Selasa, 14 April 2009

Budidaya Kakap Putih


Kakap Putih

Kakap putih termasuk komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Pembudidayaannya di dalam KJA telah mulai berkembang, khususnya di Kabupaten Bengkalis, Kepulauan Riau. Di kabupaten ini budi daya kakap putih di karamba telah dimulai sejak tahun 199o. Budi daya dalam KJA di Provinsi Riau dan Kepulauan Riau mempunyai tujuan pasar luar negeri. Sebagian kecil dari produksi dipasarkan juga di dalam negeri. Untuk pasar luar negeri, kakap putih dalam keadaan hidup khusus dipasarkan ke negara Malaysia, Jepang, Hongkong, dan Singapura.



A. Sistematika: :
Famili : Centropomidae
Spesies : Lates calcarifer
Nama dagang barramundi, seabass
Nama lokal salamata, pelak, petakan, cabek, dubit tekong, kaca - kaca


1). Ciri-ciri dan Aspek Biologi

1. Ciri fisik
Tubuh ikan memanjang dan gepeng. Warna tubuhnya kehitaman pada bagian punggung, sedangkan di bagian perutnya berwarna putih. Pangkal Sirip ekornya melebar. Sirip ekor berbentuk bulat. Sirip punggungnya terdapat 3 jari keras dan 7-8 jari lunak. Mulutnya lebar dengan geligi halus dan tajam. Matanya berwarna merah terang.


2. Pertumbuhan dan perkembangan

Di lingkungan Budi daya, baik di karamba maupun di tambak, ikan kakap, putih tumbuh dengan pesat. Ikan ini mampu mencapai ukuran 600-700 g dari bobot awal sekitar 20 g dengan waktu pemeliharaan selama 6-7 bulan di karamba.


Ikan kakap bersifat protandry hermaphrodite, yaitu tahap awal dalam hidupnya berkelamin jantan. Namun, setelah berukuran besar, ikan akan berubah kelamin menjadi betina. Perubahan kelamin sering terjadi pada induk yang bobotnya antara 2-3 kg.


C. Pemilihan Lokasi Budi Daya

Habitat asli ikan kakap putih adalah lingkungan laut. Ikan pemangsa (predator) ini memiliki toleransi yang tinggi terhadap perubaban tingkat kadar garam lingkungan (eurihalin). Namun, ikan ini dapat pula tumbuh dan hidup di perairan tawar. Oleh karena itu, ikan kakap putih dapat dipelihara, baik di lingkungan air laut, payau maupun tawar. Suhu optimum bagi pertumbuhannya berkisar 27-30 derjat celcius dan pH 7-8.



D. Wadah Budi Daya

Di Bengkalis ukuran karamba yang digunakan adalah 3 m x 3 m x 3 m dengan kedalaman air sekitar 2,0 m. Ada juga karamba berukuran 7 m x 7 m x 3 m. Bahan jaring yang digunakan adalah. polietilen 210 D/15.


E. Pengelolaan Budi Daya

1. Penyediaan benih
Benih siap tebar di tempat pembesaran (KJA) berukuran 5,0-7,5 cm atau bobot 50-70 g/ekor. Benih bisa diperoleh pada hatchery di Jawa, Lampung, Batam, maupun didatangkan dari Thailand dan Malaysia.


2. Penebaran benih

Benih yang ditebar berukuran 5,0-7,5 cm dengan kepadatan 65-8o ekor/m3 atau 40-5o ekor/m3 apabila ukuran benih yang ditebar 8o—1oo g.


3. Pembesaran
Pemeliharaan di karamba jaring apung berlangsung antara 7—10 bulan. Lama pemeliharaan• dapat dipersingkat dengan penggunaan ukuran tebar yang lebih besar. Selama masa pemeliharaan diusahakan agar ikanikan yang dipelihara seragam ukurannya dengan cara disortasi setiap bulan.



F. Pengendalian Hama dan Penyakit
i. Serangan pada kulit dan insang yang disebabkan oleh parasit Ciliata-protozoa, seperti Cryptocaryon spp., Trichodina, dan Trichodinella.


a) Gejala Minis
- Produksi lendir berlebihan pada insang dan permukaan tubuh.
- Ikan menggosok-gosokkan tubuh ke dinding bak atau jaring.
- Nafsu makan berkurang.


b) Pencegahan dan pengobatan

Perendaman ikan dalam air selama 1 jam untuk 3 hari berturut - trut , perendaman dengan formalin 25-30 ppm selama 24 jam, dlan menjaga agar kualitas air tetap baik.


