Informasi ini saya sampaikanuntuk rekan² www.beternak-hamster.blogspot.com, habis survei ke beberapa tkp di pasar hewan Solo dan Yogyakarta, ternyata harga hamster jenis syrian ('si jelek') naik drastis
Usia lepas menyusui dari Rp. 1500 naik ke level Rp. 3000
dan terakhir saya survei Rp. 7000 dari peternak ke pengecer, dan pengecer ke pembeli sekitar Rp. 10.000,-
Dampak kenaikan ini sudah menyamai harga anakan ambell kenapa demikian karena sulitnya mencari pternak yang bermain di syrian akhirnya mendorong nilai jual syrian bisa menyamai cambell.
Selamat panen uang buat rekan² yang beternak syrian, bagi rekan² yg mau jual syrian berapapun banyaknya dengan harga Rp.4000,- tel no si blog ini ya.. thnks (*High order nih buat stock pasar) makasih bagi yg udah bantu saya.
Tweet
Kamis, 09 Juni 2011
selection of ornamental fish to be maintained in the aquarium or container maintenance
selection of ornamental fish to be maintained in the aquarium or container maintenance
If we intend to keep the fish in the aquarium or container maintenance, then one to note is the selection of fish species would be maintained.
for the type of fish that will be maintained on containers stored under maintenance, then the match is a type of fish such as koi carp, chef, comet, or other types of Arowana fish.
for the type of fish that will be maintained on the maintenance of container stored in the table, then a suitable fish are fish: Lohan, Oskar, Discus, Arowana.
Ornamental fish that are kept should be able to give satisfaction to the people who see it, if we have a pool or tub positioned under, when planted fish lohan or Oskar then the fish will not look beautiful. Lohan or Oskar has a beauty of color on the side of his body so if kept in a pond next to the side of his body will not be visible by us.
If we intend to keep the fish in the aquarium or container maintenance, then one to note is the selection of fish species would be maintained.
for the type of fish that will be maintained on containers stored under maintenance, then the match is a type of fish such as koi carp, chef, comet, or other types of Arowana fish.
for the type of fish that will be maintained on the maintenance of container stored in the table, then a suitable fish are fish: Lohan, Oskar, Discus, Arowana.
Ornamental fish that are kept should be able to give satisfaction to the people who see it, if we have a pool or tub positioned under, when planted fish lohan or Oskar then the fish will not look beautiful. Lohan or Oskar has a beauty of color on the side of his body so if kept in a pond next to the side of his body will not be visible by us.
Rabu, 08 Juni 2011
pemilihan ikan hias untuk dipelihara pada akuarium atau wadah pemeliharaan
pemilihan ikan hias untuk dipelihara pada akuarium atau wadah pemeliharaan
Bila kita berniat untuk memelihara ikan pada akuarium atau wadah pemeliharaan, maka salah satu yang perlu diperhatikan adalah pemilihan jenis ikan yang akan dipelihara.
untuk jenis ikan yang akan dipelihara pada wadah pemeliharaan yang disimpan di bawah, maka ikan yang cocok adalah jenis ikan mas seperti koi, koki, komet, atau jenis ikan arwana.
untuk jenis ikan yang akan dipelihara pada wadah pemeliharaan yang disimpan di meja, maka ikan yang cocok adalah ikan : Lohan, Oskar, Diskus, Arwana.
Ikan hias yang dipelihara harus bisa memberikan kepuasan terhadap orang yang melihatnya, jika kita punya kolam atau bak yang posisinya di bawah, bila ditanam ikan lohan atau oskar maka ikan tersebut tidak akan terlihat indahnya. Lohan atau Oskar mempunyai keindahan warna pada sisi samping tubuhnya jadi jika dipelihara di kolam sisi samping tubuhnya tidak akan kelihatan oleh kita.
