Selasa, 03 April 2012

Owa Jawa Hewan Yang Setia

Owa jawa (Hylobates moloch) adalah sejenis primata anggota suku Hylobatidae. Dengan populasi tersisa antara 1.000 – 2.000 ekor saja, kera ini adalah spesies owa yang paling langka di dunia. Owa jawa menyebar terbatas (endemik) di Jawa bagian barat. Owa jawa tidak memiliki ekor, dan tangannya relatif panjang dibandingkan dengan besar tubuhnya. Tangan yang panjang ini diperlukannya untuk berayun dan berpindah di antara dahan-dahan dan ranting di tajuk pohon yang tinggi, tempatnya beraktifitas sehari-hari. Warna tubuhnya keabu-abuan, dengan sisi atas kepala lebih gelap dan wajah kehitaman.

Kera ini hidup dalam kelompok-kelompok kecil semacam keluarga inti, terdiri dari pasangan hewan jantan dan betina, dengan satu atau dua anak-anaknya yang masih belum dewasa. Owa jawa merupakan pasangan yang setia, monogami. Rata-rata owa betina melahirkan sekali setiap tiga tahun, dengan masa mengandung selama 7 bulan. Anak-anaknya disusui hingga usia 18 bulan, dan terus bersama keluarganya sampai dewasa, yang dicapainya pada umur sekitar 8 tahun. Owa muda kemudian akan memisahkan diri dan mencari pasangannya sendiri.


Owa jawa adalah hewan diurnal dan arboreal, sepenuhnya hidup di atas tajuk pepohonan. Terutama memakan buah-buahan, daun dan bunga-bungaan, kelompok kecil owa jawa menjelajahi kanopi hutan dengan cara memanjat dan berayun dari satu pohon ke lain pohon dengan mengandalkan kelincahan dan kekuatan lengannya. Berat tubuhnya rata-rata mencapai 8 kg.
Kelompok ini akan berupaya mempertahankan teritorinya, biasanya luasnya mencapai 17 hektare, dari kehadiran kelompok lain. Pagi-pagi sekali, dan juga di waktu-waktu tertentu di siang dan sore hari, owa betina akan memperdengarkan suaranya untuk mengumumkan wilayah teritorial keluarganya. Dari suara yang bersahut-sahutan antar kelompok, dan terdengar hingga jarak yang jauh ini, para peneliti dapat memperkirakan jumlah kelompok owa yang ada, dan selanjutnya menduga jumlah individunya.

Spesies ini hanya didapati di bagian barat Pulau Jawa, yakni di hutan-hutan dataran rendah dan hutan pegunungan bawah. Penyebaran paling timur adalah di wilayah Gunung Slamet serta di jajaran Pegunungan Dieng sebelah barat di wilayah Pekalongan.

Sumber


Owa-owa Hewan Endemik Kalimantan

Owa-owa atau Kelempiau (Hylobates muelleri), adalah primata dari keluarga Ungko.
Tidak seperti keluarga ungka lainnya, Owa-owa tidak menunjukan dimorfisme dalam warna bulunya. Owa-owa memiliki bulu berwarna abu-abu atau coklat dengan bulu berwarna terang berbentuk cincin di bagian muka. Pada bagian kepala juga terdapat bulu berwarna gelap seperti topi. Owa-owa memiliki berat rata-rata 5,7 kg, sehingga merupakan ungka terkecil dalam keluarga ungka.


Owa-owa adalah hewan endemik pulau Kalimantan dengan habitat di bagian utara dan timur Kalimantan. Di bagian barat daya pulau hidup Owa Ungko; dengan penyebaran yang tidak sama. Owa-owa adalah hewan yang beraktivitas pada siang hari dengan habitat pada hutan hujan. Karakteristik Owa-owa adalah memiliki lengan yang panjang untuk berayun dari pohon ke pohon. Owa-owa hidup dengan pasangan monogami dan melindungi keluarga dari serangan dengan suara keras dan panjang. Makanan dari Owa-owa adalah buah. Belum diketahui secara pasti bagaimana Owa-owa bereproduksi, tapi diperkirakan sama dengan spesies Ungko lainnya.

Owa-owa dilindungi dalam wilayah taman nasional, yaitu Taman Nasional Betung Kerihun, Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya, Taman Nasional Kayan Mentarang, Taman Nasional Kutai, Hutan Lindung Sungai Wain dan Taman Nasional Tanjung Puting di Indonesia. Serta Cagar Alam Lanjak Entimau dan Hutan Lindung Semengok di Malaysia.

