Rabu, 16 Desember 2009

the color of pond water - water color criteria

the color of pond water - water color criteria


Criteria pond water color that can be used as a reference standard in the management of water quality is as below:

1. Color dark green pond water, which means indicate a dominance of Chlorophyceae with more stable nature of the environment and climate change because they have the time a relatively long mortality. Growth rate and relatively fast development is the potential occurrence of plankton boom in these waters.

2. Color brown pond water which means showing the dominance diatomae. This type of plankton is one supplier of natural feed for the shrimp, so the rate of growth and development of the shrimp relatively quickly. The level of stability is relatively less plankton, especially in winter conditions with the high rainfall, so the potential collapse of plankton and if not carefully managed water quality stability will be volatile and would interfere with the comfort level in the shrimp ponds.

3. Color brownish green pond water, which means showing dominance happens is the combination of the Chlorophyceae and is stable diatomae supported by the availability of natural feed for the shrimp.

Standard color of pond water as described above is a practical reference for identifying species of plankton in an attempt detection of water quality problems at an early stage. In addition to these standard colors there are some pond water colors usually found in shrimp cultivation activities, which include:

1. Color yellow pond water, which means indicate a phytoplankton species dominance cyanophyceae. In conditions like these pond waters are usually more pale colored shrimp than is usually accompanied by a decrease in appetite shrimp and if not immediately anticipated may cause damage to the shrimp hepatopanchreas.

2. Color green pond water vanished, which means indicate a phytoplankton species dominance dynophyceae impact is relatively similar to point (1).

3. Color blue-green pond water, which means indicate a dominance of blue green algae relative impact equal to the point (1).

4. Camouflage green color, in this case as if the pond greenish but basically no / less contain plankton. This happens usually in ponds which contain the seeds was very poor but planktonya fertilization activities continue, so the resulting color is the color because of the weather. This incident can be identified by measuring the brightness of the pond waters are usually very high, or to see the color of the water in a water mill was operated.

Identify types of plankton in the waters of the pond in a practical way to see the color of the water as described above to be supported by observation and laboratory analysis on a regular basis to obtain more accurate results. This activity is done by taking water samples and samples of shrimp from pond map map-whether the problem or not affected by the problem, so the comparison can be drawn.
source: http://marindro-ina.blogspot.com

warna air tambak kriteria warna air

Kriteria warna air tambak yang dapat dijadikan acuan standar dalam pengelolaan kualitas air adalah seperti di bawah ini:

1. Warna air tambak hijau tua yang berarti menunjukkan adanya dominansi chlorophyceae dengan sifat lebih stabil terhadap perubahan lingkungan dan cuaca karena mempunyai waktu mortalitas yang relatif panjang. Tingkat pertumbuhan dan perkembangannya yang relatif cepat sangat berpotensi terjadinya booming plankton di perairan tersebut.

2. Warna air tambak kecoklatan yang berarti menunjukkan adanya dominansi diatomae. Jenis plankton ini merupakan salah satu penyuplai pakan alami bagi udang, sehingga tingkat pertumbuhan dan perkembangan udang relatif lebih cepat. Tingkat kestabilan plankton ini relatif kurang terutama pada kondisi musim dengan tingkat curah hujan yang tinggi, sehingga berpotensi terjadinya plankton collaps dan jika pengelolaannya tidak cermat kestabilan kualitas perairan akan bersifat fluktuatif dan akan mengganggu tingkat kenyamanan udang di dalam tambak.

3. Warna air tambak hijau kecoklatan yang berarti menunjukkan dominansi yang terjadi merupakan perpaduan antara chlorophyceae dan diatomae yang bersifat stabil yang didukung dengan ketersediaan pakan alami bagi udang.

Standar warna air tambak seperti tersebut di atas merupakan acuan praktis dalam mengidentifikasi jenis plankton sebagai upaya pendeteksian masalah kualitas perairan secara dini. Selain warna standar tersebut ada beberapa warna air tambak yang biasa dijumpai dalam kegiatan usaha budidaya udang, yaitu antara lain:

1. Warna air tambak kekuningan yang berarti menunjukkan adanya dominansi phytoplankton jenis cyanophyceae. Pada kondisi perairan tambak seperti ini biasanya udang berwarna lebih pucat dari biasanya disertai dengan penurunan nafsu makan udang dan jika tidak segera diantisipasi dapat menimbulkan kerusakan pada hepatopanchreas udang.