2. Serangan pada kulit dan mata ikan oleh sejenis cacing trematoda dari Benedenia sp, Neobenedenia sp.


a) Gejala klinis
- Kehilangan nafsu makan.
- Berenang tidak normal.
- Luka pada kulit.
- Produksi lendir berlebihan terutama pada kulit, dan sirip geripis.


b) Pencegahan dan pengobatan
- kepadatan tebar harus diperhatikan (lebih rendah),
- pemberian pakan harus cukup memadai,
- perendaman dengan air tawar selama 5-10 menit, 3 hari berturut-turut
- perendaman dalam formalin 100 ppm selama i jam tiga hari berturut-turut



3. Serangan krustasea renik (Caligus sp., Ergasilus spp.)
a) Gejala klinis
- Sisik lepas.
- Nafsu makan berkurang.
- Tubuh kurus.
- Berenang tidak normal.

b) Pencegahan dan pengobatan
- perendaman dengan Neguvon 0,25 ppm selama 12-24 jam dilakukan setiap minggu.
- perendaman dengan Diptrex 0,25-0,50 ppm selama 24 jam.
- Pengendalian mekanis dengan cara pengambilan langsung dari tubuh ikan.


4. Lymphocystis virus yang disebabkan iridovirus

a) Gejala klinis
Penyakit ini biasanya tidak bersifat fatal, terutama pada ikan-ikan yang sudah berukuran besar. Penyakit ditularkan secara horizontal melalui air yang terkontaminasi Arus.

b) Pencegahan infeksi virus
Pencegahan penularan penyakit secara vertikal (dari induk), pencegahan penularan horizontal (selama masa pemeliharaan berlangsung) dan peningkatan daya tahan tubuh.

G. Panen
Ikan dapat dipanen setelah berukuran 6o0-700 g dengan waktu pemeliharaan 7-1 o bulan. Sistem panennya secara total. Adapun cara panennya seperti panen ikan di KJA.
sumber : Penebar Swadaya, 2008

Senin, 13 April 2009

Budidaya Ikan Kuwe


Ikan Kuwe

Kuwe merupakan salah satu jenis ikan permukam (pelagis). Ikan yang sangat digemari oleh masyarakat ini hidup pada perairan pantai dangkal, karang, dan batu karang. Di beberapa restoran sea food harga ikan kuwe berukuran 300-400 g berkisar Rp 15.o00 - Rp 20.000/ekor (2005). Adapun harga Gnathanodon speciosus saat berukuran kecil (3-5 cm) pada tahun 2007 adalah Rp 3.000 - Rp 5.000 per ekor. Ikan tersebut juga merupakan ikan hias yang diberi nama pidana kuning.


A. Sistematika
Famili : Carangidae
Spesies : Gnathanodon speciosus, Caranx melampygus, Carangoides uii, C. chrysophrys, C. talamparoides
Nama dagang : trevally
Nama lokal : bubara, kuwe macan (G. speciosus)


B. Ciri-ciri dan Aspek Biologi

1. Ciri fisik
Tubuh kuwe berbentuk oval dan pipih. Warna tubulmya bervariasi, yaitu biru bagian atas dan perak hingga keputih-putihan di bagian bawah. Tubuh ditutupi sisik halus berbentuk cycloid.

2. Pertumbuhan dan perkembangan
Kuwe dapat berenang cepat dan memiliki laju pertumbuban yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis ikan laut lainnya. Ikan ini bersifat karnivora. Adapun pakan utamanya, yaitu ikan dan crustasea berukuran kecil. Ikan ini juga efisien memanfaatkan pakan serta mampu hidup dalam kondisi yang cukup padat.


C. Pemilihan Lokasi Budidaya
Lokasi yang tepat untuk budi daya ikan kuwe adalah teluk yang terlindung dari ombak dan badai dan memiliki pola pergantian massa air yang baik.


D. Wadah Budi Daya
Ikan kuwe mempunyai prospek yang cukup baik untuk
dibudidayakan dalam karamba jaring apung. Salah satu keunggulan budi daya ikan dalam KJA adalah waktu panen dapat diatur menyesuaikan harga ikan di pasar sehingga akan diperoleh harga jual yang lebih tinggi.


E. Pengelolaan Budi Daya

1. Pengadaan benih
Pembenihan secara massal di hatchery telah berhasil dilakukan di Gondol, Bali. Namun, hingga kini sumber benih ikan kuwe di daerah terpencil masih dari alam. Benih dengan ukuran sekitar 20-25 g banyak tersebar pada perairan dangkal di sekitar daerah padang lamun. Benih tersebut dapat ditangkap dengan penggunaan alat tangkap, seperti redi (pukat pantai), sero, bandrong jaring angkat), dan bagan.


