Tampilkan postingan dengan label mitra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mitra. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Maret 2012

Berburu Untung Ayam Goreng dari Yogyakarta


| Erlangga Djumena | Kamis, 8 Maret 2012 | 08:18 WIB

KONTAN/DOK MELIA

KOMPAS.com - Bisnis makanan olahan ayam tak pernah surut. Hadir dengan berbagai variasi menu, makanan olahan ayam tetap diburu konsumen. Tak heran, bila pengusaha makanan ini terus bermunculan.

Bukan hanya di pusat belanja, gerai-gerai yang menawarkan menu ayam juga bermunculan di pinggir-pinggir jalan atau kompleks perumahan. Usaha ini semakin marak dengan bermunculannya pemain yang menawarkan waralaba atau kemitraan.

Tawaran kemitraan terbaru datang dari PT Melia Pilar Utama (Melia Group). Sebelumnya, Melia Group telah dikenal sebagai pewaralaba bisnis binatu. Sebagai pendatang baru di bisnis kuliner ayam, Melia Group menawarkan kemitraan gerai ayam goreng dan ayam bakar Taman Siswa (Tamsis) milik Gatot Agus Wahyono. "Tawaran kemitraan ini merupakan hasil kerja sama kami dengan Pak Gatot selaku pemilik ayam goreng dan ayam bakar Tamsis," kata Fen Saparita, pemilik Melia Group.

Fen berharap, kolaborasi Ayam Tamsis dan Melia Group yang berpengalaman di bidang masing-masing dapat memajukan gerai ayam berkonsep resto tersebut. Dalam kerja sama itu, Melia Group berperan sebagai pengelola waralaba.

Tawaran waralaba sendiri baru dibuka Januari lalu. Dan, saat ini sudah ada lima calon mitra yang serius ingin bekerja sama. "Di antaranya berada di Jakarta, Solo, dan Bali," ujar Fen.

Ia menargetkan, jumlah mitra tahun ini sebanyak 12 sampai 15 mitra. Kepada calon mitra yang berminat, Melia Group menyiapkan dua paket investasi. Yakni, paket resto Rp 365 juta dan mini resto senilai Rp 245 juta. Nilai investasi itu berlaku untuk masa kerja sama selama lima tahun.

Selain itu, mitra juga akan mendapat peralatan lengkap dan bahan baku awal. "Yang membedakan dua paket tersebut hanyalah ukuran gerai dan jumlah bahan baku yang disediakan, namun secara konsep dan menu sama," ungkapnya.

Untuk harga jual diserahkan pada mitra. "Kami persilakan mitra melakukan penyesuaian harga sesuai lokasi dan kota masing-masing," jelasnya.

Terkait dengan omzet juga bisa berbeda-beda, tergantung lokasi dan harga. Contohnya, gerai Ayam Tamsis di Yogyakarta. Selama ini gerai tersebut selalu ramai diserbu pembeli karena harga yang ditawarkan masih terjangkau di kisaran Rp 7.500-Rp 8.000.

Dalam sehari, gerai ayam Tamsis bisa menjual hingga 100 kilogram (kg) ayam, dengan omzet harian mencapai Rp 10 juta. Ia memperhitungkan, jika lokasi memungkinkan, maka mitra bisa memperoleh penghasilan serupa di kota lain.

Dengan omzet sebesar itu dan dipotong royalty fee 5 persen dari omzet, maka mitra bisa balik modal dalam waktu 1,5 tahun. "Untuk paket mini resto kami memperhitungkan omzet mitra Rp 7,5 juta per hari," ungkapnya.

Menurut Fen, kelebihan Ayam Tamsis terletak pada bumbu khas Yogyakarta yang memadukan rasa manis dan asin. Selain rasa, ayam bakar dan ayam goreng di gerai ini juga memiliki tulang empuk. "Kami berharap bisa membuat gebrakan baru di tengah persaingan yang ketat dalam bisnis kuliner ayam," harapnya.

Bije Widjajanto, pengamat Waralaba dari Ben WarG Consulting menilai, prospek usaha resto ayam goreng dan ayam bakar masih cukup baik. Namun ada banyak hal yang harus diperhatikan, termasuk brand. Menurutnya, brand Ayam Tamsis sudah lumayan kuat.

Sementara perkiraan omzet di atas Rp 5 juta per hari dinilainya masih wajar untuk ukuran resto. "Sisi positifnya secara brand sudah baik, namun hal itu bukan jaminan bakal langsung sukses," imbuh Bije.

Menurut Bije, mengembangkan gerai kedua dan seterusnya cenderung lebih sulit jika gerai pertama sudah telanjur sukses dan dikenal masyarakat dalam waktu lama. (Fahriyadi/Kontan)

Sumber:
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/03/08/08184784/Berburu.Untung.Ayam.Goreng.dari.Yogyakarta

Senin, 05 Maret 2012

Kebul asap waralaba satai kian tipis

TAWARAN KEMITRAAN KULINER: SATAI

Kebul asap waralaba satai kian tipis

Kebul asap waralaba satai kian tipis

Satai merupakan salah satu makanan khas orang Indonesia. Di mana pun kalau terdengar kata satai pasti orang ingat Indonesia. Bahkan, Presiden Amerika Serikat Barack Obama yang semasa kecil pernah tinggal di Indonesia, juga masih ingat dengan makanan daging tusuk yang dibakar itu.

Lantaran minat masyarakat terhadap satai cukup tinggi, warung satai pun menjamur di mana-mana. Ini menyebabkan persaingan usaha satai ini terbilang sangat ketat.

