Kamis, 15 April 2010

increase in aquaculture production

increase in aquaculture production.

aquaculture production can be enhanced by a variety of ways, increasing fish production is to be supported by improving cultivation techniques and methods. The traditional pattern of fish farming which produce low fish production can be enhanced by intensive fish farming.

The mastery of technology and improvement of fish farming facilities and infrastructure need to be owned by fish farmers, as this is a capital for fish farmers in increasing the number of its production.

This technology includes the improvement of cultivation techniques and cultivation technique of cultivation of hatchery rearing. Artificial spawning techniques is one example of the increasing value of fish production. The food is good quality and contain sufficient giji is also one example in an effort to increase fish production.

http://hobiikan.blogspot.com

Minapolitan Rumput Laut Mulai Ekspor

Minapolitan Rumput Laut Mulai Ekspor



Kawasan minapolitan rumput laut di Gorontalo memulai ekspor perdana rumput laut olahan berupa potongan (chips). Ekspor perdana chips rumput laut itu sekitar 17 ton dengan nilai ekspor sekitar 90.000 dollar AS.

Pabrik pengolahan rumput laut dikembangkan oleh badan usaha milik daerah (BUMD), PT Gorontalo Fitrah Mandiri. Komoditas chips rumput laut dipasarkan ke investor asal Malaysia, Vinakas Agromarine SDN.BHD.Direktur Operasional PT Go-rontalo Fitrah Mandiri, BUMD provinsi Gorontalo, Ronny Dj Ka-luku mengemukakan, kapasitas terpasang pabrik chips rumput laut itu 1 ton per hari. Adapun 1 ton chips rumput laut membutuhkan hanan baku 3,5-4 ton rumput laut kering.

"Pengolahan rumput laut dan jaminan pasar akan meningkatkan nilai tambah produk. Tanpa industri pengolahan, maka ekspor hanya akan terbatas pada luhan baku," ujar Ronny di sela-sela ekspor perdana chips rumput laut di Desa Pongongaila, Kecamatan Pulubala, Gorontalo.Kerja sama itu merupakan implementasi dari pembentukan kawasan minapolitan di Provinsi Gorontalo. Gorontalo ditetapkan sebagai kawasan minapolitan rumput laut dengan integrasi sentra produksi, pengolahan, dan pemasaran.

Kontrak ekspor chips rumput laut dimulai tahun 2010. Untuk tahap awal, jumlah ekspor berkisar 17 ton chips rumput laut.Harga jual chips rumput laut jauh lebih tinggi daripada balian baku mentah. Harga rumput laut kering di tingkat petani Rp 7.000-Rp 7.500 per kilogram (kg).Harga di tingkat pabrik Rp I2.000-Rp 13.000 per kg.Pengembangan rumput laut, ujar Ronny, diyakini akan mampu mengembangkan ekonomi daerah mengingat rumput laut telah dikembangkan di lima kabupaten, yakni Gorontalo, Bo-alemo, Pohuwato, Bone Bolango, dan Gorontalo Utara. Pihaknya masih harus bersaing dengan eksportir rumput laut yang menjual rumput laut gelondongan.

Rumput laut merupakan salah satu komoditas unggulan sektor perikanan. Masa tanam rumput laut 45 hari. Diupayakan adanyakemitraan dengan kelompok petani rumput laut, meliputi penyuluhan, pembibitan, panen, dan penanganan pascapanen.Dari data Kementerian Kelautan dan Perikanan, jumlah produksi rumput laut basah Indonesia berkisar 1,79 juta ton. Dari jumlah itu, sebanyak 85 persen diekspor dan 15 persen diserap industri pengolahan dalam negeri.Saat ini jumlah pabrik pengolahan rumput laut di Indonesia baru 34 unit. Pabrik yang aktif hanya 20 pabrik, dengan utilitas kapasitas 60 persen. (LKT)



Sumber : Kompas 15 April 2010, Hal.18

Rabu, 14 April 2010

peningkatan produksi perikanan budidaya

peningkatan produksi perikanan budidaya.

produksi perikanan budidaya dapat ditingkatkan dengan berbagai cara, peningkatan produksi perikanan ini perlu ditunjang oleh peningkatan tehnik dan cara berbudidaya. Pola berbudidaya ikan yang tradisional yang menghasilkan produksi ikan yang rendah dapat ditingkatkan dengan berbudidaya ikan yang intensif.