2. Penebaran benih
Penebaran ikan sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari. Benih dimasukkan ke dalam karamba secara perlahan-lahan. Sebelum penebaran, kondisi kualitas air harus diperhatikan. Apabila kualitas air pengangkutan berbeda dengan kualitas air lokasi budi daya, perlu dilakukan adaptasi secara perlahan-lahan, terutama terhadap salinitas dan suhu.

Benih berukuran 20-25 g dapat ditebar dengan kepadatan sekitar 15o ekor/m3 untuk pemeliharaan selama 3 bulan. Apabila ikan telah mencapai bobot >250 g/ekor, padat penebaran harus dikurangi sampai 100 ekor/m3.


3. pemberian pakan

Ikan kuwe bersifat karnivora. Ikan ini di alam memakan ikan dan krustasea kecil. Oleh karena itu, hingga saat ini pakan yang terbaik untuk budi daya ikan kuwe masih berupa ikan rucah yang dipotong-potong sesuai dengan ukuran bukaan mulutnya.

pakan diberikan sekitar 8-6% bobot badan per hari pada pagi dan sore hari. Perubahan jumlah pemberian pakan dilakukan setiap bulan setelah dilakukan pengukuran pertumbuhan. Adapun penggunaan pelet komersial juga bisa dilakukan. Pelet yang diberikan berupa pelet tenggelam dengan frekuensi pemberian pelet dua kali sehari dengan jumlah pemberian hingga kenyang.


F. Pengenddian Hama dan Penyaldt
Selama pemeliharaan ikan sering ditemukan parasit eksternal yang umum pada ikan budi daya laut, yaitu kutu kulit. Ada dua jenis kutu kulit yang ditemukan, yaitu Neobenedenia dan Benedenia. Jenis yang disebut pertama bersifat lebih patogen dibandingkan jenis kedua.

Neobenedenia tidak hanya menyerang permukaan tubuh, tetapi juga mata yang dapat menyebabkan kebutaan dengan infeksi sekunder oleh bakteri.

Upaya pencegahan dan pengobatan penyakit tersebut adalah sebagai berikut.
- pemberian pakan harus cukup memadai dan tidak berlebihan.
- Kepadatan tebar tidak terlalu tinggi.
- Perendaman dengan air tawar selama 5—10 menit, tiga hari berturut-turut.
- Perendaman dengan hydrogen peroxida 150 ppm selama 30 menit dilakukan sebanyak 2-3 kali dengan interval waktu 7 hari.


G. Panen
Setelah pemeliharaan selama 5-6 bulan, ikan kuwe dapat dipanen dengan ukuran konsumsi (300-400 g). Dengan kelangsungan hidup 70-95%, dapat dihasilkan ikan rata-rata 28 kg/m3. Pemanenan ikan dalam KJA sangat mudah dilakukan. Sistem pemanenan dapat dilakukan secara total atau selektif tergantung kebutuhan.

Minggu, 12 April 2009

Budidaya Kerapu Batik

http://hobiikan.netne.net/
Kerapu Batik

Sebagaimana halnya dengan jenis kerapu lainnya, kerapu batik merupakan jenis ikan karang bernilai ekonomis tinggi. Banyak terdapat di daerah perairan kepulauan, khususnya di wilayah perairan atol. Karena harganya yang tinggi, minat untuk membudidayakannya pun sangat besar.


A. Sistematika
Famili : Serranidae
Spesies: Epinephelus microdon
Nama dagang : small tooth rock-cod, camouflage grouper, marble grouper
Nama lokal :-


B. Ciri-ciri dan Aspek Biologi

1. Ciri fisik

Bagian atas kepala cembung. Kepala, badan, dan sirip berwarna cokelat pucat dan tertutup bintik-bintik berwarna cokelat gelap. Pada kepala dan badan terdapat bercak berwarna hitam tumpang tindih dengan bintik-bintik hitam tersebut.
Pada bagian pangkal ekor tampak jelas sebuah bercak hitam. Terdapat banyak bintik-bintik putih pada sirip dan beberapa di bagian kepala dan badan. Ujung sirip ekor membulat berbentuk busur.


2. Pertumbuhan dan perkembangan

Ukuran terbesar yang pernah dilaporkan 61 cm panjang standar dan bobotnya 4,o kg. Ikan kerapu batik betina mencapai matang kelamin pada ukuran ukuran bobot antara 0,5-1,8 kg dan panjang total antara 32,0-43,0 cm. Jantannya matang gonad pada ukuran bobot lebih dari 1,9 kg dan panjang total 44 cm.