Ada warung satai yang menggunakan bendera usaha sendiri, ada juga yang memakai konsep waralaba alias kemitraan. Ini yang menyebabkan kepulan laba dari waralaba warung satai ini kini tak sebanyak dulu.

Lesunya bisnis satai ini, setidaknya tertangkap dari sejumlah waralaba satai yang dihubungi KONTAN. Mereka mengaku roda usaha tetap berputar tapi sudah kesulitan mendapat mitra baru. Bahkan, ada waralaba warung satai yang belum mempunyai mitra meski sudah menawarkan kemitraan sejak lama.

Ada juga yang sudah putus hubungan dengan mitra, lantaran bisnis kurang lancar. Selain itu, ada usaha yang jalan biasa-biasa saja dan tak bisa berkembang sesuai harapan. Berikut beberapa ulasan pasang surut kemitraan warung satai;


• Sate Ayam Kenanga

Kemitraan Sate Ayam Kenanga berasal dari Banjar, Jawa Barat. KONTAN pernah mengupas kemitraan ini pada September 2010.

Sate Ayam Kenanga sudah mulai menawarkan kemitraan sejak Maret 2010. Namun, kala itu mereka belum memiliki mitra sama sekali. Sate Kenanga hanya memiliki dua gerai milik sendiri di Banjar, dengan rata-rata omzet senilai Rp 7,2 juta per bulan.

Kini, setelah dua tahun berlalu, Sate Ayam Kenanga juga masih sepi peminat. Rohani, pemilik Sate Ayam Kenanga, menceritakan, sampai saat ini masih terus gencar mempromosikan tawaran kemitraan Sate Ayam Kenanga. "Kami menargetkan pada tahun ini, ada delapan mitra yang akan bergabung," ujar Rohani.

Ia optimistis, bisa mendapatkan mitra karena terus melakukan perbaikan secara berkala, sambil gencar melakukan promosi, baik lewat media maupun relasi.

Rohani belum mengubah tawaran nilai investasi awal yakni sebesar Rp 15 juta untuk masa kontrak lima tahun. Dengan nilai investasi tersebut, sang mitra akan mendapatkan peralatan dan perlengkapan penjualan, gerobak satai, alat pemanggang dan bahan baku awal sebanyak 1.000 tusuk satai.

Nilai investasi Rp 15 juta tersebut juga sudah termasuk royalty fee selama lima tahun. Setelah itu, mitra hanya membayar royalty fee sebesar Rp 1 juta sebagai uang pembaharuan kontrak perjanjian kemitraan selama lima tahun berikutnya.

Rohani membanderol harga jual satai antara Rp 8.000 hingga Rp 15.000 per porsi. Harga tersebut tergolong wajar untuk penjualan satai pada umumnya.

Ia yakin, sang mitra bisa balik modal maksimal 10 bulan setelah tahap pertama menjalankan bisnis satai. Dengan catatan, si mitra berada di lokasi yang tepat dan banyak calon konsumen.

Menurut Rohani, tawaran kemitraan ini masih masuk akal dan juga terasa meringankan bagi mitra. Itulah alasan mengapa Rohani masih optimistis bisa mendapatkan mitra pada tahun ini, meskipun setelah dua tahun menawarkan kemitraan, belum juga ada yang cocok.


• Sate Ayam BK Ponorogo

KONTAN pernah mengulas tawaran waralaba satai ayam ini pada November 2008. Waralaba ini menyasar kalangan menengah dan saat itu mereka sudah memiliki tujuh cabang. Tiga di antaranya milik sendiri, dan empat lainnya merupakan terwaralaba, masing-masing ada di Yogyakarta dan Jakarta.

Kini, bisnis waralaba Sate Ayam BK Ponorogo mulai meredup. Semua terwaralaba sudah gulung tikar, sehingga tinggal mengandalkan gerai milik sendiri. Saat ini, tiga cabang milik sendiri masih tetap beroperasi.

Juru Bicara Sate BK Ponorogo, Utomo Njoto bilang, Sate Ayam BK Ponorogo saat ini juga sudah tidak lagi menawarkan waralaba. Pasalnya, Sate BK Ponorogo sedang melakukan konsolidasi ke dalam. "Kami sedang membenahi usaha ini dari dalam," ujarnya.

Utomo mengaku alasan penutupan gerai milik mitra lantaran tak punya tenaga kerja yang andal. "Banyak tenaga kerja yang hanya keluar masuk," keluh Utomo.

Ke depan, Sate Ayam BK Ponorogo akan menghindari format kerja sama dalam bentuk gerobak atau sistem membuka gerai sendiri. Sebab, berdasarkan pengalaman lalu, format kerja sama semacam itu tidak manjur. Sate Ayam BK Ponorogo akan menjajaki konsep mini resto di mana mereka langsung membuka restoran untuk menjajakan satai miliknya.

Selain itu, Utomo juga sedang mengkaji menawarkan menu satai ke restoran-restoran yang sudah ada. Mereka akan menggunakan sistem kerja sama dengan sejumlah restoran untuk menjajakan satai yang mereka buat.

Sebelumnya, Sate Ayam BK Ponorogo menawarkan sistem waralaba dengan franchise fee Rp 20 juta untuk lima tahun. Selain itu, calon mitra harus menyediakan dana segar senilai Rp 10 juta untuk membeli gerobak dan perlengkapan operasional lain.

Nah setelah beroperasi, Sate Ayam BK Ponorogo memungut royalty fee sebesar 5% dari omzet, dan marketing fee sebesar 3% yang mulai dipungut pada bulan keempat pasca-beroperasi.

Mitra juga wajib membeli 5 kilogram bumbu satai dan 10 kg bumbu kacang untuk kebutuhan operasional. Nah, seorang calon mitra minimal harus menyediakan dana untuk investasi awal Rp 40 juta untuk membuka usaha Sate Ayam BK Ponorogo.