Bila kita berniat untuk memelihara ikan pada akuarium atau wadah pemeliharaan, maka salah satu yang perlu diperhatikan adalah pemilihan jenis ikan yang akan dipelihara.
untuk jenis ikan yang akan dipelihara pada wadah pemeliharaan yang disimpan di bawah, maka ikan yang cocok adalah jenis ikan mas seperti koi, koki, komet, atau jenis ikan arwana.
untuk jenis ikan yang akan dipelihara pada wadah pemeliharaan yang disimpan di meja, maka ikan yang cocok adalah ikan : Lohan, Oskar, Diskus, Arwana.
Ikan hias yang dipelihara harus bisa memberikan kepuasan terhadap orang yang melihatnya, jika kita punya kolam atau bak yang posisinya di bawah, bila ditanam ikan lohan atau oskar maka ikan tersebut tidak akan terlihat indahnya. Lohan atau Oskar mempunyai keindahan warna pada sisi samping tubuhnya jadi jika dipelihara di kolam sisi samping tubuhnya tidak akan kelihatan oleh kita.
Selasa, 07 Juni 2011
Seaweed disease: Ice-ice On Seaweed
Seaweed disease: Ice-ice On Seaweed
Cause: Environmental factors and several types of bacteria: Pseudoalteromonas gracilis, Pseudomonas spp .. and Vibrio spp.
Bio - Ecology Pathogens:
• The case of ice-ice on seaweed farming is triggered by fluctuations in water quality parameters are extreme (salinity, water temperature, dissolved organic matter and sunlight intensity).
• Other triggers are insect like fish baronang, green turtles, sea urchins and starfish cause injury to the thallus, so easily infected by microorganisms.
• In the state of stress, sea grass will release organic substances that cause thallus slimy and stimulate the bacteria grow abundantly in the vicinity.
• Growth of bacteria on the thallus will cause the thallus becomes white and fragile. Furthermore, easily broken, and the soft tissue that characterize the ice-ice disease.
• The spread of this disease can occur vertically (from seed) or horizontally through the mediation of water.
Clinical symptoms:
• The disease is characterized by the emergence of spots / red spots on some of the old thallus gradually became pale yellow and finally fade to white. Thallus become brittle and easily broken.
• Symptoms are shown slow growth. the color change becomes pale and at several branches and rotting thallus to be white.
Diagnosis:
• visual and microbiological observations.
Control:
• The use of quality seeds is a very important way to control ice-ice disease.
• Disinfection of seedlings can be dipped in the solution by PK (potassium permanganate) with a dose of 20 PPM
• Selection of farms that meet the optimum requirements for growth of seaweed.
• Application of cultivation techniques adapted to aquatic environments
• Noting the season in relation to cultivation techniques that would be applied.
source: Ministry of Maritime Affairs and Fisheries of Indonesia, Directorate General of Aquaculture, Fish and Environmental Health Directorate, 2010
Cause: Environmental factors and several types of bacteria: Pseudoalteromonas gracilis, Pseudomonas spp .. and Vibrio spp.
Bio - Ecology Pathogens:
• The case of ice-ice on seaweed farming is triggered by fluctuations in water quality parameters are extreme (salinity, water temperature, dissolved organic matter and sunlight intensity).
• Other triggers are insect like fish baronang, green turtles, sea urchins and starfish cause injury to the thallus, so easily infected by microorganisms.
• In the state of stress, sea grass will release organic substances that cause thallus slimy and stimulate the bacteria grow abundantly in the vicinity.
• Growth of bacteria on the thallus will cause the thallus becomes white and fragile. Furthermore, easily broken, and the soft tissue that characterize the ice-ice disease.
• The spread of this disease can occur vertically (from seed) or horizontally through the mediation of water.
Clinical symptoms:
• The disease is characterized by the emergence of spots / red spots on some of the old thallus gradually became pale yellow and finally fade to white. Thallus become brittle and easily broken.
• Symptoms are shown slow growth. the color change becomes pale and at several branches and rotting thallus to be white.
Diagnosis:
• visual and microbiological observations.