2. Warna air tambak hijau pupus yang berarti menunjukkan adanya dominansi phytoplankton jenis dynophyceae dampak yang ditimbulkan relatif sama dengan point (1).

3. Warna air tambak biru kehijauan yang berarti menunjukkan adanya dominansi blue green algae dampak yang ditimbulkan relatif sama dengan point (1).

4. Kamuflase green color, pada kondisi ini tambak seolah-olah berwarna kehijauan tapi pada dasarnya tidak/kurang mengandung plankton. Hal ini terjadi biasanya pada tambak yang kandungan bibit planktonya sangat kurang tetapi kegiatan pemupukan berjalan terus, sehingga warna yang ditimbulkan adalah warna karena pengaruh cuaca. Kejadian ini dapat diketahui dengan mengukur kecerahan perairan tambak yang biasanya sangat tinggi, atau dengan melihat warna air yang ada pada kincir air yang sedang dioperasikan.

Identifikasi jenis plankton di perairan tambak secara praktis dengan melihat warna perairan seperti telah diuraikan di atas perlu ditunjang dengan pengamatan dan analisis laboratorium secara berkala untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat. Kegiatan ini dilakukan dengan cara pengambilan sampel perairan dan sampel udang dari petakan-petakan tambak baik yang bermasalah maupun yang tidak terkena masalah, sehingga dapat diambil perbandingannya.
sumber: http://marindro-ina.blogspot.com

PEPES TELUR IKAN

PEPES TELUR IKAN

1. BAHAN
1) Telur ikan 1 gls
2) Daun pisang secukupnya
2. BUMBU
1) Bawang merah 3 bh
2) Kunyit ½ rsj
3) Bawang putih 2 siung
4) Jahe ½ rsj
5) Kemiri 2 bj
6) Asam 2 mata
7) Lada ¼ sdt
8) Garam 1 sdt
3. CARA PEMBUATAN
1) Telur ikan dibersihkan, dicuci.
2) Semua bumbu dihaluskan dicampurkan rata dengan telur ikan.
3) Dibungkusi daun pisang, dikukus sampai masak.
Keterangan :
Supaya lebih enak setelah dikukus, dipanggang sampai kering.
Jakarta, Maret 2001
Sumber : Buku Kumpulan Masakan Indonesia
Disadur oleh : Ika Budiawati, Kemal

Selasa, 15 Desember 2009

Penyakit-Penyakit Hamster

Hamster Colds

Flu pada hamster dapat disebabkan oleh suhu kering, oleh karena itu penempatan lokasi kandang sangat mempengaruhi. Gejalanya hamster menderita flu: bersin, hidung basah, nafas berat, dan selalu duduk dengan posisi membungkuk.

Sangat dianjurkan untuk tidak memandikan hamster karena merupakan salah satu sumber flu yang utama. Jangan pernah bermain-main dengan hamster ketika anda sedang flu karena bisa menular ke hamster kesayangan. hamster yang mengidap flu sebaiknya diletakkan pada ruang yang hangat dan tidak kering. Makanan yang lembut (telah dihaluskan) baik untuk hamster yang flu, air minum yang telah diberi sedikit madu juga baik untuknya.

Hamster Wet Tail

Hamster Wet Tail merupakan infeksi bakteri dan dapat menyebabkan diare akut. stress dan ketidakseimbangan porsi makanan menjadi penyebab utama Hamster Wet Tail. salah satu contoh stress adalah pengaruh ketika hamster dibawa dari toko hewan menuju rumah (perjalanan panjang). gejala Hamster Wet Tail area anus hamster menjadi lengket dan basah. hamster yang sakit akan bergerak sedikit sekali dan sama sekali tidak mau makan.

cairan isotonik dapat diberikan secara oral kepada hamster dan dokter hewan dapat meresepkan antibiotik untuk hamster. Metronidazole POM biasa digunakan untuk mengatasi gangguan pencernaan dengan takaran sesuai anjuran dokter hewan. Suapi hamster anda segera dengan makanan yang telah dihaluskan. triknya mungkin bisa dengan menambahkan madu untuk menambah nafsu makannya. kandang hamster yang sakit sebaiknya segera dibersihkan dengan disinfektan / secara menyeluruh.