Mitra dijanjikan balik modal dalam satu tahun asal omzet Rp 13 juta per bulan, dengan asumsi penjualan rata-rata 300 - 400 tusuk per hari. Harga satai Rp 1.400 per tusuk atau Rp 14.000 seporsi (10 tusuk).


• Sate Haji Romli

Satu lagi waralaba warung satai yang tumbuh stagnan yakni Waralaba Sate Haji Romli yang berpusat di Jakarta. Saat KONTAN menulis waralaba ini Februari 2010, Sate Haji Romli sudah memiliki empat mitra. Mitra ini tersebar di Jalan Pulo Raya, belakang Kantor Wali Kota Jakarta Selatan. Selain itu ada pula yang berlokasi di Taman Sriwijaya 2, Bintaro Sektor III, dan Kuningan.

Sekarang, satai yang dikenal sebagai Sate Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) ini tinggal memiliki tiga mitra. Maerah, pemilik Sate Haji Romli bilang, mereka berencana membuka satu lagi cabang Sate Haji Romli di Tebet, Jakarta Selatan dalam beberapa bulan mendatang.

Meskipun pertumbuhan mitra tergolong lambat, Maerah mengklaim, bisnis Sate Haji Romli masih kinclong karena mereka sudah punya pelanggan yang loyal.

Sate Haji Romli juga masih tetap membuka peluang kemitraan dengan investasi Rp 5 juta. Mitra akan mendapatkan perlengkapan masak, peralatan makan, dan pelatihan.

Waralaba ini menjual satu porsi satai berisi 10 satai dan lontong ke mitra sebesar Rp 12.000. Perinciannya biaya 10 tusuk satai Rp 10.000 dan lontong Rp 2.000. Nah, mitra bisa menjualnya ke pelanggan seharga Rp 18.000 per porsi. Dengan demikian, mitra bisa meraup untung sebesar Rp 6.000 per porsi.

Nah apakah Anda masih tertarik bisnis satai?

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/kebul-asap-waralaba-satai-kian-tipis/?utm_source=twitterfeed&utm_medium=twitter

Kamis, 01 Maret 2012

Nikmatnya menggaruk komisi dari berjualan properti

TAWARAN KEMITRAAN BROKER PROPERTI

Nikmatnya menggaruk komisi dari berjualan properti


Nikmatnya menggaruk komisi dari berjualan properti

Menggeliatnya pasar properti di Indonesia beberapa tahun terakhir tidak saja hanya dinikmati para pengembang, tapi juga para broker atau agen properti. Jangan heran kalau bisnis broker properti saat ini semakin diminati banyak orang.

Sebab, di tengah booming-nya penjualan properti, jasa para broker ini sangat dibutuhkan. Banyak calon pembeli atau penjual properti merasa lebih mudah dan terjamin menggunakan jasa para broker. Hal ini tidak terlepas dari jaringan yang dimiliki para broker dalam memasarkan produk-produk properti.

Salah satu perusahaan broker properti terbesar di dunia asal negeri Uwak Sam yang hadir di Indonesia adalah Coldwell Banker Indonesia.

Broker properti ini mengambil master franchise dari Colwell Banker International pada tahun 2000 silam. Dibandingkan dengan broker properti lain di Indonesia, Coldwell Banker masih tergolong pemain baru. Produk-produk yang dijual Coldwell berupa rumah, ruko, tanah, dan apartemen.

Setahun setelah resmi membuka cabang pertama di Indonesia, Coldwell menawarkan waralaba pada tahun 2001. Hingga saat ini, Coldwell sudah memiliki tujuh mitra yang tersebar di beberapa tempat di Indonesia, seperti di Jakarta Selatan, Tangerang, Surabaya, Bali dan Semarang.

Dian Syanita Utami Dewi, Manager Franchise Coldwell Banker Indonesia bilang, Coldwell hanya menawarkan satu paket waralaba senilai Rp 150 juta. Perinciannya, sebesar Rp 105 juta untuk biaya franchise fee selama lima tahun.

Sementara itu, Rp 45 juta sisanya dipakai buat pengadaan paket peralatan yang mendukung sistem operasional kantor. Selain itu, ada juga pelatihan menjadi broker

Menurut Dian, para mitra akan mendapatkan pelatihan dan dukungan dari Coldwell asal Amerika. Coldwell Indonesia juga akan menyediakan sistem, pedoman kebijakan dan bantuan pengoperasian kantor selama lima tahun masa franchise.

Coldwell menargetkan, estimasi omzet mitra sebesar Rp 5 miliar per bulan. "Ini dengan asumsi mitra dapat menjual dua hingga tiga unit rumah per bulan," ujar Dian.

Dari omzet tersebut, mitra akan mendapatkan komisi sebesar 2% hingga 3% dari harga penjualan, tergantung kesepakatan dengan klien. Dengan margin sebesar itu, mitra bisa balik modal dalam waktu enam bulan.

Dalam kerja sama ini, Coldwell memungut royalti fee sebesar 8% dari mitra. Selain itu, ada juga pungutan 2% untuk mendanai iklan nasional. Kelebihan yang ditawarkan adalah brand Coldwell yang sudah mendunia dan sudah berdiri lebih dari 100 tahun di Amerika Serikat.


Syarat ketat

Bagi yang berminat menjadi mitra, Coldwell menerapkan persyaratan ketat, seperti mengharuskan calon mitra membuat rencana bisnis tentang usaha yang akan dijalankan. Mitra juga harus memiliki jiwa persistence serta mau terjun langsung ke lapangan dan bukan diserahkan kepada orang lain.

