bernilai ekonomis tinggi di antara jenis ikan karang di kawasan Asia-Pasifik. Permintaan ikan kerapu khususnya dalam kondisi hidup untuk tujuan ekspor, seperti ke Hongkong dan Cina bagian selatan cenderung meningkat setiap tahun. Hal ini telah memicu nelayan untuk melakukan penangkapan ikan ini dengan intensif, baik secara legal maupun ilegal. penangkapan secara ilegal antara lain menggunakan potasium (cyanide) sehingga menyebabl(an kerusakan lingkungan dan penurunan populasi ikan di alam. Untuk mengatasi masalah ini, perlu dikembangkan budi daya ikan laut dengan benih hasil dari hatchery.


Di beberapa wilayah pantai Indonesia ldnonesia kini telah berkembang budi daya ikan kerapu. Awalnya, budi daya ikan ini dimulai dengan penangkapan benih dari alam, lalu ditunjang oleh adanya penyediaan benih dari hatchery. Salah satu kendala yang dihadapi dalam budi daya ikan ini adalah sintasan atau kelangsungan hidup ikan kerapu yang rendah dari ikan laut lainnya, seperti ikan kakap putih.


Penyebab utamanya adalah adanya serangan wabah penyakit dan penguasaan teknik pemeliharaan ikan yang masih rendah. Padahal, serangan penyakit tersebut dapat dikendalikan jika pembudidaya memiliki pengetahuan yang cukup dan teknik yang sesuai untuk pemeliharaan ikan kerapu.


Faktor-faktor yang mempengaruhi budi daya laut memiliki peluang bisnis yang tinggi adalah sebagai berikut.


A. Permintaan Ekspor Hasil Laut yang Tinggi

Produk marikultur utama Indonesia adalah kerapu, kakap, udang barong, tiram mutiara, tiram mabe, teripang, rumput laut, bandeng, dan baronang. Produk marikultur tersebut diperdagangkan di pasar domestik maupun luar negeri diperjualbelikan dalam keadaan hidup, segar, fillet, atau ikan utuh beku maupun dalam bentuk olahan. Produk marikultur yang dipasarkan hidup di pasar domestik, seperti kerapu dan kakap, untuk konsumen terbatas. Harga ikan hidup untuk pasar ikan konsumsi bisa mencapai 3-4 kali lipat harga ikan segar.


Perdagangan ikan dunia menunjukkan bahwa negara di Asia yang merupakan pengimpor utama produk perikanan adalah Cina, Thailand, Taiwan, Malaysia, Hongkong, dan Singapura. sebagian dari produk tersebut oleh negara-negara Singapura, Hongkong, Taiwan dan Thailand di re-ekspor ke negara ketiga baik dalam bentuk asli maupun olahan.


Pangsa pasar biota laut lainnya, misalnya rumput laut, semakin cerah di mancanegara (Hongkong, Korea Selatan, Denmark, Perancis, Inggris, Kanada, Amerika. Serikat, Jepang, serta beberapa negara industri maju lainnya). Peluang pasar dunia yang belum terpenuhi terhadap produksi rumput laut khususnya penghasil karaginan masih tinggi, yakni tahun 2007 sekitar 53-100 ton dan diperldrakan ikan meningkat menjadi 72.510 ton pada tahun 2010. Demikian halnya dengan peluang pasar penghasil bahan baku agar masih relatif tinggi.


B. Teknologi budidaya yang terus berkembang

Jenis ikan laut yang berhasil dalam pembenihan secara massal, diantaranya bandeng, kerapu bebek, kerapu macan, kerapu sunu , kerapu lumpur, kerapu batik, kakap, dan kuwe. Selain jenis ikan, biota taut lainnya juga telah dikuasai teknologi budi dayanya, seperti budi daya rumput laut, kekerangan, teripang, dan krustasea.