C. Pemilihan Lokasi Budi Daya

Habitat asli ikan kerapu batik adalah perairan karang. Namun, jenis kerapu yang satu ini memiliki toleransi yang besar terhadap kekeruhan dan salinitas.


D. Wadah Budi Daya
Pembesaran ikan kerapu batik dapat dilakukan di karamba jaring apung, seperti halnya jenis ikan kerapu lainnya. Ukuran rakit dan karamba yang digunakan disesuaikan dengan kebutuhan target produksi dan ukuran ikan yang akan dibudidayakan. Adapun kerangka rakit yang digunakan sebaiknya berukuran 5 m x 5 m dengan ukuran jaring 2 m x 2 m.


E. Pengelolaan Budi Daya.

Pembenihan ikan kerapu batik sudah bisa dilakukan di hatchery. Adapun pembesarannya di KJA belum berkembang. Namun demikian, pemeliharaan jenis ikan ini disarankan untuk menggunakan teknik pembesaran jenis kerapu lain yang kini sudah diterapkan masyarakat.


F. Pengendalian Hama dan Penyaldt
Penyakit yang telah diketahui menyerang pada budi daya ikan kerapu batik adalah virus, seperti infeksi oleh viral nervous necrosis (VNN) dan iridovirus. Hingga saat ini, belum ada cara pengobatan untuk penyakit ini.

Untuk pencegahan penyakit ini, perlu dilakukan upaya secara berkesinambungan. Ikan Harus dihindarkan dari stres dan dipertahankan agar selalu dalam kodisi sehat. Untuk tujuan itu, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut.

1) Siapkan fasilitas di lokasi pembudidayaan.
2) Pilihlah benih yang sehat.
3) Berikan pakan yang berkualitas.
4) Kontrol penyakit (parasit dan bakteri).


G. Panen
Kerapu batik dapat dipanen setelah berukuran 5o0-60o g/ ekor. Umumnya ukuran tersebut diperoleh setelah pemeliharaan 6-8 bulan. Sistem pemanenan dapat dilakukan secara total atau selektif tergantung kebutuhan. Adapun cara panennya sama seperti panen ikan di KJA.

sumber : Penebar Swadaya, 2008

Sabtu, 11 April 2009

Kerapu Sunu


Kerapu Sunu

Kerapu sunu merupakan komoditas ekspor yang harganya cukup tinggi. Dua jenis kerapu sunu yang berharga tinggi dan terdapat di Indonesia yaitu P. leopardus (leopard corraltrout) dan P. maculatus (barred cheek corral trout). Harga jenis leopardus hidup dilaporkan mencapai sekitar US$ 3o/kg pada tahun 20o6.


Kerapu sunu merupakan ikan konsumsi laut yang mempunyai prospek pengembangan yang cukup cerah karena teknologi pembenihan massalnya telah dikuasai. Permintaan pasarnya dalam keadaan hidup sangat tinggi, baik di dalam maupun di luar negeri.


A. Sistematika
Famili : Serranidae
Spesies : Plectropomus leopardus, P. maculatus
Nama dagang : spotted coralgrouper, spotted coraltrout, viele saintsilac, mero con pintas, mero de coral, coral cod, jin hou, sai sing
Nama lokal ; kerapu tiara


B. Ciri-ciri dan Aspek Biologi

1. Ciri fisik
Badan ikan memanjang tegap. Kepala, badan, dan bagian tengah dari sirip berwarna abu-abu kehijau-hijauan, cokelat, merah, atau jingga kemerahan dengan bintik-bintik biru yang berwarna gelap pada pinggirnya. Bintik-bintik pada kepala dan bagian depan badan sebesar diameter bola matanya atau lebih besar. Pada jenis kerapu sunu lodi kasar umumnya bintik-bintik biru di badan berbentuk lonjong. Sebaliknya, pada kerapu sunu lodi halus bintik-bintik ini berbentuk bulat dan lebih kecil ukurannya bintik-bintik yang ada di bagian belakang badan berbentuk bukat dan berukuran kecil.


Sementara itu, bagian bawah kepala dan badan tidak terdapat bintik-bintik biru. Namun, ada satu bintik biru pada pangkal sirip dada.

Bentuk ujung sirip ekor ikan kerapu sunu rata. Ujung sirip tersebut terdapat garis putih. Adapun pada sirip punggung ikan terdapat duri sebanyak 7-8 buah.



2. Pertumbuhan dan perkembangan

Laju pertumbuhan kerapu sunu bervariasi menurut kelas umurnya. Awal kehidupannya, laju pertumbuhan kerapu sunu berlangsung cepat, yaitu o,81 mm/hari dalam waktu 6 bulan sudah mencapai ukuran panjang total 14 cm.