Sumber

Buaya Siam Masuk Kategori Kritis

Buaya Siam (Crocodylus siamensis) adalah sejenis buaya anggota suku Crocodylidae. Buaya ini secara alami menyebar di Indonesia (Jawa dan Kalimantan Timur), Malaysia (Sabah dan Serawak), Laos, Kamboja, Thailand, dan Vietnam. Disebut buaya Siam karena spesimen tipe jenis ini yang dideskripsi dan dijadikan rujukan berasal dari Siam (nama lama Thailand). Buaya ini sekarang terancam kepunahan di wilayah-wilayah sebarannya, dan bahkan banyak yang telah punah secara lokal.

Buaya ini relatif kecil ukurannya, dengan panjang total maksimal mencapai 4 m; akan tetapi yang umum panjang buaya ini hanya sekitar 2–3 m. Terdapat gigir yang memanjang, nampak jelas di antara kedua matanya, keping tabular di kepala menaik dan menonjol di bagian belakangnya. Sisik-sisik besar di belakang kepala (post-occipital scutes) 2–4 buah. Terdapat sejumlah sisik-sisik kecil di belakang dubur, di bawah pangkal ekor. Sisik-sisik besar di punggung (dorsal scutes) tersusun dalam 6 lajur dan 16–17 baris sampai ke belakang. Sisik perut tersusun dalam 29–33 (rata-rata 31) baris. Warna punggung kebanyakan hijau tua kecoklatan, dengan belang ekor yang pada umumnya tidak utuh.


Buaya air tawar ini menyukai perairan dengan arus yang lambat, seperti rawa-rawa, sungai di daerah dataran, dan danau. Hewan ini berbiak di musim penghujan; buaya betina bertelur 20–80 butir, yang diletakkannya dalam sebuah gundukan sarang yang dijagainya hingga anaknya menetas. Telur-telur itu menetas setelah sekitar 80 hari.

Karena perburuan gelap dan rusaknya habitat buaya ini di alam, IUCN memasukkan buaya Siam ke dalam kategori kritis (CR, critically endangered). Pada 1992 populasinya bahkan sempat dianggap punah di alam, atau mendekati situasi itu. Akan tetapi untunglah, survai-survai yang berikutnya mendapatkan keberadaan sebuah populasi kecil tak-berbiak di alam di Thailand (beberapa ekor saja, tersebar di beberapa tempat), sebuah populasi kecil di Vietnam (kurang dari 100 individu), sementara –yang menggembirakan– beberapa populasi yang lebih besar dijumpai di Kamboja (total hingga sekitar 4000 individu) dan Laos, di sekitar aliran Sungai Mekong. Pada Maret 2005, para konservasionis mendapatkan sebuah sarang berisi bayi-bayi buaya Siam di Provinsi Savannakhet, Laos bagian selatan. Dari Malaysia dan Indonesia, sayangnya, tak ada data yang baru. Menurut perhitungan sekarang, total populasinya di alam diperkirakan kurang dari 5.000 ekor. Di penangkaran, sebagian individu buaya Siam adalah merupakan hibridisasi dengan buaya muara, di samping beberapa ribu ekor yang masih asli yang dipelihara pada berbagai tempat penangkaran, terutama di Thailand dan Kamboja.

Di Taman Nasional Bang Sida di Thailand, yang terletak tak jauh dari Kamboja, ada proyek re-introduksi buaya Siam ke alam liar. Sejumlah buaya muda dilepas liarkan ke sebatang sungai kecil yang terpencil di taman nasional tersebut, yang tak dapat dijangkau pengunjung.
Buaya Siam telah dilindungi oleh undang-undang negara Republik Indonesia.

Sumber

pemeliharaan Larva Gurame

Pemeliharaan Larva Ikan Gurame


dalam kegiatan pemeliharaan larva ikan gurame hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :
- wadah pemeliharaan
- kualitas air
- pakan
- pemeliharaan/cara penanganan


Wadah Pemeliharaan
wadah pemeliharaan larva gurame dari mulai telur biasanya ditempatkan di akuarium, Namun penetasan telur ini bisa juga dilakukan di ember/jolang plastik.
untuk akuarium dengan ukuran 80 x 40 x 40 cm jumlah telur yang bisa ditampung sekitar 2.000 butir telur.
ketinggian air untuk pemeliharaan telur di akuarium 15 cm, pada wadah pemeliharaan perlu juga dipasang aerator, heater.
aerator berfungsi untuk mensuplai oksigen ke air akuarium. aerator ini berfungsi meningkatkan kandungan oksigen. oksigen diperlukan oleh ikan untuk membantu meningkatkan pertumbuhan ikan. proses metabolisme ikan dalam tahap pertumbuhan memerlukan oksigen, bila kandungan oksigen di dalam akuarium kurang maka akan mempengaruhi kehidupan ikan sehingga ikan pertumbuhannya kurang optimal.