Hamster Bladder Stones


Gejala hamster yang mengalami Hamster Bladder Stones adalah adanya setitik kecil darah pada urine-nya. hamster akan merasakan sakit yang luar biasa pada saat kencing dan hamster terlihat lemas. memberi makan daun dandelion dapat membantu produksi urin dan memaksa batu ginjal keluar dengan sendirinya. cara lain adalah dengan menambahkan sedikit garam pada minuman atau makanan.

Hamster Diarrhoea


Hamster Diarrhoea merupakan hasil dari pemberian makanan yang tidak benar dan terkadang kombinasi yang salah pada makanan basah dan kering. makanan yang busuk atau minuman yang kotor juga pemberian makan sayur-sayuran yang berlebihan juga menjadi penyebab. gejala Hamster Diarrhoea terlihat dari kotorannya (feces) yang berwarna hijau, encer, dan dalam jumlah yang banyak.
jika hamster anda menderita diare, segera singkirkan semua makanan basah yang ada dan beri makan roti kering dan nasi matang. pemberian minuman teh chamomile juga disarankan. kemudian bersihkan kandang dari kotoran hamster 2 kali sehari. setelah hamster lebih baik, segera disinfek kandang hamsternya.

Hamster Constipation

Hamster constipation mengindikasikan adanya penyumbatan pada saluran pencernaan (sembelit). Ini merupakan akibat dari perilaku hamster yang mengunyah bedding yang kotor atau hamster kurang minum (dehidrasi). Hamster akan menunjukkan tanda-tanda sakit perut dan berhenti makan. Coba tambahkan buah dan sayur seperti kubis atau daun dandelion dalam porsi makanan hamster atau beri satu tetes minyak sayur setiap hari. Ulangi 2 hari sekali. Pastikan hamster mendapat air minum yang bersih.

Hamster's Rectal Prolapse / Hamster's Prolapsed Rectum

Untuk yang ini sudah pasti kawan-kawan tahu, ini disebut juga dengan Hernia pada manusia. Gejala turunnya posisi pencernaan hingga terlihat keluar / menjuntai pada anus hamster. Jika terjadi hal ini, sebaiknya hamster dibawa ke dokter hewan untuk dioperasi.

Hamster Diabetes

Diabetes biasa terjadi pada hamster jenis Campble dan sifatnya menurun. Gejalanya: hamster minum secara berlebihan, rontoknya bulu pada area perut dan tangan, pipis berlebihan, waktu tidur yang lebih lama, hamster melakukan olahraga secara berlebihan, hamster kekurangan / kelebihan berat badan secara drastis dan badan hamster gemetar.
Beri diet yang sesuai dengan menyediakan sayur segar seperti wortel, lobak turnip, brokoli, kembang kol dan sedikit telur rebus. Makanan pak yang mengandung fruktosa sebaiknya dihindari.

Hamster Strokes

Ketika hamster terserang penyakit stroke, kepala hamster biasanya akan miring ke satu arah dan hamster berlarian berputar-putar. Stroke biasanya menyerang pada malam hari. Hamster yang terserang stroke mempunyai tingkat harapan hidup yang rendah, walaupun mereka mampu bertahan hidup, mereka akan mengalami ”head tilt” / miring kepala secara permanen.

Namun ”head tilt” ini biasanya terjadi karena adanya infeksi di bagian dalam telinga atau bisa juga terjadi karena infeksi saluran pernapasan. Hamster akan mencoba memiringkan kepalanya ketika berusaha untuk berjalan. Infeksi bakteri ini dapat disembuhkan dengan resep obat dari dokter hewan. Hal lain yang memungkinkan terjadi adalah adanya tumor otak pada hamster. Gejalanya stroke lainnya adalah biasanya hamster akan bersikap normal namun kemudian hamster seperti ”kesurupan” / terhipnotis dengan bersikap diam saja tidak bergeming ketika dikagetkan. Stroke dapat disembuhkan dengan porsi makanan dan minuman yang berimbang dan harus selalu dipantau selama 2 minggu berturut.