Pada stadia larva, ikan ini termasuk jasad pemakan plankton. Adapun perubahan sifat menjadi karnivora dan predator terjadi sejak mencapai stadia juwana. Menjelang dewasa, ikan ini tergolong jenis ikan predator yang memangsa ikan-ikan keeil, udang, dan cumi-cumi.
Ikan ini termasuk hermaprhodite protogynous. Artinya, awal masa hidupnya secara seksual berstatus ikan betina, kemudian berubah menjadi jantan setelah mencapai ukuran tertentu. Perubahan kelamin terjadi pada saat panjang total ikan berukuran antara 23-62 cm atau panjang total rata-rata 42 cm.



C. Pemilihan Lokasi Budi Daya

Lokasi atau lahan yang cocok untuk kerapu sunu, di antaranya salinitas airnya 30-35 ppt dan bersuhu 27-32 derajat celcius. Adapun syarat lainnya seperti tercantum pada Tabel 1. Ikan kerapu sunu juga hidup di terumbu karang pada kedalaman 5-50 M.


D. Wadah Budi Daya
Tehnik pembesaran yang sudah diterapkan masyarakat adalah pembesaran di dalam KJA berukuran 4 m x 4 m x 3 m. KJA tersebut dipasang mencuat sekitar 0,5 m di atas permukaan air.


E. Pengelolaan Budi Daya

1. Penyediaan benih
Pembelian benih ikan sebaiknya berukuran lebih dari 12 cm dan dilakukan seleksi. Namun, biasanya harga benih akan lebih tinggi. Pemilihan benih yang benar, tepat ukuran, tepat waktu, dan sehat sangat membantu keberhasilan budi daya selanjutnya.

Benih yang sehat dengan pakan yang cukup akan tumbuh normal. Sebaliknya, benih yang tidak sehat, baik sakit maupun deformity (tidak normal), akan mengalami gangguan pertumbuhan meskipipun diberikan pakan yang baik dan cukup. Benih deformity bisa diketahui dengan pengamatan kondisi tubuh, kepala, insang, bentuk tubuh, ekor, dan tulang punggung.



2. Penebaran benih
Padat penebaran sangat tergantung pada ukuran ikan, wadah budi daya, dan bisnis yang sedang dilakukan. Untuk benih berukuran 150-300 g, padat penebarannya sekitar 20-4o ekor/ m3 sehingga akan dihasilkan laju pertumbuhan benih sebesar 2,3 g/hari.


Jika padat penebaran tinggi, akan terjadi persaingan pakan karena ukuran dan vitalitas yang berbeda. Semakin lama pemeliharaan, perbedaan tersebut akan semakin nyata sehingga perlu dilakukan grading untuk memisahkan antara yang besar dan kecil. Jika diperlukan, bisa dibuat tiga kelompok ukuran ikan sehingga masing-masing kelompok lebih seragam. Setiap kelompok dipisahkan pada karamba jaring yang berbeda. Dengan ukuran seragam, pertumbuhan ikan akan lebih normal.


3. Pembesaran

Benih yang digunakan dalam pembesaran di KJA disarankan berukuran lebih dari 12 cm sehingga masa pemeliharaan bisa dipercepat. Benih ukuran tersebut bisa diperoleh dengan cara membeli dari usaha pendederan. Ada juga pembudidaya yang
menggunakan benih berukuran lebih besar dengan bobot antara 50-100 g. Hal ini akan memperpendek waktu pemeliharaan untuk mencapai ukuran panen. Namun, harga benih dengan ukuran tersebut relatif mahal.


Untuk ikan berbobot sekitar 200 g/ekor, dapat dipelihara dalam karamba berukuran 4 m x 4 m x 3 m dengan jumlah sekitar 600 ekor.



4. Pemberian pakan

Selama tiga bulan pertama masa pemeliharaan, ikan diberi pakan berupa ikan rucah, seperti tembang, selar, dan peperek hingga kenyang (satiasi). Tujuh bulan berikutnya pemberian pakan hanya dilakukan satu hari sekali dengan dosis 4-6% bobot badan. Ikan tersebut akan tumbuh pesat dengan bobot awal rata-rata 209 g menjadi rata-rata 455 g selama 3 bulan pemeliharaan. Tingkat mortalitasnya berkisar 30% dengan catatan bahwa benih yang digunakan cukup baik mutunya. Dengan demikian, laju pertumbuhan ikan ini sekitar 2,67 g/hari. Adapun laju pertumbuhan ikan dengan menggunakan pelet untuk ukuran benih 150-300 g adalah 2,30 g/hari.


ikan yang akan diberi pakan buatan pada waktu pembesaran harus sudah dibiasakan diberi pakan buatan sejak benih. Hal ini disebabkan perubahan pakan ikan rucah ke pakan buatan perlu waktu, sedangkan perubahan dari pakan buatan ke pakan ikan rucah lebih respon. Sebagai acuan dosis dan frekuensi pemberian pakan dapat dilihat pada Tabel 8.