Penguasaan tehnologi budidaya ikan dan peningkatan sarana dan prasarana perlu dimiliki oleh pembudidaya ikan, karena hal ini merupakan modal bagi pembudidaya ikan dalam meningkatkan jumlah produksinya.

Tehnologi budidaya ini mencakup dari peningkatan tehnik budidaya pembenihan serta tehnik budidaya pembesaran. Tehnik pemijahan buatan merupakan salah satu contoh dalam meningkatkan nilai produksi ikan. Pemberian pakan yang berkualitas dan mengandung giji yang cukup juga merupakan salah satu contoh dalam upaya peningkatan produksi ikan.

http://hobiikan.blogspot.com

Selasa, 13 April 2010

KKP buka 120 titik budidaya rumput laut

KKP buka 120 titik budidaya rumput laut



Direktur Pembenihan Ikan, Ditjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Ketut Sugama mengakui sulit mendapatkan rumput berkualitas.

Sebab, dalam teknik budidaya rumput laut, batas waktu produksi maksimal hanya tiga kali di lokasi, yang sama. "Setelah tiga kali bibit di daerah yang sama itu produktivitasnya turun, ini biologisnya," jelas Ketut di Jakarta, kemarin.

Untuk mengatasi seretnya pasokan bibit itu, tahun ini pemerintah akan membuka 120 titik budidaya bibit di daerah sentra rumput Iai5t. "Ini solusi kami untuk menjamin ketersediaan bibit rumput laut itu," ujar Ketut.

Pemerintah memang menargetkan produksi rumput laut meningkat 12% atau dari 2,574 juta ton pada tahun lalu menjadi 2,882 futa ton. Urbi/anura)




Sumber : Harian Terbit 12 April 2010.Hal.6

Ketekunan Seorang Ade di Kolam Lele

Ketekunan Seorang Ade di Kolam Lele



Memasuki Kampung Cibeureum RT 08 RW 08, Kelurahan Mulyaharja, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, terlihat berjajar sekitar 100 kolam terpal warna oranye tempat pembenihan ikan lele sangkuriang. Kampung yang dikenal sebagai sentra perajin sandal ini, kini menjadi sentra usaha pembenihan ikan lele sangkuriang. Ini berkat ketekunan Ade Mulyadi (32), anak kedua dari enam bersaudara pasangan Muchtar (59) dan Rohani (56), sejak dua tahun yang lalu.

Oleh FX PUNIMAN

Keberhasilan Ade mengembangkan usahanya seperti saat ini tentu tak lepas dari mental bajanya yang pantang menyerah. Meskipun kaki kanannya cacat karena polio sejak usia 3 tahun, dia berhasil mengembangkan usaha pembenihan ikan lele sangkuriang, lele butkan baru yang kini semakin populer, terutama di Bogor.

Pengembangan usaha baru, yakni pembenihan ikan lele oleh pemuda itu, boleh disebut sebagai pelopor usaha pembenihan ikan di sentra perajin sandal Cibeureum. Usahanya bukan main-main. Ade bersama 4 pekerjanya tiap hari mengawasi, merawat sekitar 100 kolam pembenihan, dan menabur pakan untuk benih ikan secara tepat waktu dan tepat takaran-nya. Kolam ikan itu tampak unik karena dibuat khusus dengan menggunakan terpal warna oranye yang biasa digunakan untuk tenda.

Menurut Ade, usaha pembenihan ikan lele sangkuriang ini diawali dengan kegagalan dalam mengembangkan usaha pembenihan ikan lele dumbo yang dimodali ayahnya. Saat itu, lebih dari Rp 75 juta uang yang dikeluarkan ayahnya untuk modal usaha pembenihan ikan lele dumbo amblas.

Tak pernah dijual, benih ikan itu mati diduga terserang penyakit," kata Muchtar, ayah Ade. Sebelum bergabung dengan anaknya mengusahakan pembenihan lele sangkuriang, Muchtar adalah pedagang di pasar dan perajin sandal.
Belajar

Suatu hari, Muchtar yahg beralih profesi menjadi pembenih ikan lele ini memperoleh keterangan tentang "pendekar lele sangkuriang" Nasrudin, di Kampung Sukabirus, Desa Gadog, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor. Maka, dia pun mendatangi Nasrudin untuk mencari tahu atau "berguru" ilmu perlelean.

Namun, Muchtar tidak lantas berguru secara langsung. Setelah pertemuan dengan Nasrudin dan mendapat gambaran mengenai usaha itu, Muchtar kemudian mengutus Ade untuk mengikuti pelatihan kepada Nasrudin. Setelah itu, Muchtar menyusul bersama dua anaknya yang lain, Wawan dan Trimulyana, untuk menimba ilmu mengenai pembenihan lele.