Control:
• The use of quality seeds is a very important way to control ice-ice disease.
• Disinfection of seedlings can be dipped in the solution by PK (potassium permanganate) with a dose of 20 PPM
• Selection of farms that meet the optimum requirements for growth of seaweed.
• Application of cultivation techniques adapted to aquatic environments
• Noting the season in relation to cultivation techniques that would be applied.
source: Ministry of Maritime Affairs and Fisheries of Indonesia, Directorate General of Aquaculture, Fish and Environmental Health Directorate, 2010
Penyakit Ikan : Ice-ice Pada Rumput Laut


Ice-ice Pada Rumput Laut
Penyebab : Faktor Lingkungan dan beberapa jenis bakteri: Pseudoalteromonas gracilis, Pseudomonas spp.. dan Vibrio spp.
Bio – Ekologi Patogen :
• Kasus ice-ice pada budidaya rumput laut dipicu oleh fluktuasi parameter kualitas air yang ekstrim (kadar garam, suhu air, bahan organik terlarut dan intensitas cahaya matahari).
• Pemicu lain adalah serangan hama seperti ikan baronang, penyu hijau, bulu babi dan bintang laut menyebabkan luka pada thallus, sehingga mudah terinfeksi oleh mikroorganisme.
• Pada keadaan stress, rumput laut akan membebaskan substansi organik yang menyebabkan thallus berlendir dan merangsang bakteri tumbuh melimpah di sekitarnya.
• Pertumbuhan bakteri pada thallus akan menyebabkan bagian thallus menjadi putih dan rapuh. Selanjutnya, mudah patah, dan jaringan menjadi lunak yang menjadi ciri penyakit ice-ice.
• Penyebaran penyakit ini dapat terjadi secara vertikal (dari bibit) atau horizontal melalui perantaraan air.
Gejala klinis :
• Penyakit ini ditandai dengan timbulnya bintik / bercak-bercak merah pada sebagian thallus yang lama kelamaan menjadi kuning pucat dan akhirnya berangsur-angsur menjadi putih. Thallus menjadi rapuh dan mudah putus.
• Gejala yang diperlihatkan adalah pertumbuhan yang lambat. terjadinya perubahan warna menjadi pucat dan pada beberapa cabang thallus menjadi putih dan membusuk.
Diagnosa :
• Pengamatan secara visual dan mikrobiologis.
• Pengamatan secara visual dan mikrobiologis.
Pengendalian :
• Penggunaan bibit unggul merupakan cara yang sangat penting untuk pengendalian penyakit ice-ice.
• Desinfeksi bibit dapat dilakukan dengan cara dicelupkan pada larutan PK (potasium permanganat) dengan dosis 20 PPM
• Pemilihan lokasi budidaya yang memenuhi persyaratan optimum bagi pertumbuhan rumput laut.
• Penerapan teknik budidaya yang disesuaikan dengan lingkungan perairan
• Memperhatikan musim dalam kaitannya dengan teknik budidaya yang hendak diterapkan.
• Penggunaan bibit unggul merupakan cara yang sangat penting untuk pengendalian penyakit ice-ice.
• Desinfeksi bibit dapat dilakukan dengan cara dicelupkan pada larutan PK (potasium permanganat) dengan dosis 20 PPM
• Pemilihan lokasi budidaya yang memenuhi persyaratan optimum bagi pertumbuhan rumput laut.
• Penerapan teknik budidaya yang disesuaikan dengan lingkungan perairan
• Memperhatikan musim dalam kaitannya dengan teknik budidaya yang hendak diterapkan.
sumber : Kementerian Kelautan dan Perikanan, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Direktorat Kesehatan ikan dan Lingkungan, 2010
Minggu, 05 Juni 2011
Fish Disease: vibriosis in shrimp
Fish Disease: vibriosis in shrimp
Cause: Vibrio harveyii, V. alginolyticus, V. parahaemolyticus. etc..