F. Pengendalian Hama dan Penyakit

Hama utama dalam pemeliharaan ikan kerapu sunu adalah biawak dan burung. Upaya pengendaliannya adalah dengan cara bagian atas karamba ditutup dengan jaring atau terpal sehingga hama tidak bisa masuk.


Penyakit infeksi bakteri gram negatif merupakan penyakit utama pada kerapu sunu. Gejala akibat serangan penyakit ini, di antaranya ikan tidak mau makan dan lemah, berenang di permukaan, menyendiri, serta adanya luka di permukaan kulit. Penyakit tersebut pada akhirnya dapat menyebabkan kematian.


prinsip pengendalian penyakit ini adalah "deteksi secara dini dan ambil tindakan secara cepat". Teknisi yang sudah terlatih dan berpengalaman sangat membantu dalam penerapan prinsip ini. Pengelolaan usaha budi daya yang baik, terutama persiapan secara baik, juga mendukung terwujudnya prinsip ini.

Penanggulangan penyakit yang dapat dilakukan adalah perendaman ikan yang sakit dengan formalin 1oo ppm selama 1 jam. Cara lainnya adalah ikan yang sakit dipisahkan, lalu direndam







dalam larutan streptomysin 1 g dalam 100 l air laut selama1 jam. adapun pencegahannya dengan mengganti jaring secara teratur dua minggu sekali, melakukan grading ukuran secara konsisten, memandikan ikan dengan air tawar selama 5 menit setiap 2-3 minggu, mengangkat atau memindahkan dengan cepat ikan yang mati atau ikan yang sakit dari jaring karamba.



G. Panen
Kerapu sunu dapat dipanen setelah mencapai ukuran konsumsi, yaitu sekitar 600 g dengan masa pemeliharaan 8—10 bulan. Sistem pemanenannya dapat dilakukan secara total, tergantung kebutuhan. Adapun cara panennya sama seperti paren ikan di KJA.
sumber : PEnebar Swadaya, 2008

Kamis, 09 April 2009

Kerapu Lumpur


Kerapu Lumpur

Jenis ikan ini telah dibudidayakan di daerah Kepulauan Riau dan Sumatera Utara, khususnya Kabupaten/Kota Nias, Tapanuli Tengah, Sibolga, Langkat, Deli Serdang, dan Medan.


A. Sistematika

Famili : Serranidae
Species : Epinephelus coioides
Nama dagang : estuaty, grouper, fah paan, chairomaruhata, chi hou
Nama lokal : kerapu minyak



Ciri-ciri dan Aspek Biologi

Ciri fisik
Epinephelus coioides ada kemiripan dengan jenis kerapu lumpur lainnya, E. tauvina atau
E. suillus, terutama penampakan bintik pada tubuhnya.

Bentuk tubuh memanjang Bagian kepala dan punggung berwarna gelap kehitaman, sedangkan
perut berwarna keputihan. seluruh tubuhnya dipenuhi bintik-bintik kasar berwarna kecokelatan atau kemerahan.


2. Pertumbuhan dan perkembangan
Sebagaimana halnya dengan ikan kerapu lainnya, kerapu
lumpur bersifat protogony hermaphrodite. Artinya, jenis kelamin
ikan berubah sejalan dengan pertumbuhannya. Pada waktu masih
berumur 3 tahun atau kurang, ikan ini berkelamin betina. Namun sesudah berumur lebih dari 4 tahun ikan ini berubah kelamin menjadi jantan tanpa perubahan morfologi yang jelas.


Kedewasaan pertama tercapai pada ukuran 25-3o cm saatberumur 2-3 tahun. Di KJA jenis ikan ini memijah sepanjang tahun dengan puncaknya terjadi pada bulan Juni—Oktober. Seekor betina berukuran 35 cm dapat menghasilkan telur sebanyak 850.000 butir/satu kali memijah, sedangkan ikan yang lebih besar dapat menghasilkan hampir 3 juta butir.


Ikan ini tumbuh cepat. Pertumbuhan ikan kerapu lumpur beragam, tergantung pada bobot awal, mutu, dan jumlah pakan yang digunakan dan kondisi lingkungan. Panjang maksimum yang dapat dicapai sampai 95 cm.