Ternyata, untuk menimba ilmu tentang lele tidak perlu waktu berminggu-minggu, berbulan-bulan, apalagi bertahun-tahun. Ade mengikuti pelatihan hanya selama 3 hari di pusat pelatihan lele Nasrudin di Kampung Sukabirus. Dia sudah

memperoleh "jurus-jurus" jitu cara memelihara, memberikan pakan, dan mengatasi penyakit ikan secara tepat

Tanpa menunggu waktu lagi, bekal pengetahuan itu langsung diterapkan di lapangan. Ko-lam-kolam pun dibuat tidak dengan menggali tanah, sebagaimana layaknya kolam ikan yang kita kenal selama ini Mereka menggunakan terpal untuk membuat "kolam-kolam" itu, dan kemudian diisi benih ikan lele sangkuriang. Rupanya tanda-tanda keberhasilan usaha lele itu mulai tampak.

"Berangsur-angsur usaha kami itu, berhasil," kata Ade, akhir Maret lalu. Kematian benih lele seperti yang terjadi saat mengembangkan lele dumbo bisa mereka atasi Perlakuan khusus bisa menekan angka kematian benih. Saat ini, usaha mereka sudah jauh berkembang. Siang itu, misalnya, Ade baru saja melayani pembeli benih lele sangkuriang ukuran 4-6 cm sebanyak 4.000 ekor.

Kewalahan

Diawali dari 10 kolam terpal ukuran 2x4 meter untuk pembenihan, kini Ade yang mengembangkan usaha bersama ayah dan adiknya memiliki sekitar 100 kolam pembenihan ikan lele sangkuriang. Muchtar sendiri juga memiliki sekitar 10 kolam pembesaran ukuran 10 x 10 meter.

Satu paket induk lele sangkuriang terdiri dari 10 betina dan 5 jantan. Ade membeli induk lele pada Nasrudin seharga Rp 800.000 per paket Sejak menetas sampai dipanen, usia benih ikan lele sangkuriang ukuran 4-6 cm butuh waktu sekitar 50 hari. Setiap ekor induk lele sangkuriang bisa menghasilkan 70.000-100.000 ekor benih.

"Saat ini, setiap bulan kami baru bisa menjual 300.000 benih dengan harga Rp 150 per ekor," kata Ade. Pesanan benih lele memang terus mengalir.

Namun, tidak semua pesanan itu mampu dipenuhi Ade mencontohkan, adanya permintaan benih sebanyak 1 juta ekor setiap bulan dari pembeli warga Tangerang, Banten, tetapi permintaan itu tidak sanggup mereka penuhi

"Untuk melayani peternak ikan lele sangkuriang di daerah Kabupaten/Kota Bogor dan sekitarnya saja, kami masih kewalahan," kata Ade. Melihat kondisi seperti itu. Ade mencari jalan keluar dengan menyiapkan 10 orang binaan sebagai pembenih ikan lele sangkuriang.

Sementara Muchtar yang memiliki 10 kolam pembesaran mengisi kolamnya dengan 10.000 ekor benih ukur 4-6 cm. Dari 10.000 benih ini, setelah 45 hari dapat dipanen 1 ton ikan lele ukuran 6-7 ekor per kg. Harga jualnya saat ini Rp 10.500 per kg. "Dari panen 1 ton ikan itu, dipotong pakan dan biaya pemeliharaan, masih ada keuntungan sekitar Rp 3 juta," kata Muchtar.

Ade dan ayahnya, sebagai keluarga pelopor usaha pembenihan ikan lele di sentra Perajin Sandal Cibeureum ini, sekarang sering menerima kunjungan tamu yang ingin belajar budidaya ikan lele sangkuriang, baik untuk pembenihan maupun pembesaran. "Kami dengan senang hati menjelaskan bagaimana caranya menjadi pembudidaya ikan lele sangkuriang," kata Ade.

Dia mengatakan, pihaknya memang berkonsentrasi di bidang pembenihan untuk memasok mereka yang berusaha di bidang pembesaran lele sangkuriang. "Lebih menguntungkan jadi pembenih daripada pembesar ikan," kata Ade, seraya menambahkan bahwa kerugian puluhan juta rupiah yang dideritanya dua tahun yang lalu berangsur-angsur dapat ditutupi dari keuntungan penjualan benih ikan.