Heater/pemanas air
Tipe heater berbeda-beda ada yang 50 watt, 75 watt dan 100 watt namun kesemuanya itu sama yaitu untuk meningkatkan suhu air dan mempertahankan suhu air pada media pemeliharaan agar suhu air stabil tidak berfluktuasi tinggi terutama pada pergantian cuaca, malam ke siang siang ke malam.
hal yang sangat berpengaruh terhadap adanya heater adalah suhu air, dimana suhu air membantu dalam meningkatkan nafsu makan ikan, ikan akan bertambah nafsu makannya pada kondisi air yang suhunya optimal (hangat) karena bila suhu optimal akan membantu proses metabolisme ikan dalam menguraikan makanan menjadi energi dan untuk pertumbuhan ikan.  ikan akan bertambah berat dan panjang bila ada nutrisi yang didapatkannya, nutrisi yang utama untuk kebutuhan ikan adalah protein disamping nutrisi lainnya seperti karbrohidrat, lemak Suhu optimal untuk pemeliharaan larva adalah 20 - 29 derajat celcius.

Pakan
Dalam jangka waktu 3-4 hari telur akan menetas, larva ikan gurame belum langsung diberi pakan karena masih mengandung kuning telur. kuning telur akan habis dalam jangka waktu kurang lebih 6 hari. setelah kuning telur habis larva ikan diberi makanan berupa cacing sutra atau daphnia 

pemeliharaan larva
air pada akuarium diganti setiap 3-4 hari sekali pergantian air dilakukan dengan cara menyipon dengan menggunakan selang air. pergantian air akuarium harus dilakukan secara hati-hati agar benih ikan tidak ikut tersedot oleh selang. biasanya bila benih ikan tersedot selang maka akan menyebabkan benih ikan itu rusak atau stress.  Bila menggunakan pemanas air / heater dalam penyiponan harus hati-hati pastikan heater telah dimatikan dengan cara mencabut kabel listriknya bila heater lupa dicabut maka ketika diganti dengan air baru pada akuarium heater akan pecah.





KISI-KISI PENULISAN SOAL UC UN GEOGRAFI KE-3 Tk. Kab. MALANG 2011/2012

Kisi-kisi penulisan soal ini digunakan untuk penyusunan soal Uji Coba Ujian Nasional (UC UN) ke-3 untuk matapelajaran Geografi pada SMA tingkat Kabupaten Malang Tahun Pembelajaran 2011/2012. Kisi-kisi ini sendiri dibangun berdasarkan kisi-kisi UN Geografi berdasarkan Peraturan BSNP No. 013/P/BNSP/XII/2011 tentang Kisi-kisi Ujian Nasional Tahun Pembelajaran 2011/2012 (Kompetensi--Standar Isi--2011/2012). Isi selengkapnya dapat diunduh dengan mengklik:



UNDUH

Budidaya Belut

Budidaya Belut secara intensif belum banyak di kembangkan di tanah air. artinya, ini peluang emas sebagai sebuah lahan bisnis, mengingat permintaan di pasaran, baik terhadap produk segar maupun olahan belut terbilang tinggi. Namun sampai saat ini masih Banyak pertanyaan yang sering dilontarkan dari para pemula-pemula , mereka ragu untuk melakukan usaha budidaya belut atau beternak belut ini, kalau mereka melakukan usaha budidaya belut, setelah panen, kemana mereka akan menjual hasil panen tersebut??? Padahal perlu kita ketahui prospek belut untuk saat ini dan kedepannya sangatlah bagus, karena belut termasuk komoditi, seperti halnya daging ayam dan daging sapi dimana saat ekonomi bagus maupun merosot, namun prospek belut tetap positif dan harga relatif stabil.Budidaya Belut sebenarnya tidak sulit dan juga tidak mahal. Masyarakat yang memiliki lahan sempitpun dapat memelihara belut.