C. Pemilihan Lokasi Budi Daya

Ikan kerapu lumpur hidup di perairan muara sungai dengan kisaran kadar garam 15-30 ppt, suhu air 24-31 derajat celsius, dan kadar oksigen terlarut antara 4,9-9,3 mg/l. Ikan ini juga dapat hidup dan tumbuh di tambak berkadar garam antara. 7,1-31 ppt. KJA yang akan digunakan harus diletakan di lokasi yang tepat, yaitu perairan laut yang terlindung dari arus kuat dan gelombang besar.



D. Wadah Budi Daya

Wadah budi daya yang digunakan adalah karamba jaring apung dan karamba jaring tancap. Adapun ukuran KJA sebaiknya 7 m x 7 m dengan jaring berukuran 3 m x 3 M.


E. Pengelolaan Budi Daya

1. Penyediaan benih
Benih ikan kerapu dapat diperoleh dari alam atau dari hatchery. Di alam, benih ikan kerapu lumpur banyak hidup di perairan sekitar muara sungai yang berdasar lumpur dan ditumbuhi lamun (seagrass). Adapun musim benihnya berbeda pada setiap tempat.

Ukuran benih yang tertangkap bervariasi, mulai dari 2 - 10 cm dengan bobot 5-25 g. Penangkapannya dengan pukat pantai, sudu, pancing, dan bubu. Benih kerapu bisa juga diperoleh di hatchery.


2. Penebaran benih
Waktu penebaran benih sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari. Keseragaman ukuran benih juga perlu diperhatikan
ketika penebaran. Tujuannya untuk mengurangi pemangsaan akibat sifat kanibal. Selain keragaman, kepadatan penebaran benih juga harus diperhatikan. Benih berukuran 5-10 g dapat ditebar dengan kepadatan 75 ekor/m3, sedangkan kepadatan tebar benih berukuran 20-25 g sekitar 5o ekor/m3.


Jika telah berukuran 150-200 g, kepadatannya harus dikurangi menjadi 4o ekor/m3. Adapun jumlah ikan yang ditebarkan saat berukuran 1oo g adalah 400 ekor.
Benih kerapu lumpur. Keseragaman ukuran benih harus diperhalikan saat penebaran




3. Pemberian pakan
Kerapu lumpur termasuk jenis ikan karnivora yang memangsa ikan-ikan keeil, udang, cumi-cumi, rajungan, dan kepiting. Ikan ini dapat dilatih makan pellet berkadar protein tinggi. Namun pada stadia larva, ikan ini merupakan pemakan plankton.

Selama pemeliharaan ikan diberi pakan berupa ikan rucah dengan dosis 8% bobot badan/hari. Selanjutnya, dosis dituttinkan menjadi 5% setelah bobotnya mencapai 300 g/ekor. Jika diberikan pakan buatan, dosisnya relatif lebih keeil dibandingkan dengan penggunaan pakan ikan rucah, yaitu 4-2% bobot badan per hari. pakan tersebut diberikan 2 kali pada pagi dan sore. Perubahan dosis pakan dilakukan setiap bulan setelah dilakukan penimbangan berat. Semakin besar ikan, semakin kecil dosis pakan yang diberikan.



F. Pengendalian Hama dan Penyakit

Gejala terjadinya serangan iridovirus pada induk ikan kerapu lumpur mirip dengan sleepy gouger diseases yang menyerang ikan kerapu di Sumatera Utara tahun 1993. serangan iridovirus memunculkan gejala pembengkakan pada organ limpa dan menyebabkan kematian ikan.

Selain virus, ikan ini biasa pula terserang penyakit bakteri Streptococcus iniae dengan tanda-tanda warna berubah menjadi lebili gelap, kehilangan keseimbangan, berenang berputar, dan timbul bintik-bintik merah pada kulit. Kerapu lumpur juga biasa diserang penyakit parasites, seperti cacing Neobedenia.


G. Panen
Ikan dapat dipanen setelah mencapai bobot 600-80o g dengan lama pemeliharaan 6-8 bulan. Adapun teknik panennya sama dengan cara panen ikan di KJA umumnya.

sumber : Penebar Swadaya, 2008

Rabu, 08 April 2009

In the original eutroph lakes have characteristics - characteristics as follows

In the original eutroph lakes have characteristics - characteristics as follows:

• relatively shallow depth

• the coastal dalaml relatively wide

•-There are many plants litoral

• are usually located on the lake where a flat, sometimes found in the mountains

• water green until green yellow color is caused by growth - growth in the lake water