(FX PUNIMAN, Wartawan Tinggal di Bogor)


Sumber : Kompas, 12 April 2010.Hal.16

Senin, 12 April 2010

Tiram mutiara

Tiram mutiara



Budidaya tiram mutiara selama ini dianggap rumit dengan waktu pemeliharaan yang bisa lebih dari 3 tahun. Tak heran usaha ini lebih banyak dilakukkan oleh pengusaha bermodal besar.

Tetapi anggaapan tersebut kini berhasil dipatahkan oleh badan riset perikanan budidaya (brkp). Pusat riset perikanan budidaya (prpb)-bagian dari brkp- meluncurkan program ilmu pengetahuan dan teknologi untuk masyarakat (iptekmas) untuk pendederan tiram mutiara bagi nelayan tradisional. Program ini dilaksanakan oleh balai besar riset perikanan budidaya laut (bbrpbL)gondol,bali. Dimulai dari riset pembenihan dan dilanjutkan pendederan dilaut.

Dengan iptekmas, nelayan bisa melakukan pendederan tiram dari ukuran spat 4-5’mm hingga ukuran 1cm atau ukuran 5-6 cm tergantung permintaan pasar. Untuk mencapai ukuran 1cm butuh waktu 1bulan dan 7-8 bulan untuk mencapai 5-6cm. Sementara untuk pembesaran hingga mencapai ukuran siap produksi mutiara yang memerlukan waktu sekitar 3tahun dilakukan oleh pengusaha bermodal besar.

Persiapan budidaya

Lokasi untuk budidaya pendederan tiram mutiara antara lain perairan yang subur (kaya plankton), jauh dari jangkauan air tawar berlebih karena spat dan benih rentan terhadap salinitas rendah, terhindar dari banjir dan erosi, arus tidak terlalu kuat agar KJA tidak hanyut, kedalaman ideal maksimum 30 m, substrat dasar pasir atau pecahan karang.

Selain itu hindari kondisi iklim buruk. Bila kondisi sangat rawan, sebaiknya tidak melakukan kegiatan pendederan. KJA bisa diamankan kedarat dan waktu yang ada dimanfaatkan untuk persiapkan. Unit rakit atau KJA sebaiknya tidak terlalu besar supaya mudah dipindahkan.

Wadah budidayanya, KJA terbuat dari bambu dan pelampung drum foam. Untuk budidaya ikan degan unit terkecil 8 m x 8 m terdiri atas 4 lubang ukuran 3 m x 3 m dan jalan setapak untuk kerja lengkap dengan tali jangkar, tali pengikat, dan pemberat 60 kg terbuat dari cor beton.

Penebaran spat

Telur yang menetas dihatchery (tempat pembenihan ) dipelihara selama 45 hari, sehingga diperoleh spat dengan ukuran 4-5 mm. Spat menempel pada lembar kolektor yang berupa paranet (waring) ukuran 30 cm x 30cm. Jumlah yang menempel bervariasi, sekitar 100-200 perlembar kolektor. Kolektor dengan spat ukuran 4-5mm bisa ditebar kelaut,dimasukan kedalam frame kubus ukuran 35 cm x 50 cm x 70 cm (terbuat dari 2 kubus yang disusun bertingkat). Penebaran biasanya dua kubus memuat 10 lembar kolektor dan kemudian dimasukan ke dalam kantor waring dengan ukuran mata halus, untuk menghindari predator atau pemangsa dan gangguan hewan air dari luar. Tugas nelayan,membersihkan / mencuci kantong waring itu setiap 1-2 minggu agar aliran air yang membawa makanan untuk spat dan benih berjalan dengan baik. Jika ada spat jatuh karena penempelan kurang kuat atau pengaruh arus dll, maka masih bisa diselamatkan. Pada saat pencucian, benih yang rontok bisa dipindahkan kewaring yang baru dan selama masih hidup benih ini akan segera mencari tempat untuk menempel kembali.setelah umur 1bulan dilakukan grading atau seleksi ukuran sekaligus menghitung jumlah benih ukuran 1cm yang dihasilkan dari total tebar spat. Benih ukuran 1 cm kemudian dipindahkan dari lembar kolektor (dengan cara memotong bisusnya) kedalam waring bendera. Tiap lembar waring bendera bisa berisi 100 benih siap jual. Jika untuk dibesarkan kembali menjadi ukuran 5-6 cm hanya di isi 50 benih. Untuk pemeliharaan selanjutnya hingga ukuran 3 cm masih perlu diamankan dari gangguan predator. Setelah ukuran 3-4 cm baru kemudian dimasukan kedalam waring anakan dan bisa dipelihara tanpa kubus hingga mencapai ukuran 5-7 cm yang banyak diminati pembeli.