Bio - Ecology Pathogens
• vibriosis in shrimp larvae commonly as secondary infection, especially when under stress and weak.
• Bacterial infections are usually associated with stress conditions due to: high density, malnutrition, poor handling. parasitic infections, high organic matter, low oxygen. poor water quality. extreme fluctuations in water temperature. etc..
• The attack is acute, and if environmental conditions continue to decline, which caused the death can reach 100%. particularly in post-larvae or juvenile stage.
Clinical symptoms:
• Body of shrimp look dull and dirty.
• decreased appetite, damage to the legs and gills, gill or brownish color.
• Types of Vibrio spp. which generally attacks the larvae glow shrimp and prawn disease disease called glow (luminescent vibriosis).
• Shrimp affected showed symptoms of necrosis, the condition of the body is weak, slow swim, appetite loss, red spots (red discoloration) on the pleopod and abdominal as well as visible light at night
• Shrimp vibriosis affected leg will show the pool (pleopoda) and the foot path (pereiopoda) shows melanisasi.
• Shrimp are dying often swim to the surface or edge of the pond embankment.
Diagnosis:
• Isolation and identification of bacteria through bio-chemical tests.
Control:
• Disinfection of aquaculture facilities before and during the maintenance process shrimp
• Giving immunostimulan element (eg addition of
vitamin C in feed) are routinely during maintenance
• Avoiding the occurrence of stress (physical, chemical, biological)
• shrimp health management in an integrated manner
source: Ministry of Maritime Affairs and Fisheries of Indonesia, Directorate General of Aquaculture, Fish and Environmental Health Directorate, 2010
Cause: Vibrio harveyii, V. alginolyticus, V. parahaemolyticus. etc..
Bio - Ecology Pathogens
• vibriosis in shrimp larvae commonly as secondary infection, especially when under stress and weak.
• Bacterial infections are usually associated with stress conditions due to: high density, malnutrition, poor handling. parasitic infections, high organic matter, low oxygen. poor water quality. extreme fluctuations in water temperature. etc..
• The attack is acute, and if environmental conditions continue to decline, which caused the death can reach 100%. particularly in post-larvae or juvenile stage.
Clinical symptoms:
• Body of shrimp look dull and dirty.
• decreased appetite, damage to the legs and gills, gill or brownish color.
• Types of Vibrio spp. which generally attacks the larvae glow shrimp and prawn disease disease called glow (luminescent vibriosis).
• Shrimp affected showed symptoms of necrosis, the condition of the body is weak, slow swim, appetite loss, red spots (red discoloration) on the pleopod and abdominal as well as visible light at night
• Shrimp vibriosis affected leg will show the pool (pleopoda) and the foot path (pereiopoda) shows melanisasi.
• Shrimp are dying often swim to the surface or edge of the pond embankment.
Diagnosis:
• Isolation and identification of bacteria through bio-chemical tests.
Control:
• Disinfection of aquaculture facilities before and during the maintenance process shrimp
• Giving immunostimulan element (eg addition of
vitamin C in feed) are routinely during maintenance
• Avoiding the occurrence of stress (physical, chemical, biological)
• shrimp health management in an integrated manner
source: Ministry of Maritime Affairs and Fisheries of Indonesia, Directorate General of Aquaculture, Fish and Environmental Health Directorate, 2010
Kamis, 02 Juni 2011
Penyakit Ikan : Vibriosis pada udang
Vibriosis pada udang
Penyebab : Vibrio harveyii, V. alginolyticus, V. parahaemolyticus. dll.
Bio – Ekologi Patogen
• Vibriosis pada larva udang umumnya sebagai penginfeksi sekunder terutama pada saat dalam keadaan stress dan lemah.
• Infeksi bakteri ini biasanya berkaitan dengan kondisi stress akibat: kepadatan tinggi, malnutrisi, penanganan yang kurang baik. infeksi parasit, bahan organik tinggi, oksigen rendah. kualitas air yang buruk. fluktuasi suhu air yang ekstrim. dll.