"Soalnya kunci keberhasilan suatu kantor agen properti sangat bergantung pada si mitra dan para marketing-nya," pungkas Dian.

Coldwell sendiri tidak menargetkan penambahan mitra tahun ini. Perusahaan lebih memfokuskan diri pada upaya meningkatkan penjualan secara maksimal dari para mitra yang sudah ada.

Ketua Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI) Levita Supit menilai, bisnis broker properti harus memiliki sejumlah inovasi. Apalagi, bisnis ini kompetisinya juga semakin ketat. Ini ditandai dengan banyak broker lokal yang tidak bernaung di satu agensi tertentu.

Karena ketatnya persaingan, ia menyarankan, waralaba broker ini sebaiknya hanya menetapkan satu mitra di satu daerah. Dengan begitu, mereka bisa meraup pangsa pasar yang lebih besar serta tak bersaing antarbroker.

"Tapi semuanya tergantung respons masyarakat juga. Kalau respons masyarakat baik, ya, bisnis ini relatif bagus," katanya.

Namun khususnya di Jakarta, lebih dari satu mitra tidak masalah. "Di Jakarta pasarnya besar. Tapi kalau di daerah lain, saya rasa harus dibatasi supaya antar mitra tidak saling memakan," tandasnya.


Coldwell Banker Indonesia
Headquarter Kawasan Bisnis Granadha 12th B Floor
Jl. Jenderal Sudirman Kav. 50 Jakarta 12930
Telp: 021 25539388

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/nikmatnya-menggaruk-komisi-dari-berjualan-properti

Selasa, 28 Februari 2012

TAWARAN KEMITRAAN KULINER: SUSHI


Haik, bisnis sushi masih menjanjikan

Haik, bisnis sushi masih menjanjikan

Ragam makanan Jepang kini makin diminati di Indonesia. Dari sekian banyak makanan khas Jepang, salah satu menu yang sedang naik daun adalah sushi.

Menu Jepang ini cepat kondang seiring semakin banyaknya gerai-gerai makanan yang mengusung menu utama sushi. Kebanyakan gerai tersebut merupakan hasil kemitraan dengan pengusaha lokal. Selain itu, tentu ada juga hasil kerja sama dengan waralaba restoran Jepang yang masuk Indonesia.

Kendati persaingan makin ketat, peluang bisnis ini masih menjanjikan. Terbukti, gerai-gerai sushi tetap ramai diserbu pembeli. Tingginya animo konsumen itu turut mendorong penambahan jumlah mitra para pewaralaba sushi.

Nah, berikut ulasan mengenai perkembangan beberapa kemitraan sushi, seperti Sushi Don Bouri, Ikki Suhsi, dan Zushioda Japanese Street Sushi.


• Sushi Don Bouri

Pada Oktober 2010 lalu, KONTAN telah mengulas bisnis waralaba Sushi Don Bouri yang bermarkas di Semarang, Jawa Tengah. Saat itu, Sushi Don Bouri sudah memiliki empat gerai yang semuanya berada di wilayah Semarang.

Dari empat gerai itu, tiga di antaranya milik sendiri dan satu milik mitra. Kini, jumlah mitra Sushi Don Bouri sudah bertambah empat lagi. Jumlah gerai sendiri tetap tiga, sementara sisanya milik mitra.

Tidak hanya Semarang, mitranya kini sudah tersebar di Solo dan Surabaya. Pengelola Sushi Don Bouri, Natan Andres bilang, peluang untuk menambah mitra masih terbuka lebar. Bahkan, saat ini sudah ada calon mitra Sushi Don Bouri yang ingin membuka cabang di luar Pulau Jawa.

Sementara ini tawaran tersebut masih dipertimbangkan. Sebab, menurut Natan, pihaknya tidak ingin gegabah menerima tawaran itu tanpa melakukan kajian pasar terlebih dulu. Menurutnya, Sushi Don Bouri harus jeli melihat pasar dan lokasi gerai. "Kami harus melakukan survei lokasi dan pangsa pasarnya sebelum menjalin kemitraan," ujarnya.

Dalam tawaran kemitraan ini, Sushi Don Bouri belum menaikkan paket investasinya yang sebesar Rp 50 juta. Paket investasi itu berlaku untuk masa kerja sama tiga tahun. Dengan membayar sebesar itu, mitra akan mendapat perlengkapan memasak, alat makan, papan nama, dan pelatihan produk selama tiga bulan.

Dalam kerja sama ini, pungutan royalti fee sebesar Rp 1,5 juta per bulan tetap berlaku. Itu belum termasuk biaya kontrol kualitas yang rutin dijalankan. Hanya saja, untuk harga jual sudah mengalami kenaikan. Sebelumnya aneka macam sushi di gerai ini dibanderol mulai dari Rp 10.000-Rp 25.000 per porsi. Tapi, harganya saat ini sudah naik menjadi Rp 11.000 - Rp 32.000 per porsi.

Adapun dari segi menu tidak banyak mengalami perubahan. Sama seperti kemarin, gerai ini masih menawarkan menu utama berupa sushi, don bouri, dan bento.

Namun, supaya bisa lebih diterima konsumen, dilakukan beberapa inovasi. Di antaranya dengan meluncurkan menu baru. Menu utamanya sendiri tetap dipertahankan. "Menu utama ini harus tetap unik dan berkualitas supaya tetap diminati pelanggan," ujarnya tanpa menjelaskan inovasi yang dimaksud.

Yang jelas, kata Natan, dalam memasarkan produk makanan, pihaknya sangat konsen terhadap citarasa makanan tersebut.



