Tampilkan postingan dengan label Sejarah Ikan Cupang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Ikan Cupang. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Mei 2012

Cupang Hias | Primadona Ikan Kontes

Cupang Hias
Cupang Hias, Primadona Ikan Kontes

Di sentra ikan hias, tampilan cupang hias (Betta sp) cukup menarik perhatian. Barangkali karena warnanya yang menarik. Dan belakangan ini satwa air ini sedang naik daun. Mungkin inilah satu-satunya ikan yang memiliki situs di internet terbanyak, yakni 27 buah.
Penggemarnya pun tidak terbatas dari kelas gedongan saja, namun juga kaum pinggiran, mulai anak-anak hingga kakek-kakek. Di mana-mana orang mengoleksi dan berburu jenis (warna) baru.

Jika sudah begini jadinya, persoalan harga biasanya tidak masalah lagi. Apalagi kontes ikan ini kerap digelar di kota-kota besar oleh para penggemarnya.
Bagi pemilik cupang yang memenangkan kontes, otomatis akan menaikkan gengsi sang pemiliknya dan mendongkrak harga jualnya. Keturunannya (anak cupang) juga bakal laku di pasaran dan untung sudah di depan mata.
Cupang ini, khususnya yang jantan mempunyai bentuk tubuh yang langsing, proporsional, sirip yang panjang, dan warna yang lebih mengkilat. Oleh sebab itu tidak heran bila banyak yang ”jatuh cinta”.
Yang menjadi ciri khas ikan ini adalah ia paling suka memamerkan keindahan ekornya. Apalagi jika di dalam akuarium atau toples ditaruh betina, maka serta merta ekornya mengembang indah.
Sembari berenang ke sana sini, jantannya mendekati lawan jenisnya seperti merayu. Warna sisiknya menjadi cemerlang dan indah. Atau jika toplesnya didekatkan dengan toples berisi cupang jantan lain, mereka pun saling mengembangkan ekornya, seakan ingin menyerang. Semakin ikan itu agresif, maka semakin bagus.
Aspek lain yang menarik dari fenomena cupang saat ini, mungkin daya jualnya yang lumayan tinggi. Cupang dengan ukuran kurang lebih 8 cm bisa mencapai ratusan ribu rupiah, bahkan jutaan rupiah.
Ini amat berbeda dengan kondisi ketika sepuluh tahun lalu. Apalagi fenomena ini didukung adanya usaha yang terus-menerus dari pakar dan hobiis cupang untuk melakukan kawin silang agar didapat keturunan baru (strain), yang diharapkan bakal memiliki kelebihan-kelebihan baru ketimbang induknya.
Walhasil tiap tahun ada saja varietas baru yang muncul. Jelas ini banyak segi positifnya. Pertama, pasar tidak menjadi jenuh karena jenisnya tidak hanya itu-itu saja. Yang kedua, harga cupang malah semakin menjulang. Karena para penggemar yang fanatik dan suka berkontes itu tentu akan mencari cupang yang bermutu. Sementara jenis cupang yang ”ketinggalan zaman” akan tenggelam.
Ada kebiasaan yang dilakukan jika usai kontes. Cupang yang menjuarai kontes akan dilelang.
Menurut sebagian besar penggemar, ini sangat baik. Sebab secara tidak langsung menciptakan harga standar bagi yang juara dan yang bukan. Semakin aneh dan indah, maka nilainya menjadi tinggi. Lelang bagi penggemar adalah saat yang ditunggu-tunggu.
Fenomena lain yang menarik perhatian adalah telah berkembang usaha budidaya cupang yang berorientasi pasar. Para peternak saling berlomba untuk menciptakan strain baru dengan berbagai variasi warna, pola sirip dan bentuk badan. Makin unik cupang yang dihasilkan maka nama peternaknya ikut terangkat. Sebab boleh jadi bakal-bakal juara telah dilahirkan di situ.