• Serangan bersifat akut, dan apabila kondisi lingkungan terus merosot, kematian yang ditimbulkannya bisa mencapai 100%. terutama pada stadia post larva atau juvenil.
Gejala klinis :
• Tubuh udang nampak kusam dan kotor.
• Nafsu makan menurun, kerusakan pada kaki dan insang, atau insang berwarna kecoklatan.
• Jenis bakteri Vibrio spp. yang berpendar umumnya menyerang larva udang dan penyakitnya disebut penyak
it udang berpendar (luminescent vibriosis).
• Udang yang terserang menunjukkan gejala nekrosis, kondisi tubuh lemah, berenang lambat, nafsu makan hilang, bercak merah (red discoloration) pada pleopod dan abdominal serta pada malam hari terlihat menyala
• Udang yang terkena vibriosis akan menunjukkan bagian kaki renang (pleopoda) dan kaki jalan (pereiopoda) menunjukkan melanisasi.
• Udang yang sekarat sering berenang ke permukaan atau pinggir pematang tambak.
Diagnosa :
• Isolasi dan identifikasi bakteri melalui uji bio-kimia.
Pengendalian :
• Desinfeksi sarana budidaya sebelum dan selama proses pemeliharaan udang
• Pemberian unsur immunostimulan (misalnya penambahan
vitamin C pada pakan) secara rutin selama pemeliharaan
• Menghindari terjadinya stress (fisik, kimia, biologi)
• Pengelolaan kesehatan udang secara terpadu
sumber : Kementerian Kelautan dan Perikanan, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Direktorat Kesehatan ikan dan Lingkungan, 2010
Penyebab : Vibrio harveyii, V. alginolyticus, V. parahaemolyticus. dll.
Bio – Ekologi Patogen
• Vibriosis pada larva udang umumnya sebagai penginfeksi sekunder terutama pada saat dalam keadaan stress dan lemah.• Infeksi bakteri ini biasanya berkaitan dengan kondisi stress akibat: kepadatan tinggi, malnutrisi, penanganan yang kurang baik. infeksi parasit, bahan organik tinggi, oksigen rendah. kualitas air yang buruk. fluktuasi suhu air yang ekstrim. dll.
• Serangan bersifat akut, dan apabila kondisi lingkungan terus merosot, kematian yang ditimbulkannya bisa mencapai 100%. terutama pada stadia post larva atau juvenil.
Gejala klinis :
• Tubuh udang nampak kusam dan kotor.
• Nafsu makan menurun, kerusakan pada kaki dan insang, atau insang berwarna kecoklatan.
• Jenis bakteri Vibrio spp. yang berpendar umumnya menyerang larva udang dan penyakitnya disebut penyak
it udang berpendar (luminescent vibriosis).• Udang yang terserang menunjukkan gejala nekrosis, kondisi tubuh lemah, berenang lambat, nafsu makan hilang, bercak merah (red discoloration) pada pleopod dan abdominal serta pada malam hari terlihat menyala
• Udang yang terkena vibriosis akan menunjukkan bagian kaki renang (pleopoda) dan kaki jalan (pereiopoda) menunjukkan melanisasi.
• Udang yang sekarat sering berenang ke permukaan atau pinggir pematang tambak.
Diagnosa :
• Isolasi dan identifikasi bakteri melalui uji bio-kimia.
Pengendalian :
• Desinfeksi sarana budidaya sebelum dan selama proses pemeliharaan udang
• Pemberian unsur immunostimulan (misalnya penambahan
vitamin C pada pakan) secara rutin selama pemeliharaan
• Menghindari terjadinya stress (fisik, kimia, biologi)
• Pengelolaan kesehatan udang secara terpadu
sumber : Kementerian Kelautan dan Perikanan, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Direktorat Kesehatan ikan dan Lingkungan, 2010
Langganan:
Postingan (Atom)