Secara Teknis Budidaya dan pemeliharaan belut (monopterus albus) hanya memerlukan perhatian dalam memilih tempat/lokasi budidaya, pembuatan kolam, media pemeliharaan, memilih benih, perkembangbiakan belut, penetasan, makanan dan kebiasaan makan serta hama. Disisi lain kita memerlukan tata cara panen, pasca panen, pemasaran dan hasil analisanya. Ikan, termasuk belut sawah (Monopterus albus) merupakan sumber protein hewani berasal dari perairan umum yang bermanfaat bagi kesehatan manusia. Kebutuhan manusia terhadap sumber protein dari ikan / belut akan berlangsung terus sejalan dengan peradaban, oleh karena itu sumber protein ini harus selalu dijaga dan diselamatkan kelestariannya. Belut sebagai komoditas unggulan sudah kita ketahui sejak lama. Selain rasanya yang lezat dan gurih belut juga mengandung protein dan yang baik bagi anak-anak dan orang dewasa. Belut tidak hanya dikonsumsi sebagai lauk tetapi juga bisa digunakan untuk obat dan vitalitas bagi kaum pria. Contohnya, air kukusan belut dikenal oleh sinshe Cina sebagai obat liver. Selain itu, belut juga terbukti mampu membantu kelancaran produksi air susu ibu (ASI) jika ibu mengkonsumsi sejak kandungan berusia 3 bulan hingga bayi berusia 6 bulan. Beberapa sinshe mengatakan bahwa belut membantu perkembangan otak dan fisik anak serta remaja. Berbagai penelitian ilmiah pun telah membuktikan bahwa kandungan gizi belut tidak kalah dengan kandungan gizi ikan lainnya. Adapun kandungan gizi daging belut per 100 gram adalah sebagai berikut:
Protein 14 gram
Kalori 303 kal
Lemak 27 gram
Zat Besi 2,0 mg
Kalsium 20,0 mg
Fosfor 200 mg
Vitamin A 1600 SI (Satuan Internasional)
Vitamin B 0,1 mg
Vitamin C 2,0 mg
Sebagai obat penambah darah.

Di Taiwan belut sudah menjadi komoditas ekspor yang bisa meraup devisa. Ekspor belut mereka ditujukan ke Jepang, Italia, Jerman, Belanda, Amerika Serikat, Inggris, Afrika Utara, Selandia Baru, Australia dan Korea. Di Negara Italia, Perancis dan Hongkong, belut menjadi makanan yang eksklusif karena berharga mahal dan terdapat direstoran-restoran kelas atas.Sesuai dengan program pemerintah dalam rangka mencerdaskan bangsa dan memerangi kemiskinan, beternak belut menggunakan lahan sawah adalah sebuah upaya yang perlu digalakkan untuk menunjang maksud tersebut.Melihat peluang dan manfaatnya yang sangat besar dalam hal pemenuhan gizi dan pemberdayaan masyarakat dibidang ekonomi. Maka saya ingin berbagi pengalaman dan ide untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut diatas.
di ambil dari http://informasi-budidaya.blogspot.com dan berbagai sumber

Budidaya Udang Vanamei | Persiapan Budidaya Udang Vaname

1. Perbaikan Lahan
Kegiatan perbaikan lahan pada tambak meliputi perbaikan konstruksi dan peralatan tambak, pengeringan tambak, pengisian air, pemberantasan hama dan penyakit dan penumbuhan plankton.
a. Perbaikan konstruksi dan peralatan tambak
Selama kegiatan budidaya, kontruksi dan peralatan pasti mengalami perubahan-perubahan fisik. Oleh karena itu perlu dilakukan perbaikan konstruksi dan peralatan tambak sebelum kegiatan budidaya dimulai kembali. Konstruksi tambak yang rusak meliputi karpet yang berlubang dan karpet yang terbuka jahitanya. Untuk mengatasi karpet yang berlubang, karpet akan ditambal dan dijahit. Sedangkan yang terbuka jahitannya dilakukan penjahitan ulang. Alat yang digunakan dalam menjahit karpet adalah jarum bago dan benang nilon.
Perbaikan peralatan tambak yang rusak meliputi jembatan ancho yang rusak, ancho yang rusak, kincir, dan saluran pipa supercharge. Perbaikan peralatan dilakukan disesuaikan dengan seberapa besar kerusakannya, apabila sudah tidak dapat diperbaiki maka dilakukan pengadaan kembali peralatan tambak. Setelah perbaikan peralatan maka peralatan ditempatkan di dalam tambak dan siap untuk digunakan.
Perbaikan konstruksi dan peralatan tambak. Pada proses budidaya berlangsung, pasti terjadi kerusakan pada konstruksi dan peralatan tambak. Hal tersebut harus segera diatasi agar dapat mempelancar proses budidaya. Adapun salah satu kegiatan perbaikan peralatan tambak dapat dilihat pada Gambar