• Ikki Sushi

Pada tahun 2011 lalu, KONTAN pernah mengulas tawaran waralaba Ikki Sushi. Kala itu, perusahaan makanan Jepang yang berdiri sejak 2008 tersebut baru memiliki tiga mitra. Seiring berjalannya waktu, mitra Ikki Sushi kini sudah semakin banyak.

Jumlah mitranya kini sebanyak 12 mitra yang tersebar di berbagai daerah, seperti Jakarta, Bandung, dan Pekanbaru. Pemilik Ikki Suhsi, Abri Mada mengatakan, peluang pasar bisnis makanan khas Jepang ini masih menjanjikan.

Pasalnya, lidah masyarakat Indonesia sudah mulai beradaptasi dengan makanan khas Jepang ini. “Saya yakin bisnis ini masih bagus dan masih akan terus berkembang," ujar Abri.

Ikki Sushi menawarkan paket waralaba dengan investasi Rp 180 juta. Itu belum termasuk biaya sewa tempat. Jadi baru sebatas franchise fee dan pengadaan kebutuhan peralatan yang diperlukan mitra.

Abri menargetkan, mitra akan meraup omzet rata-rata Rp 2 juta per hari, dengan laba bersih berkisar 20%. "Paling lama dua tahun setelah beroperasi, mitra sudah balik modal," jelas Abri.

Menurut Abri, ada beberapa hal yang perlu dilakukan supaya bisnis ini bisa eksis dan terus bertahan. Diantaranya perlu melakukan inovasi, terutama menu. Maklum, persaingan bisnis ini, belakangan mulai semakin ketat. Inovasi itu itu bisa menyangkut citarasa makanan, harga hingga pelayanan.

Abri sendiri akan mengembangkan konsep baru dalam mengelola bisnis ini. Rencananya, mulai tahun ini ia akan menerapkan konsep satu harga (one prize). Jadi, apa pun sushi-nya, Abri mematok harga hanya Rp 15.000. Ia berjanji tidak akan menurunkan kualitas makanan.

"Paling saya menurunkan margin saja. Biar margin keuntungan kecil, asal pelanggannya banyak kan sama saja,” tandasnya.

Adapun untuk menu, ia menawarkan beberapa varian menu baru, seperti bento dan ramen. Salah satu mitra Ikki yang sudah bergabung sejak tahun 2008, Alia Setyorini mengaku, perkembangan bisnisnya selama bergabung dengan Ikki Sushi lumayan memuaskan.

Ia mengaku, gerainya yang berada di Bekasi, Jawa Barat sudah memiliki banyak pelanggan. Melihat banyaknya peminat sushi, sejak 2011 lalu Alia membuka gerai baru di Bekasi Barat.

Kalau dirata-rata, omzet gerai per bulan sekitar Rp 30 juta, dengan laba mencapai 20%. Dengan omzet sebesar itu, ia mengaku sudah balik modal di tahun kedua.



• Zushioda Japanese Street Sushi

Tahun lalu, KONTAN pernah mengulas tawaran kemitraan dari Zushioda Japanese Street Sushi. Gerai makanan Jepang ini berpusat di Tebet, Jakarta Selatan. Saat KONTAN mengulas tawaran kemitraan ini tahun lalu, Zushioda belum memiliki mitra. Namun, saat ini mitranya sudah ada satu di Yogyakarta.

Selain itu, sudah ada 12 calon mitra lain yang tengah mengantre untuk bekerja sama. Penanggung jawab Zushioda, Putu Wibisana menuturkan, pihaknya memang menerapkan persyaratan yang ketat dalam memilih mitra. Sebab, bisnis makanan dari Negeri Sakura ini berbeda dengan makanan lainnya.

Seorang calon mitra, menurut dia, harus memiliki set up yang matang sebelum terjun ke dalam bisnis ini. "Jadi kami tidak mau asal menambah mitra saja," jelasnya.

Zushioda menawarkan satu paket kemitraan senilai Rp 38 juta. Biaya ini sudah termasuk peralatan, tapi persoalan tempat harus diurus sendiri oleh mitra. Zushioada menjanjikan omzet rata-rata per hari sebesar Rp 1 juta, dengan laba bersih sekitar 40%.

Dengan omzet sebesar itu, mitra bisa balik modal dalam waktu empat bulan pascaberoperasi. Menurut Putu, bisnis Sushi masih memiliki prospek yang bagus. "Banyak penggemarnya," kata dia.

Terlebih, Zushioada juga mengusung konsep gerai model kaki lima yang unik, sehingga menarik perhatian para penikmat kuliner. Harga yang ditawarkan juga masih terjangkau di kisaran Rp 12.000 - Rp 18.000.

Kendati murah, menu yang disajikan tetap harus berkualitas. "Kami punya menu andalan californian roll dan dragon roll," ujarnya.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/haik-bisnis-sushi-masih-menjanjikan/2012/02/28

Rabu, 08 Februari 2012

Leker Klenger, Tidak Ingin Kalah Dengan Kuliner Asing

Views :164 Times PDF Cetak E-mail
Rabu, 08 Februari 2012 11:00
Mencoba menghidupkan kembali makanan tradisional asli Indonesia dan prihatin melihat kuliner asing seperti burger, kebab, atau crepes lebih diminati masyarakat mendorong Aling melahirkan “Leker Klenger”. Bila kuliner tradisional ini tidak dilestarikan, bukan tidak mungkin anak cucu kita kelak tidak tahu adanya jenis makanan asli Indonesia ini.

leker0212Seperti disadur dari Intisari, Leker merupakan makanan tradisional yang sering disajikan orang Indonesia dulu kepada penjajah Belanda. Nama "Leker" sendiri muncul ketika orang Belanda ingin menggambarkan rasa enak dari kue ini. Makanan ringan ini dulu juga sering dijajakan di depan sekolah, tetapi akhirnya mulai hilang dan berganti dengan makanan seperti burger, tempura, atau makanan lainnya yang lebih modern.