Panen,transportasi dan pemasaran

Panen dimulai dengan melakukan grading ukuran karena harga berbeda setiap cm. Untuk transportasi kering, dilakukan dengan styrofoam ukuran 35 x 70 cm, dasar styrofoam diisi dengan spons yang dibasahi dengan air laut, handuk atau sejenisnya.

Benih ukuran 1 cm dalam waring bendera atau anakan ukuran 5 cm dimasukan dan disusun hingga styrofoam hampir penuh. Lakukan secara hati-hati jangan di tekan. Kemudian dibagian paling atas dan samping ditaruh es batu air laut yang dibuat dalam botol plastik dan dibungkus koran kepadatan styrofoam ukuran 35 x 70 cm bisa mencapai 6000 ekor benih ukuran 1 cm atau 500 hingga 1000 ekor benih ukuran 5 cm. Styrofoam ini mampu diangkut selama 12 jam untuk benih ukuran 1 cm dan 15 jam untuk benih yang berukuran lebih besar yaitu 5 cm tanpa terjadi kematian berarti program iptekmas ini juga menjalin kerja sama dengan pengusaha sebagai pembeli produk atau benih yang akan dihasilkan dari program tersebut. Ada dua ukuran yang diminta yaitu ukuran 1 cm atau umur 1 bulan dengan harga Rp 300-Rp 500 per ekor benih. Sedangkan ukuran besar 5- 7 cm atau umur 7-8 bulan dibeli dengan harga Rp 1000-Rp 2000 per cm dan semakin besar semakin mahal. Untuk tahap awal nelayan cenderung menjual ukuran kecil karena lebih cepat mendapatkan uang. Pemeliharaan untuk ukuran besar (>3cm) lebih mudah karena cangkangnya sudah kuat, adaptasi lingkungan sudah baik, tdak rawan terhadap predator. Tapi untuk ukuran 2-4 cm dinilai paling kerisis terhadap kematian karena berbagai penyebab seperti predator, lingkungan dll. Dan biasanya kematian tinggi pada umur tersebut. Karena itu pasar yang sekarang diminati adalah ukuran 1 cm atau ukuran lebih besar dari 5 cm. Sementara itu untuk menambah keuntungan, beberapa petani memadukan pendederan tiram mutiara(produksi benih ukuran besar 5-6 cm) dengan memanfaatkan bagian tepi kja ikan untuk menggantungkan waring anakan. 1 kja mampu memelihara 15000 benih yang hanya dikerjakan oleh satu orang dengan 8 hari kerja per bulan untuk membersihkan waringnya. Peluang lainnya, petani bisa memanfaatkan lubang kja bagian dalam untuk memelihara lobster. Baby lobster ukuran campuran dibeli dari nelayan dengan harga Rp120.000 per kg. Kemudian dipelihara selama 3 bulan dan dipanen dengan harga Rp270.000 perkg, dengan ukuran sekitar 10 ekor per kg.


sumber: majalah trobos edisi april 2010 hal 84-85

Pengendalian Hama Predator Benih ikan (Labi-labi)

Pengendalian Hama Predator Benih ikan (Labi-labi)

Pembudidaya ikan yang kurang mengawasi kolam ikannya, kadang akan kesulitan mengetahui kehadiran labi-labi. karena jika labi-labi telah berada di kolam, labi-labi suka menyembunyikan diri. Adapun untuk mengetahui bahwa kolam ada labi-labinya kita bisa melihat dengan berkurangnya populasi ikan yang dipelihara dan bangkai ikan yang mati tidak ditemukan, patut dicurigai bahwa pelakunya adalah labi-labi.
Hal yang lain untuk bisa dijadikan petunjuk bahwa kolam ikan ada labi-labinya adalah dengan melihat air kolam jika air kolamnya keruh maka bisa disebabkan oleh labi-labi yang menyelam ke dalam lumpur.

Untuk mengendalikannya cara efektif adalah menangkap labi-labi tersebut dengan serok/tangguk. cara lain yaitu dengan memancing labi-labi dengan menggunakan umpan daging seperti anak ayam/ikan. Cara yang lainnya yaitu dengan cara mengeringkan kolam ikan sekering mungkin dan dipastikan di dalam lumpur tidak terdapat labi-labi.
Pembersihan kolam dari tempat persembunyian labi-labi harus dilakukan secara berkala.