• low water clarity

• N and P content higher

• not a lot of humus

• akan most rich limestone

• Oxygen content difference between summer and winter is on the big termoklin

• Oxygen in the womb hypolimnion is poor or there is no

• in the summer Oxygen reduction occurs because the animal plankton

• on the lake in which, the spread of Oxygen in the lake, with the lake oligotroph

• there is a lot of detritus derived from the plankton

• basic mud lake, rich in organic materials that are currently experiencing autochtone decomposition

• the process of decomposition in the lake are usually strong Lumpur

• there are lots of phyto-plankton, often bloom

• Chlorophyceae few, Schizophyceae and Diatomae many, besides Chrysomonad and peridinium

source: H. Masyamsir, Ir, MS

Selasa, 07 April 2009

Asset and liability basics

Asset and liability basics

by: Mansi gupta
Knowledge of accounts can make life much easy. If you are to invest in a new business or joining your forefather’s business, planning to take some loan, looking for job in any marketing company, desire to be the manager of a multinational company or have the onus to manage your own assets and liabilities, knowing some basics of accounts becomes mandatory.


Broadly, accounting is bifurcated into two categories-

Cash Bases Accounting

Accrual Accounting


The Cash Based accounting pertains to the management of an individual’s personal monetary transactions. In this case, he keeps a track of the money he withdrew, deposited, gave or received from someone etc. This accounting comes to life when actual cash transactions take place.

The Accrual Accounting requires an accountant who notes the transactions even if no money has been actually exchanged. This method works on the principle of comparing or seeing the ratio of the expenses to expenditure. If the expenditure is more, you need to cut down your luxuries, if not then it’s always good to have some savings for future. This type of accounting tells you the amount that you owed; this might not match with the figure of your bank balance.


In the language of accounting there are several key terms that one needs to be familiar with. Some of the crucial ones are discussed below-

The Assets- the assets are generally those possessions of an individual that have a good market value or are quite valuable. Assets are mainly classified into three types-
Current Asset- the cash is the most basic asset of any individual. The money that is being held in accounts like the checking and savings accounts is also included in the cash. Also inclusive are the marketable securities in the form of bonds, stocks, shares etc. The money lent or payments due from clients, even form a part of it.

Fixed Asset- comprises of all the tangible valuable things like property, machines, equipments, land and the like that are not meant to be sold.


Intangible Asset- incorporates all the untouchable things like copyrights, patents, trademarks etc. that have tremendous monetary significance.


The law of opposites governs the nature; where there are assets, there will be liabilities. These are the debts that you have to pay back to your creditors. This can be done through giving cash or any other asset like jewelry, some other goods etc. Liabilities again are of two kinds-

1. The Current Liabilities- the liabilities that are to be paid back within a certain time limit and most often through your current assets. These include the accounts payable i.e. type of bill that you have to monthly, the Notes Payable-loans taken from banks meant to be repaid within 30 days and the Accrued Expenses- the compulsory expenses like taxes, wages, interests etc. where the bills are not received but the balances of each must be repaid.

2. Long Term Liabilities- those debts that can be repaid at ease for the tenure is more then a month.



The Financial Capital- is the economic capital. It is any liquid medium or merchandise that stands for wealth or other styles or capital. There are four ways to manage and display the financial capital. First, this capital is needed when a contract is made with any sort of capital asset. The financial instruments work in the form of currency in case of sale, purchase or trade of goods i.e. the medium exchanges. Second, it works as a settled medium or mode like gold for the
Standard of Deferred Payment. Third, The Unit of Account has a market value attached to it which in turn varies with the economy of the country. Fourth, The Source of Value is concerned with financial capital that needs to be saved and recovered. It is a collection of things like gold, real estate, collectibles etc.


Petty Cash is an important factor in business. It is the smallest account within a business setting or the cash in bills and coinage required to pay little expenses.

Types of Business- there are several kinds of business one should be aware of like


Sole proprietorship- where a single individual who starts the business owns it too.

Partnerships- the companies or businesses started by two or more persons where they conjointly own it.


Corporations- involve lot many shareholders or investors who are responsible in taking decisions for the company.

Limited Liability Companies- can be said to be sisters of corporations. Here the business members are not under a legal obligation to pay the debts if the business fails.



Payrolls- the term payroll designates the manner in which you will be paying the employees of your company and even yourself. Many multinational companies cater to payroll service provider companies that do the work quite efficiently.


These are some of the broad guidelines that will help you grasp the basics of accounting. It is essential to have some such wisdom for accounts as it is fruitful in all walks of life.


About the author:
Mansi gupta writes about asset and liability Learn more at http://www.assetsandliabilitiesbook.com


Circulated by Article Emporium