Belakangan "Leker Klenger" mulai menyadarkan para pelaku bisnis kuliner untuk memulai sebuah usaha yang bukan saja untuk faktor ekonomi semata, tapi juga sebuah usaha untuk pelestarian cita rasa asli Indonesia. Dengan maraknya kampanye "100% INDONESIA" yang sedang digalakkan oleh pemerintah, "Leker Klenger" seperti ingin ambil bagian juga dalam bidang kuliner.

Aling pun sadar akan harus adanya modifikasian bentuk makanan tradisional ini agar dapat diterima kembali. Ia pun membuat kue leker ini lebih besar dari biasanya. Bayangkan saja jika biasanya kue leker dibuat dengan diameter sekitar 10 cm saja, "Leker Klenger" membuatnya dengan besar diameter 35 cm.

"Klenger" sendiri diambil dari bahasa Jawa yang diartikan makan sampai kekenyangan. Seakan-akan seperti hendak menggeser paradigma kue leker sebagai makanan ringan, menjadi sebuah makanan yang mengenyangkan untuk menyaingi superioritas burger, piza, crepes, atau kebab sebagai makanan pengganti nasi.

Belum lagi dari segi rasa yang beragam. Bila kue leker identik dengan rasa manis buah pisang dan cokelat, maka lain halnya dengan "Leker Klenger" yang menyajikan beraneka rasa manis lainnya seperti strawberry, vanila, durian, blueberry, dan kopi. Sajian leker modern seperti leker chillie dog, kornet, pizza, serta saus bolognaise juga disajikan bagi yang ingin menikmati kue leker tapi tidak suka pada makanan berasa manis.

Dari segi pengembangan bisnis, "Leker Klenger" juga patut diacungi jempol. Aling merasa sia-sia jika kampanye makanan tradisionalnya hanya berada di satu tempat. Ia pun mengemas usahanya dengan bentuk waralaba dan merancangnya menjadi sebuah bentukan fast food yang sehat. Dengan tidak ingin membebankan calon mitra dengan modal besar, "Leker Klenger" hendak membantu para wirausahawan pemula untuk menumbuhkan kecintaan terhadap produk asli Indonesia dengan modal bisnis sekitar Rp 5 juta saja. Saat ini "Leker Klenger" dapat dijumpai dibanyak tempat.

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/perusahaan-a-merek/nasional/merek/15018-leker-klenger-tidak-ingin-kalah-dengan-kuliner-asing.html

TAWARAN KEMITRAAN KULINER: STEIK

TAWARAN KEMITRAAN KULINER: STEIK

Lezat dagingnya, mantap pula labanya



Lezat dagingnya, mantap pula labanya Daging bakar alias steik (steak) kini termasuk santapan favorit masyarakat. Lihat saja warung-warung steik yang tak pernah sepi diserbu pembeli. Rasa yang enak dan gurih membuat hidangan ini cepat mendapat tempat.

Tak heran, bila bisnis makanan steik semakin marak. Terbukti, rumah makan, kafe atau restoran yang menawarkan steik kini makin menjamur. Meski sudah disesaki banyak pemain, toh pebisnis yang mengusung menu steik terus bertambah.

Salah satu pebisnis steik adalah pasangan suami isteri Ronny Wazier dan Early Riza Marini. Mereka menjalankan usaha Steak Kiloan sejak awal tahun 2011 di Duren Sawit, Jakarta Timur. Sejak akhir tahun lalu, pasangan ini menawarkan kemitraan.

Mereka mencoba mengembangkan usaha steik dengan mengusung slogan "sensasi makan steik nikmat namun hemat". Untuk menghasilkan citarasa steik yang enak disantap, mereka mengandalkan suplai daging standar internasional dari Indoguna Meat Shop. "Sementara bumbunya kami pakai citarasa lokal," kata Early Riza Marini, pemilik Steak Kiloan.

Soal harga, Steak Kiloan membanderol Rp 18.000 untuk steik daging lokal per 100 gram. Sementara steik daging impor Rp 24.000 per 100 gram. "Harga sudah termasuk kentang, sayuran dan teh manis. Dengan harga sebesar itu, kami menyasar segmen menengah bawah," ujar wanita yang akrab disapa Rini tersebut. Sebagai pendatang baru, Rini optimistis mampu bersaing dengan warung steik yang telah lebih dulu bercokol.

Steak Kiloan menawarkan paket investasi sekitar Rp 150 juta kepada calon mitranya. Tawaran kemitraan ini tidak memungut royalti fee. Dengan membayar investasi sebesar itu, mitra akan memperoleh peralatan membuka warung steik serta kerjasama selama lima tahun. "Investasi ini belum termasuk sewa tempat," tuturnya.

Rini menjanjikan, mitra bisa meraih omzet sekitar Rp 2,5 juta-Rp 3 juta per hari. Syaratnya, lokasi berjualan harus strategis. Dengan mengantongi omzet sebesar itu, mitra bakal balik modal selama kurun waktu enam bulan dengan keuntungan minimal 20%.

"Kami menyarankan lokasi yang dipilih mitra, hendaknya ada kompetitor steik yang lain guna membuktikan bahwa lokasi itu strategis untuk berjualan steik," ucapnya.

Rini mengklaim, kini sudah ada 18 calon mitra yang tertarik bergabung. Ia menargetkan, sampai akhir tahun ini memiliki 20 cabang kemitraan. "Saat ini kami baru memiliki satu cabang dan akan menambah dua lagi, nah sisanya milik mitra," paparnya.