Hamster Skin Mites


Skin Mites ini termasuk parasit yang berbahaya bagi hamster. Kutu ini berupa laba-laba kecil yang bersarang di kulit hamster sehingga seakan tidak terlihat sama sekali. Jika kutu kulit ini menyerang salah satu hamster, maka dengan cepat akan menular pada hamster lainnya dalam kandang yang sama. Kutu kulit ini juga dapat tertular dari binatang lainnya seperti anjing atau kucing. Gejala bulu rontok pada hamster biasanya terjadi karena aksi menggaruk yang berlebihan.

Hamster bisa mengatasi kutu ini dibantu dengan spray anti kutu untuk hamster. Segera disinfek kandang hamster dan semprot dengan anti kutu. Jangan menyemprot secara langsung pada hamster, lakukan dengan menggunakan sikat gigi yang kemudian disapukan ke bulu hamster kemudian gunakan tisu kering untuk mengelap bulu hamster. Ikuti petunjuk pada spray anti-kutu.

Hamster Ear Mites / Hamster Ear Mange


Hamster Ear Mites / Hamster Ear Mange dikenal juga sebagai Notoedres. Kutu ini hidup/berkembangbiak disekitar telinga hamster dan bisa menjangkit wilayah muka dan kaki hamster. Hamster Ear Mites ini berkembangbiak dengan cepat pada area yang terinfeksi dan hamster pun mulai merasa terganggu dengan kehadiran kutu ini dan akan menggaruk secara membabi buta. Kulit hamster menjadi rusak, hitam dan menjadi fatal jika terus dibiarkan karena hamster bisa mati mendadak karena aksi menggaruk yang brutal hingga tak sadar mencabik diri sendiri.

Pengobatan dilakukan oleh Vet dengan menyuntik cairan Ivermectin atau memberikan Ivermectin secara oral. Krim / salep juga perlu dioleskan untuk mengurangi rasa gatal dan bakteri yang ada. Kandang hamster perlu dibersihkan lebih sering (3-5 kali seminggu) untuk mencegah supaya Hamster Ear Mites tidak menjangkit hamster lagi.

Untuk Hamster Ear Mange (kudis) aplikasi (dioleskan) secara berhati2 dengan menggunakan olive oil. Minyak lavender, rosemary, tea tree dan bawang putih juga bisa digunakan.

Hamster Cancers / Tumours


terkadang pada tubuh hamster timbul benjolan-benjolan yang tidak biasa yang semakin besar dari waktu ke waktu. penanganan dini oleh Vet dapat membantu pencegahan penyebaran sel tumor/kanker. Resiko tumor/kanker muncul ketika hamster beranjak tua.

Beberapa tumor/kanker bisa diobati, walaupun tumor/kanker telah dioperasi masih bisa tumbuh lagi. Operasi yang dilakukan Vet juga terkadang beresiko karena kecilnya ukuran tumor/kanker juga penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat membahayakan hamster. Sayangnya, tumor/kanker juga bisa ditimbulkan karena perkimpoian satu garis keturunan (incest) misalnya: antar anakan, induk dengan anak.

Hamster yang menderita tumor/kanker dapat hidup biasa layaknya hamster normal, yang perlu diperhatikan adalah untuk menyingkirkan segala benda tajam dalam kandang hamster yang dapat mengoyak tumor/kanker. Jika tumor/kanker terkoyak, oleskan minyak lavender/minyak sayur. pengobatan ini perlu dilakukan untuk mencegah supaya hamster tidak menjilat cairan tumor/kanker dan mencegah supaya tidak terjadi pendarahan.

Hamster's Cysts


Hamster's Cysts adalah rongga yang berisi cairan. Terkadang juga berisi udara / materi semi-padat. pada foto diatas, terlihat hamster dengan cysts didaerah mulut. Hamster's Cysts dapat membesar dan membuat hamster kesulitan makan.