Asal-usul
Ikan ini, menurut data, telah dikenal dan dipelihara sebagian masyarakat kita sejak tahun 1960-an. Kala itu harganya masih murah dan pamornya sama dengan ikan hias lain. Variasi sirip dan warna saat itu belumlah semeriah dan seelok seperti sekarang. Begitu juga penggemarnya belum banyak dari kalangan gedongan.
Perubahan terjadi ketika tahun 1970 para importir memasukkan jenis cupang yang baru. Jenis yang masuk ada yang bersirip pendek dan panjang. Sirip pendek akhirnya dikenal sebagai cupang laga (aduan), dan yang bersirip panjang (slayer), sebagai cupang hias.
Kedua macam cupang ini sama-sama agresif, namun yang berjenis panjang, lebih bisa dinikmati karena keindahan ekornya. Mungkin kalau sampai diadu, ekor yang indah itu akan rusak.
Kehebatan cupang ini adalah ia memiliki labirin yang membuatnya bisa bertahan hidup di air yang kadar oksigen terlarutnya minim. Maka mereka mampu hidup di rawa-rawa, persawahan dan air dangkal. Hidupnya berkoloni di perairan yang tenang, yang umumnya memiliki pH 6,5—7,2 dan suhu air 24—30 derajat Celsius.
Cupang ekor panjang, menurut catatan, amat dominan sampai 1990-an, sebelum budidaya yang dilakukan hobiis ikan cupang mampu menghasilkan jenis-jenis baru yang lebih cantik dan indah. Cupang hias generasi baru mempunyai ekor yang dihiasi tulang sirip yang menonjol. Bentuknya ada yang seperti duri panjang membentuk seperti sisir atau lazim disebut serit. Ada pula yang menggelembung seperti balon-balon kecil.
Sampai kini usaha budidaya ikan cupang masih terus berlangsung. Oleh sebab itu kemungkinan jenis-jenis baru bakal bermunculan. Buat penggemar, keberhasilan mendapatkan satu jenis baru yang mempunyai kelebihan dibandingkan dengan jenis sebelumnya adalah prestasi tersendiri.
Cupang hias yang baik, secara umum, tubuhnya tidak cacat dan proporsional. Sirip-siripnya lebar dan panjangnya maksimal, rapi dan utuh. Begitu juga warna tubuhnya cemerlang dan bermental bagus. Sirip yang rapi dan utuh itu akan membuat ikan ini tampil anggun saat sedang agresif.
Faktor mental yang tidak mudah ciut menentukan juga apakah ia tergolong jenis yang baik. Sebab dengan kondisi ”terjaga dan siap menyerang” itu membuatnya tetap bergaya walau disandingkan atau dihadapkan dengan lainnya.
Kriteria cupang hias yang lebih spesifik, ketika beberapa tahun lalu agak sulit didefinisikan. Menurut pakar, hal itu karena banyaknya variasi dari hasil persilangan yang gencar dilakukan oleh para hobiis belakangan ini. Namun karena kerap diadakan kontes maka kini ada pembagian kategori berdasarkan warna dan bentuk sirip.
Menurut Irwan Sugandy, pakar cupang, ada kategori warna dasar (solid). Yang masuk golongan ini adalah cupang yang warna dan sirip-siripnya satu warna. Misal biru, merah, dan hitam. Cupang kategori ini terbilang sempurna jika seluruh warna tubuh dan sirip sama, cemerlang dan rata.
Ada juga kategori warna kombinasi. Golongan ini biasanya mempunyai warna tubuh dan sirip lebih dari satu warna. Cupang kombinasi yang terbagus jika memiliki komposisi warna yang harmonis, di samping juga tubuh dan siripnya. Kalau terdiri dari tiga macam warna, cupang itu disebut three colour.
Kategori lain, tambah Irwan, adalah cupang maskot. Disebut maskot jika kepalanya putih dengan bercak-bercak merah. Warna tubuhnya putih atau keperak-perakan, dengan variasi bercak merah, biru, atau hijau. Sementara sirip-siripnya kombinasi merah putih; merah hijau; atau merah biru.
Ada juga kategori khusus, yakni cupang yang unik. Misalnya, yang ekornya terbelah (cagak) dan halfmoon. Cupang halfmoon, tergolong baru dikenal di kalangan hobiis Indonesia. Asal-usulnya ada yang menyebutkan dari Amerika Serikat, namun ada pula yang mengatakan dari Prancis.
Tipe cupang ini siripnya lebar dan mempunyai bentuk yang saling berimpit antara sirip ekor, punggung, dan perut. Tepiannya tidak berserit, namun bergerigi. ”Penampilannya bertambah anggun jika ia sedang dalam keadaan marah. Dia akan mengembangkan siripnya yang bak setengah bulan itu,” ujar Irwan.

Selasa, 14 Februari 2012

An historic overview: The development of Betta Splendens tail forms

In 1849 Theodor Cantor published an article about a fighting fish that he called Macropodus pugnax [1, 2]. In 1909 C. Tate Regan realized that Cantor made a mistake and that pugnax already was an excisting related species. Regan renamed Cantor's fighting fish to the now common familiar name Betta splendens.

All the now so common known breeding forms of Betta splendens were derived from the short-finned (plakat) wildtype. For ages the short-finned form was held by the people in Thailand. The Thai bred fighters from wild caught bettas. Their main objectives were to develop its fighting nature, hardiness, size, fighting style and color. Selection of breeders was made by organizing fights with bettas from other breeders. The winner became the model for the next generation of fighters.

Because natural selection was not present here, after many generations bettas arose with a slightly longer dorsal and caudal fins. These fish didn't have the desired "fighting spirit" because they were less aggressive and couldn't manoeuvre as fast than their short-finned cousins. This betta with longer fins was now only bred for their beauty. Probably this form was already established when the Europeans and Americans came to South-East Asia in great numbers (1850). Around 1960 breeders from India succeeded to breed a bettas with to tailfins, the so-called doubletails. A typical characteristic of these fish is the extreme broad dorsal fin and the slightly shorter body length. Probably they wanted to loose this last characteristic by crossing doubletails with normal single tail bettas. The breeders noticed the offspring of these spawns had an improved form of the dorsal and caudal fins.