Erwin Halim, pengamat waralaba dari Proverb Consulting mengatakan, sebagai pemain baru, sebaiknya Steak Kiloan memperbanyak cabang sendiri dulu. Dengan begitu, calon mitra bisa mendapatkan gambaran nyata tentang prospek usaha Steak Kiloan ini. “Perlu dua atau tiga cabang dulu, kalau berhasil silakan dimitrakan," ujarnya.

Dus, ia juga menilai, balik modal yang dijanjikan dalam waktu enam bulan, itu baru asumsi. "Itu belum bisa dibuktikan," ujarnya.


Steak Kiloan
Jl. Rawa Domba No. 17, Duren Sawit,
Jakarta Timur
Telp: 08118892086/ 021 93461965

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/lezat-dagingnya-mantap-pula-labanya/2012/02/08

Selasa, 07 Februari 2012

TAWARAN KEMITRAAN KULINER: KEBAB

Peluang Usaha

 
Selasa, 07 Februari 2012 | 12:32  oleh Fahriyadi, Noverius Laoli, Eka Saputra
TAWARAN KEMITRAAN KULINER: KEBAB
Enak disantap, laba kebab mantap
Kebab sudah makin akrab di lidah masyarakat kita. Makanan ringan asal Timur Tengah ini mulai populer di Indonesia sejak awal 2000-an. Para pewaralaba kebab ikut andil besar mempopulerkan roti isi daging ini.

Terbukti memiliki pasar, mereka pun gencar membuka gerai di mana-mana. Jangan heran, kalau sekarang kita bisa dengan mudah menemukan gerai kebab.

Bagi para pelakunya, bisnis ini masih menjanjikan. Bahkan peluang pasarnya pun masih sangat besar, terutama ke daerah-daerah. Indikasi ini terlihat dari penambahan jumlah mitra para pewaralaba kebab tersebut.

Strategi bisnis para pemain kebab juga menjadi resep usaha ini masih awet bertahan. Para pemilik kemitraan kebab berupaya melakukan inovasi mulai dari peremajaan menu secara periodik, memperbarui paket investasi, hingga meningkatkan kualitas dan variasi produk demi bertahan dari persaingan.

Nah, berikut ulasan mengenai perkembangan beberapa kemitraan kebab, seperti Kebab Kings, Corner Kebab, dan Zahfy Kebab.


• Kebab Kings

Mulai berdiri tahun 2006 dan membuka kemitraan tahun 2007, Kebab Kings racikan Bobby Hendrawan mampu berkembang cukup pesat. Saat KONTAN mengulas kemitraan kebab asal Surabaya pada 3 April 2009, Kebab Kings baru memiliki 75 mitra yang tersebar di 13 kota besar di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan, Bali, dan Nusa Tenggara.

Waktu itu, Bobby menawarkan paket investasi mulai dari Rp 45 juta-Rp 75 juta dengan omzet Rp 20 juta per bulan dengan balik modal 13-15 bulan. Hampir tiga tahun berlalu, gerai Kebab Kings sudah bertambah menjadi 345 gerai, 20 di antaranya milik sendiri.

Bobby bilang keberhasilannya merangkul mitra sebanyak itu tak lepas dari keagresifan mengenalkan tawaran usahanya hingga tingkat kabupaten. Selain itu, Bobby juga mengubah paket investasi yang ditawarkan ke calon mitra agar semakin menarik.

Kini, Bobby menawarkan empat paket investasi, yakni, memakai gerobak Rp 35 juta, booth Rp 40 juta, kios di mal Rp 50 juta, dan sepeda motor roda tiga Rp 55 juta.

Dari keempat paket itu mitra bisa memperoleh omzet antara Rp 15 juta-Rp 60 juta per bulan. "Kini mitra bisa balik modal antara 3-9 bulan," klaim Bobby.

Peningkatan omzet itu juga tak lepas dari perubahan harga jual ke konsumen. Sebelumnya Kebab Kings menjual produknya dari Rp 8.000-Rp 12.000 per porsi. Sekarang naik menjadi Rp 12.000-Rp 15.000 per porsi.

Bobby mengatakan, harga itu dapat disesuaikan dengan lokasi tempat mitra berjualan. Ia mencontohkan, harga jual kebab di Papua bisa Rp 18.000-Rp 20.000 per porsi. Ia yakin bisnis kebab ini masih cerah. "Tahun ini kami akan buka 255 gerai lagi," ujarnya.


• Corner Kebab

Pertumbuhan bisnis kebab juga dirasakan Ardiansyah Murdiawan, pemilik Corner Kebab yang bermarkas di Kompleks Ruko Ogie Plaza, Pamulang, Tangerang Selatan.

Jika Maret 2011, Ardiansyah hanya memiliki 110 gerai Corner Kebab yang tersebar di Pulau Jawa dan Kalimantan. Namun saat ini, jumlah gerai Corner Kebab mengembang dua kali lipat menjadi 226 gerai. "Punya saya sendiri hanya 10 gerai," kata dia.

Penambahan jumlah gerai tersebut tak terlepas dari usahanya untuk membangun brand Corner Kebab. "Saya banyak melakukan pameran di berbagai daerah," katanya.

Dia mengatakan, kebab harus dibangun sebagai makanan yang menyehatkan. Dus, demi memperkuat citra tersebut, Ardiansyah mewajibkan mitra memiliki lemari pendingin untuk menyimpan daging. "Supaya daging yang ada di tiap gerai segar," jelasnya.

Selain itu, Corner Kebab juga menawarkan menu baru yang menyehatkan bernama Kebab Gandum. Kebab ini terdiri dari biji gandum utuh yang kaya akan serat.