Hamster's Cysts dapat diobati oleh Vet dengan menguras isi rongga, walaupun ada kemungkinan Hamster's Cysts dapat muncul kembali. Jika Hamster's Cysts terkoyak, obati dengan cara yang sama seperti pengobatan pada tumor/kanker yang terkoyak, yaitu dengan mengoleskan minyak lavender/minyak sayur.

Penyakit Mata - Glaukoma, Katarak dan sejenisnya...


Beberapa hamster akan develop katarak di masa tuanya.
Sering kali kondisi ini ditandai lingkaran kebiruan di tengah matanya.
Juga perlu diingat bahwa penglihatan hamster sangat buruk,
mereka hanya dapat melihat jarak dekat, jadi sepanjang pengetahuan gw,
hamster tidak begitu masalah dengan katarak ini, karena hamster gw
masih hidup sampai sekarang.

Hamster bermata merah juga terkenal mudah terjangkit katarak,
beberapa hamster pada masa tuanya akan develop katarak.
(yang difoto memang bermata merah karena itu adalah WW Blue Argente tapi kataraknya cuma sebelah mata,
sedangkan yang Campbell adalah platinum normal bermata hitam dan dua matanya kena katarak)

Cara pengobatan :

Coba berikan visine(obat mata) pelan-pelan dengan memakai cottonbud,
tapi yang saya tahu, katarak pada hamster terlalu berbahaya kalau kita sendiri yang mengobatinya,
lekas bawa hamster anda ke dokter hewan terdekat.

kalau sudah sembuh, saya sarankan hamster anda untuk mengkonsumsi wortel.
Pemberian wortel juga baik untuk mejaga kesehatan mata, terutama pada hamster albino/bermata merah.

Jika pada kandang hamster terdapat botol minum dicek apakah botol tersebut bocor atau tidak,
karena kemungkinan mata hamster anda berjamur karena botol yang bocor,
pemberian wortel juga cukup 1 iris per ekor.

Ada lagi satu masalah di mata yaitu mata yang tidak bisa terbuka dengan baik.
Ada satu campbell ce mottled argente gw yang mengalaminya, sakit ini (kalau mau dibilang sakit) dia
alami ketika lahiran pertama. begitu melahirkan 2 anak, kedua matanya tidak bisa dibuka lagi dua2nya.
sudah gw coba membersihkan dengan air bersih hangat, saya pikir hanya kena serbuk atau kotoran...
memang sempat terbuka setengah tetapi tidak lama karena sepertinya dia lebih "comfort" dengan
memejamkan mata. Sampai sekarang juga masih hidup dan sudah melahirkan 2 kali sejak "sakit" ini


Courtesy of :http://blog.unsri.ac.id/emonpotter/hamsters-world


pakan buatan untuk udang

Seperti dalam pembahasan sebelumnya, pakan buatan bagi udang dapat diartikan sebagai pakan yang dibuat dalam skala industri dengan komposisi nutrisi dan gizi sesuai dengan kebutuhan udang dan diberikan untuk menyuplai makanan pada tambak dengan tingkat ketersediaan pakan alaminya telah menipis/habis sama sekali. Tingkat penggunaan pakan buatan relatif berbeda berdasarkan skala budidaya udang yang diterapkan, seperti akan diuraikan di bawah ini:

1. Pada budidaya udang skala tradisional, penggunaan pakan buatan tidak/jarang sekali digunakan pada pola pemberian pakan yang diterapkannya. Penggunaan pakan buatan hanya terbatas pada pakan yang dibuat berdasarkan kemampuan pengelola tambak secara perorangan. Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan pakan buatan antara lain : dedak (bekatul), jagung, tepung dan ikan rucah sebagai campuran. Pakan jenis ini biasanya digunakan setelah udang mencapai usia panen dengan estimasi populasi udang yang relatif banyak.

2. Pada budidaya udang skala semi intensif, penggunaan pakan buatan lebih diarahkan pada upaya antisipasi terjadinya kekurangan pakan alami berdasarkan estimasi populasi udang yang ada pada saat itu. Pemberian pakan buatan yang diterapkan tidak bersifat mutlak dan lebih cenderung insidental.