b. Pengeringan lahan
Pengeringan lahan dilakukan dengan membersihkan tambak dari trisipan (Faunus sp) dan pengangkatan pasir dan lumpur. Kegiatan pembersihan tambak dilakukan dengan cara menyemprotkan air ke dasar dan dinding petakan. Alat yang digunakan untuk pembersihan tambak adalah sabit, sapu lidi, selang spiral, ember dan tempat pembuangan untuk trisipan (Faunus sp). Proses pengeringan lahan berlangsung selama 3-4 hari.

c. Pengisian air
Pengisian air pada tahap persiapan awal dilakukan sebanyak 2 kali. Pada pengisian air pertama ditujukan untuk pencucian tambak. Pencucian tambak dilakukan dengan menggunakan 1 ppm kaporit [CaCl(C03)]. Ketinggian air waktu pencucian tambak adalah 0,3 m dari dasar tambak. Waktu pemberian kaporit adalah sore hari agar reaksi berjalan optimal. Pencucian tambak dilakukan sehari semalam, kemudian air dibuang. Kegiatan pencucian tambak yang menggunakan kaporit tidak sesuai dengan pendapat Yukasano (2001), yaitu pencucian tambak menggunakan Nuvan/Booster/Saprofon. Penggunaan kaporit dirasa sudah cukup dalam proses pencucian tambak.
Pengisian air yang kedua ditujukan untuk pemberantasan hama penyakit dan air digunakan untuk media budidaya. Ketinggian air untuk pengisian yang kedua adalah sekitar 1,2 m dari dasar tambak atau sesuai kemampuan daya tampung air petakan tambak tersebut.
d. Pemberantasan hama dan penyakit
Pemberantasan hama dan penyakit dilakukan setelah pencucian tambak. Pemberantasan hama dan penyakit dengan menggunakan bestacin sebanyak 10 liter/ha. Pemberian bestacin dilakukan pada sore hari. Aplikasi Bestacin dilakukan 10 hari sebelum penebaran benur. Hal ini bertujuan agar residu dari Bestacin bisa terurai. Setelah aplikasi Bestacin, kincir dihidupkan selama 3 jam. Pemberantasan hama dan penyakit dilakukan selama 1 minggu dengan membiarkan air tambak. Setelah itu, air tambak ini akan dijadikan air media untuk pembesaran udang.
Penggunaan bestacin dalam tahap pemberantasan hama dapat juga digunakan saponin dan kaporit dalam tahap pemberantasan hama dan penyakit. Bestasin merupakan sejenis insektisida aktif yang dapat membunuh jenis ikan-ikanan, kepiting dan udang-udangan. Aplikasi Bestasin yang dilakukan 10 hari sebelum penebaran benur bertujuan agar residu dari bestacin bisa teruai.
e. Penumbuhan plankton
Penumbuhan plankton pada persiapan lahan dilakukan dengan cara fermentasi dan aplikasi probiotik. Penumbuhan plankton dilakukan setelah air budidaya dimasukan. Fermentasi yang dibuat dengan campuran 20 liter molase dengan 2 kg pakan udang bentuk serbuk. Penebaran hasil fermentasi dilakukan dengan aplikasi probiotik. Dosis aplikasi probiotik adalah 40 liter per 2 hari. Penebaran fermentasi dan probiotik dilakukan pada pagi hari. Pemberian fermentasi dan probiotik dilakukan 3 hari sebelum penebaran benur. Selama 3 hari kincir dinyalakan 2 buah untuk membantu pengadukan.
Penumbuhan plankton dengan menggunakan fermentasi. Hal ini diharapkan fermentasi dapat langsung diuraikan oleh probiotik sehingga menghasilkan unsur hara yang diperlukan untuk tumbuhnya plankton. Tetapi dapat juga penumbuhan plankton menggunakan pupuk buatan. Penggunaan pupuk buatan dalam tahap pemupukan ditakutkan yang tumbuh adalah lumut sutra (Enteromorpha sp). Lumut sutra (Enteromorpha sp) dapat menjerat benur udang yang mencari makan, sehingga akan mengakibatkan kematian udang