Perkembangan budi daya taut dengan menggunakan benih hatchery dimulai sejak keberhasilan pembenihan bandeng yang disusul dengan produksi benih kerapu. Sekarang ini terdapat hatchery bandeng yang terdiri lebih dari 34 buah hatchery lengkap (HL) dan tidak kurang dari 2.000 unit hatchery skala rumah tinggi (HSRT) tersebar di beberapa lokasi, terutama di Bali. HSRT telah mengalami berbagai perubahan skala usaha dengan adanya kelompok usaha bersama.


Selain itu, penambahan secara bertahap unit HSRT menjadi lebih besar. Dengan diperolehnya teknik produksi benih kerapu bebek dan macan, sebagian HSRT ikan bandeng beralih fungsi untuk pembenihan kerapu dengan melakukan perubahan dan atau modifikasi konstruksi. Selanjutnya, disusul species lainnya, seperti kerapu lumpur, kerapu batik, kakap merah, dan kerapu sunu.


Teknologi pembesaran juga telah berkembang di beberapa daerah, utamanya Riau, Lampung, Bali, NTT, Sulawesi Selatan, dan lain-lain. Di samping komoditas lain seperti rumput laut, kerang hijau, tiram mutiara, dan teripang, pembesaran lobster mulai juga berkembang.



C. Budi Daya yang Berkelanjutan

Budi daya laut berkelanjutan mempunyai ciri-ciri efisien dalam penggunaan sumber daya, produktif, dan tidak merusak lingkungan. Akuakultur dengan ciri-ciri seperti itu dapat dicapai melalui penerapan konsep sistem akuakultur berbasis tingkat kesukaan pakan Salah satu caranya dengan penerapan sistem polikultur.


dengan sistem polikultur satu wadah budidaya (KJA) dipelihara berbagai jenis biota air yang memiliki kesukaan pakan yang berbeda-beda. Namun, sifatnya saling menguntungkan (simbiosis). Komposisi biota ditandai dengan dominasi jumlah biota autotroph dan pemakan plankton, disusul biota herbivora (pemakan tumbuhan), omnivora (pemakan bahan dari tumbuhan maupun hewan), dan karnivora (pemakan daging) yang jumlahnya terkecil.


Pengembangan budi daya laut yang ada sekarang ini
masih terfokus pada aspek teknis produksi dan belum banyak memperhatikan nonteknis termasuk tatanan strategic dan politic. Padahal, budi daya laut yang berkelanjutan harus memperhatikan tahapan perencanaan (meliputi tatanan praproduksi), teknik produksi, penanganan hasil, dan pemasaran.

Adapun beberapa faktor penting yang perlu dipertimbangkan untuk budi daya berkelanjutan antara lain:

1) undang-undang perikanan dan peraturan-peraturan
yang mendukung pelaksanaan budi daya perikanan yang
berkelanjutan,

2) berbasis hamparan dan kelompok pembudidaya,

3) pembudidayaan yang bersih dan higienis,

4) memperhatikan legalitas penataan ruang eksternal dan internal kawasan budi daya, serta

5) memperhatikan produk, baik mutu, jumlah, dan kontinuitas.


sumber : Penebar Swadaya, 2008

Kamis, 02 April 2009

Seine Net (Pukat Kantong)

Seine Net (Pukat Kantong)

Di Indonesia Seine Net disebut juga Pukat Kantong, karena jaringnya memiliki kantong dan 2 (dua) buah sayap, yang umumnya memiliki tali yang panjang.

Bentuk Pukat Kantong terdiri dari bagian kanton (cod-end) berbentuk empat persegipanjang, bagian badan bentuknya seperti trapesium memanjang. Pada bagian-bagian tersebut ditautkan tali penguat yang dihubungkan dengan tali ris atas (head rope) dan tali ris bawah (foot rope), dilengkapi dengan pelampung (float) dan pemberat (singker).

Tempat operasi penangkapannya dapat dikelompokkan menjadi Pukat Pantai (beach seine) yang dioperasikan di tepi pantai dan PukatTengah dengan pengoperasiannya agak jauh dari pantai.

sumber : Dinas Perikanan propinsi Jabar, 2008