3. Pada budidaya udang skala intensif, penggunaan pakan buatan terutama yang berskala industri bersifat mutlak sebagai salah satu syarat pengelolaan budidaya udang. Padat penebaran udang yang relatif tinggi merupakan salah satu dasar pemikiran yang perlu dipertimbangkan. Selain itu penerapan pakan buatan yang benar pada budidaya udang skala intensif dapat membantu dalam estimasi kondisi dan pertumbuhan udang di dalam tambak

Jika dibandingkan dengan jenis pakan udang lainnya, maka pakan buatan skala industri mempunyai karakteristik ditinjau dari segi ukuran dan komposisi nilai gizi yang dikandungnya. Karakteristik tersebut dibuat dan ditentukan oleh industri pembuatnya berdasarkan sifat dan kebutuhan udang yang ada di dalam tambak.

Ukuran pakan buatan bagi udang merupakan ukuran besar kecilnya butiran-butiran pakan yang sesuai dengan kebutuhan udang pada saat dan kondisi tertentu. Berdasarkan ukurannya, pakan buatan secara garis besar biasanya dapat digolongkan ke dalam jenis:

1. Crumble, yaitu butiran pakan yang berupa serbuk/butiran halus dan biasa digunakan pada udang usia tebar (benur).

2. Pellet, yaitu pakan buatan yang berupa butiran-butiran kecil sampai butiran kasar dan biasa digunakan pada udang dewasa sampai udang usia panen.

Selain ukuran, ditinjau berdasarkan komposisi kandungan nutrisinya pakan buatan mempunyai formulasi yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan pertumbuhan udang. Nutrisi yang biasanya terdapat dalam pakan buatan antara lain : karbohidrat, protein, lemak, serat dan beberapa zat esensial lain yang dibutuhkan udang. Komposisi nutrisi tersebut dapat berbeda tergantung dari ukuran pakan dan industri pembuatannya. Dalam kondisi tertentu pakan buatan tersebut dikombinasikan dengan zat-zat suplemen (antara lain vitamin) untuk mengatasi kekurangan zat tersebut dan dibutuhkan oleh udang dalam keadaan sangat diperlukan.

sumber : http://marindro-ina.blogspot.com

Senin, 14 Desember 2009

Pemanenan Udang

Pemanenan udang merupakan tahap akhir dari satu periode siklus budidaya, karena dengan dilaksanakannya panen udang dalam suatu tambak maka tidak ada lagi proses pemeliharaan/perawatan udang pada periode tersebut. Pemanenan udang secara sedehana dapat diartikan sebagai proses pemungutan udang di dalam sebuah petakan tambak sebagai hasil proses budidaya dalam satu periode. Keputusan dilakukannya panen pada sebuah petakan tambak mengacu pada dasar pertimbangan yang terkait dengan kondisi, ukuran dan kualitas udang yang ada di dalam tambak tersebut dibandingkan dengan variable biaya produksi lainnya.

Ditinjau dari faktor penyebabnya, panen udang secara garis besar dapat dibedakan menjadi 2 (dua) kelompok yaitu : (1) panen normal, dan (2) panen bermasalah.

Panen Normal

Panen normal adalah kegiatan panen yang dilakukan pada suatu petakan tambak dengan dasar pertimbangan kondisi, ukuran dan kualitas udang di dalam tambak tersebut dianggap telah memenuhi persyaratan untuk dipanen sehingga dapat menghasilkan tingkat keuntungan finansial seperti yang diharapkan.

Panen Bermasalah

Panen bermasalah adalah kegiatan panen yang dilakukan pada suatu petakan tambak dengan kondisi udang terkena suatu masalah. Dasar pertimbangan yang digunakan dalam pengambilan keputusan untuk melakukan panen bermasalah adalah untuk menekan tingkat kerugian financial jika tidak segera dilakukan panen. Berdasarkan jenisnya, panen bermasalah dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam, yaitu:

1. Panen kuras, yaitu kegiatan pemanenan yang dilakukan dengan cara membuang populasi udang di dalam suatu petakan tambak melalui saluran pembuangan melalui proses pembuangan air secara total. Panen kuras biasanya dilakukan pada udang bermasalah dengan ukuran yang masih relative kecil (phase bulan pertama) dan populasinya menurun drastis, sehingga jika kondisi seperti ini dilanjutkan hanya akan memperbesar tingkat kerugian yang akan diperoleh).