Slowly the aquariumhobby became more beloved in Europe and America. Asia responded to this by large-scale breeding of the longer-finned Betta splendens in big breeding-farms. Now hobbyists in Europe and America started to select these fishes in order to obtain certain characteritics in their fish. In 1960 an American breeder, Warren Young, succeeded to breed a betta with extreme long fins. Young called these bettas "Libby-bettas" after his wife Libby. These fish were sold to hobbyists all across the world and to the farms in Asia. It was this development that led to the now so familiar veiltail tailtype.

Around the same time a German breeder, Dr. Eduard Schmidt-Focke, bred the first deltatail betta. A betta with a symmetrical triangular tail shape. In 1967 in America the IBC (International Betta Congres) was founded. The IBC had the goal to breed Betta splendens with broad symmetrical fins instead of long. This resulted in fish with a better swim capacity. But still it took a long time before the other now so familiar tailtypes were developed. In 1980 some wellknown American betta breeders, like Peter Göettner and Paris Jones, developed the superdelta tailtype which were bettas with enormous fins. In 1984, the Frenchman Guy Delaval imported offspring of these fishes to France. Delaval selected and bred these to obtain a bigger angle of the caudal. In 1987 he succeeded to breed fishes with a 180 degrees angle. Rajiv Massilamoni realized that Deleval did what was thought to be impossible. Till that time most Betta splendens were asymmetrical deltas or superdeltas with a maximal spread of 160 degrees. Laurent Chenot and Rajiv Massilamoni started to cooperate in order to maintain this tailtype. They tried to breed these fishes but they were to much inbred. The male didn't make a nest anymore and didn't know how to wrap himself around the female. After many attempts they with petstore Betta splendens and different lines, Chenot and Massilamoni eventually succeeded to breed a fish which had a mother from Delaval and the father was a melano doubletail male from a American line. This fish was called R39, and was coupled to all the females in the lines of Chenot and Massilamoni. Again some fish showed up with the 180 degree spread. In 1991 the American betta breeder, Jeff Wilson saw these fishes an he called them "halfmoons". He started cooperating with Chenot and Massilamoni and the inbreeding of the American line led more frequent halfmoon appearance in the offspring. In 1993, Chenot, Massilamoni and Wilson showed on of their halfmoon fishes at the IBC show in Tampa Florida under the name CHENMASWIL. They won the "Best of show". This was the start of a true halfmoon fever.

The last 5-10 years another type of tail was developed. An Indonesian breeder, Ahmad Yusuf, developed the crowntail. Here the rays extended to outside the edges of the fin. This is why the fins get a "comb-like"appearance (is also called the combtail treat).

But the developments of the different tailtypes are still going on. People all across the world are still trying to develop halfmoons and crowntails with a better spreading and tailform. In the halfmoon breeding this already led to the development of halfmoon fish with a different ray-splitting (4-, 8- and 16-ray halfmoons). The better the ray-splitting, the better the tail is supported during the spreading. This support is especially important when the fish become older and their fins become longer. Other new developments in halfmoon breeding are the overhalfmoons, which have a spreading which is bigger than 180 degrees, and the rosetail halfmoon.

Also in the crowntail breeding this led to different variants with a different amount of rays which influences the number of the extentions (single, double, triple and double-double ray CT) but also influences the support and spreading of the tail.

By: Joep van Esch


Minggu, 05 Februari 2012

Sejarah Cupang Giant

Tahun 1999 pertama kalinya ikan cupang Giant dikembangbiakkan oleh seorang breeder Thailand bernama Mr Athapon (Uncle Sala) dan anaknya Mr. Natee, pemilik Diamond Fish Farm. Mereka mendapatkan seekor cupang plakat dikolam kepunyaan mereka yang memiliki ukuran panjang 4 inchi (10cm) dan kemudian mengembangkan ikan cupang tersebut. 
Mereka mencari indukan betina yang besar dari sekitar 300 an kolam mereka untuk pasangan si cupang plakat raksasa yang mereka miliki. Dengan gigih mereka melakukan selektif breeding dengan menyilangkan cupang raksasa tersebut sehingga dicapai ukuran dan bentuk yang dikehendaki. Pada tahun 2001 Uncle Sala mulai memasarkan cupang raksasanya dan menamakannya Giant Betta. Setahun kemudian dikirimnya giant betta ini mengikuti kontes cupang internasional IBC di Amerika Serikat.  
Pada awalnya untuk mencapai ukuran 3 inchi (7.5 cm) dibutuhkan waktu 8-9 bulan namun sekarang untuk mencapai ukuran yang sama dapat dicapai hanya dalam waktu 5 bulan saja. Sementara sirip dan warna sudah berkembang semakin bervariasi sehingga didapat giant halfmoon, giant double tail, giant serit. Ukuran terbesar yang dapat ditemukan adalah 5 inchi (12.5 cm) pada giant berumur lebih dari 1 tahun.