2. Panen dini, yaitu kegiatan pemanenan yang dilakukan pada suatu petakan tambak dengan kondisi udang bermasalah sebelum dianggap layak untuk dipanen secara normal. Panen dini dilakukan dengan dasar pertimbangan untuk menekan tingkat kerugian financial jika kondisi tersebut dipertahankan. Cara melakukan panen dini adalah sama dengan cara panen normal, yaitu melalui tahapan-tahapan tertentu dan peralatan yang diperlukan (akan diuraikan dalam pembahasan tersendiri).

Panen dini, jika ditinjau dari tingkat keuntungannya tidak semuanya merugikan secara financial, karena pada kondisi, ukuran dan kualitas udang tertentu meskipun terkena masalah jika pengambilan keputusan yang diambil adalah tepat, maka pada kondisi seperti ini masih dapat mendatangkan keuntungan financial (meskipun tidak optimal).

Secara garis besar pengambilan keputusan terkait dengan kegiatan panen bermasalah haruslah cepat berdasarkan pertimbangan dua variable yaitu:

1. Tingkat permasalahan pada udang. Seperti telah diketahui permasalahan udang pada dasarnya dapat muncul karena factor kondisi udang itu sendiri maupun karena terjangkitnya suatu jenis penyakit. Panen bermasalah lebih banyak dilakukan pada petakan tambak dengan udang terkena masalah, sehingga pengambilan keputusan terkait pemanenan perlu dilakukan secara cepat dan cermat agar tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar.

2. Tingkat keuntungan financial, yaitu perbandingan antara harga jual udang yang dipanen karena bermasalah dibandingkan dengan biaya produksi yang telah dikeluarkan sampai saat pelaksanaan panen bermasalah tersebut.

Kegiatan panen udang meskipun sebagai tahap akhir dari suatu proses budidaya udang dalam satu siklus budidaya (terutama untuk panen normal) merupakan tahapan yang sangat penting juga untuk dipahami. Kualitas udang dan sifat/tingkah laku udang merupakan pengetahuan dasar yang perlu dipahami pada saat melakukan pemanenan udang. Pada kondisi tertentu (sering dijumpai di lapangan) udang mengalami penurunan kualitas yang sangat nyata pada saat dilakukan pemanenan, sehingga secara tidak langsung juga berpengaruh terhadap harga jual dan tingkat keuntungan yang diperoleh menjadi tidak optimal.
sumber:http://marindro-ina.blogspot.com

Jangan Terperangkap Target FCR (Food Conversion Ratio)

Jangan Terperangkap Target FCR (Food Conversion Ratio)

Pada pembahasan-pembahasan terdahulu telah dijelaskan mengenai FCR (Food Convertion Ratio) yaitu perbandingan (rasio) antara berat pakan yang telah diberikan dalam satu siklus periode budidaya dengan berat total (biomass) udang yang dihasilkan pada saat itu. Sebagai contoh : pada suatu periode budidaya telah berhasil dipanen udang dengan biomass 2 ton sedangkan berat pakan total yang telah digunakan seberat 3 ton, maka besaran FCR pada saat itu adalah sebesar 3 ton / 2 ton = 1.5.

Pada suatu usaha budidaya udang pada umumnya nilai FCR dijadikan sebagai salah satu tolok ukur keberhasilan baik secara teknis budidaya maupun secara finansial. Ditinjau dari segi teknis budidaya, nilai FCR terkait dengan parameter keberhasilan pengelolaan program pakan udang yang secara tidak langsung juga terkait dengan pengelolaan kualitas air dan kondisi/kualitas udang. Sedangkan secara finansial nilai FCR akan berpengaruh terhadap tingkat keuntungan yang diperoleh pada satu periode budidaya karena pakan udang merupakan penyumbang biaya terbesar pada suatu usaha budidaya udang. Nilai FCR yang paling ideal biasanya berada pada kisaran 1.5 – 2.5 (tergantung dari media/kondisi lahan tambak yang digunakan).

Mengacu pada penjelasan tersebut di atas, maka kondisi yang sering terjadi adalah pada saat memulai kegiatan budidaya udang biasanya telah ditetapkan target nilai FCR yang harus dicapai. Hal seperti ini pada akhirnya dapat membuat kondisi dimana pengelolaan program pakan udang lebih mengacu pada target FCR daripada tingkat kebutuhan udang terhadap pakan pada saat itu. Secara psikologis, target FCR dapat mengakibatkan rasa khawatir jika nilai FCR akan membengkak atau dengan kata lain telah terjadi pemborosan pakan udang (tentu saja biaya produksi juga membengkak). Faktor psikologis seperti ini biasanya juga berpengaruh pada penyusunan program pemberian pakan udang yang kurang optimal karena lebih cenderung pada prinsip pengiritan pakan.

Program pemberian pakan yang mengacu pada target FCR tanpa memperhatikan tingkat kebutuhan udang pada umumnya dapat mengakibatkan kondisi sebagai berikut:

1. Terlambat dalam pemberian pakan (terutama pakan buatan) pada phase bulan pertama, meskipun telah terindikasi ketersediaan pakan alami pada saat itu mulai berkurang/habis. Kondisi ini dapat mempengaruhi terhadap kondisi, populasi dan tingkat keseragaman udang yang secara tidak langsung akan berpengaruh pada program pemberian pakan berikutnya.

2. Berat pakan per hari (pakan harian) yang diberikan ditentukan oleh estimasi populasi dan biomass udang yang mengacu pada target FCR yang telah ditentukan. Perubahan berat pakan per hari lebih cenderung mengarah pada perubahan konstan dan tidak berfluktuatif sesuai dengan tingkat kebutuhan udang pada saat-saat tertentu.

3. Adanya persepsi yang kurang benar terhadap frekuensi pemberian pakan, yaitu semakin banyak frekuensi pemberian pakan maka akan mengakibatkan FCR membengkak.

Pada kondisi tersebut di atas frekuensi pemberian pakan harian lebih mengarah pada kuantitas total pakan harian yang terdistribusi pada tiap-tiap frekuensi pakan dan tidak mengacu kemampuan udang dalam mengkonsumsi pakan serta seberapa lama/sering udang akan membutuhkan pakan lagi.

Sebagai contoh: Populasi udang dalam suatu petakan tambak membutuhkan total pakan per hari adalah 20 kg. Pada saat itu misalnya kemampuan populasi udang tersebut rata-rata hanya 4 kg, maka secara ideal frekuensi pakan harian sebaiknya sudah 5 kali sehari. Jika frekuensi pakan harian hanya dilakukan 4 kali, meskipun berat total pakan per hari adalah sama yaitu 20 kg, maka setiap kali pemberian pakan rata-rata adalah 5 kg dan ini berarti ada 1 kg pakan yang tidak terkonsumsi setiap kalinya atau 4 kg per hari.

4. Terkait dengan penjelasan no 1, 2 dan 3 tersebut di atas maka hasil panen udang pada akhirnya juga tidak dapat optimal baik dari segi kualitas, kuantitas (biomass) sekaligus tingkat keuntugan yang diperoleh, meskipun secara target FCR dapat terpenuhi.

Berdasarkan penjelasan dan ilustrasi di atas, maka dapat dikatakan bahwa dalam menjalankan usaha budidaya udang terutama pengelolaan program pakan sebaiknya kita tidak terperangkap oleh target FCR tanpa memperhatikan kondisi dan tingkat kebutuhan udang. Memang target FCR memiliki peranan yang penting sebagai pedoman program pakan, dan jangan sampai hal ini membuat suatu kondisi bahwa udang harus mengikuti kita, tapi sebaliknya kitalah yang harus mengikuti kebutuhan udang.
sumber : http://marindro-ina.blogspot.com