Karena semakin berkembang, tahun ini Ardiansyah mengubah paket investasi yang ditawarkan ke mitra. Untuk tipe outdoor gerobak misalnya, nilai investasi awal menjadi Rp 38 juta dari sebelumnya Rp 36 juta. Adapun tipe outdoor booth, sebelumnya Rp 46 juta, saat ini menjadi Rp 48 juta.

Target omzet, rata-rata per hari Rp 500.000 per hari atau Rp 13 juta per bulan dan bisa balik modal 15 bulan. "Prediksi omzet dan pengembalian modal masih sama seperti yang dulu. Saya mau membangun citra kebab sebagai makanan sehat dulu," imbuhnya.


• Zahfy Kebab

Merintis usaha kebab di tahun 2009 dan tak hanya menjual kebab tapi juga burger dan roti maryam menjadi daya tarik dari Zahfy Kebab. Tak heran, banyak yang berminat menjadi mitra Zahfy. Dus, pada awal 2010, Hefni Tri Sriyantono, pemilik Zahfy Kebab, menawarkan kemitraan.

Pada tanggal 22 Oktober 2010 lalu, KONTAN mengulas kemitraan kebab yang bercokol di Bekasi ini. Kala itu, Hefni memiliki tujuh gerai yang tersebar di Bekasi, Surabaya dan Sidoarjo.

Investasi yang ditawarkan saat itu terdiri dari tujuh paket investasi yang berkisar Rp 16 juta-Rp 65 juta dengan omzet Rp 15 juta per bulan dan balik modal sekitar 11 bulan. Dari sana Hefni juga mengutip royalty fee 3,5% dari omzet. Harga kebab pun dibanderol antara Rp 9.000-Rp 11.000 per porsi.

Saat ini, gerai Zahfy Kebab telah berkembang menjadi 28 gerai, 10 gerai di antaranya milik sendiri. Ia bilang, kebab makin disukai konsumen sehingga turut mendongkrak pertumbuhan gerainya. "Kini kami sudah sampai ke Samarinda dan Tarakan, Kalimantan Timur," ucapnya.

Lantaran makin berkibar, Hefni mengubah paket investasi menjadi enam paket dengan menghapus paket investasi Rp 16 juta. "Kini kami menawarkan investasi dari Rp 22,5 juta-Rp 65 juta," tuturnya. Dia mengatakan, omzet para mitranya kini bisa Rp 10,5 juta-Rp 24 juta per bulan, dengan balik modal 8 bulan-12 bulan.

Menurut Hefni, potensi bisnis kebab masih cukup bagus setidaknya hingga 10 tahun-15 tahun ke depan. Maka itu, Hefni berencana menambah gerai menjadi 50 gerai tahun ini dan 70% di antaranya dimiliki mitra. "Saya juga akan mengembangkan gerai di Singapura," imbuhnya.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/enak-disantap-laba-kebab-mantap

Jumat, 03 Februari 2012

TAWARAN KEMITRAAN KULINER: KEDAI KOPI

Peluang Usaha

 
Jumat, 03 Februari 2012 | 14:43  oleh Noverius Laoli
TAWARAN KEMITRAAN KULINER: KEDAI KOPI
Aroma bisnis kedai kopi lokal masih saja harum
Nongkrong di kedai kopi atau kafe telah menjadi gaya hidup sebagian kelompok masyarakat, khususnya di kota-kota besar. Suasananya yang santai, hangat, dan nyaman membuat kedai kopi menjadi tempat nongkrong favorit.

Beragam aktivitas juga bisa dilakukan di kedai kopi. Dari sekadar berkumpul bersama teman hingga bercengkrama dengan pekerjaan kantor. Terlebih, hampir semua kedai kopi kini menyediakan fasilitas hotspot yang memungkinkan pengunjung menjelajahi dunia maya.

Munculnya budaya kongko di kafe sambil ngopi tentu membawa berkah bagi pemilik kedai kopi. Tak terkecuali pemilik waralaba kopi yang mengusung brand lokal.

Untuk mengetahui perkembangan terbaru dari waralaba kedai kopi lokal ini, KONTAN akan mengulas kembali beberapa tawaran waralaba yang pernah ditulis sebelumnya. Di antaranya adalah tawaran waralaba dari Coffee Break di Malang, Frosty Blend Coffee di Jakarta, dan Zarric Coffee di Batam.

Dari tiga waralaba kopi itu, mereka mengklaim menikmati pertumbuhan jumlah mitra. Berikut ulasannya:


• Coffee Break

Coffee Break pertama kali berdiri tahun 2007 di Malang, Jawa Timur. Tiga tahun kemudian, kedai kopi ini resmi menawarkan waralaba. Saat KONTAN menulis waralaba ini pada 11 Maret 2011 lalu, Coffee Break telah memiliki 23 mitra yang tersebar di beberapa wilayah, seperti Palangkaraya, Pontianak, Samarinda, Bengkulu, Medan, Makassar, dan Manado.

Hingga saat ini, Cooffee Break berhasil menambah tiga mitra baru. Dengan begitu, total mitranya menjadi 26. Yudi Haryanto, pemilik Coffee Break mengklaim, masih banyak calon investor yang berminat membeli tawaran waralaba Coffee Break. "Tapi saya selektif memilih calon mitra," ujarnya.

Coffee Break juga sudah menaikkan biaya investasi awal untuk para calon mitranya. Contohnya, paket take away yang semula Rp 45 juta kini dipatok Rp 95 juta. Sementara paket dine in dari Rp 85 juta menjadi Rp 125 juta. Adapun paket kafe komplet naik dari Rp 200 juta menjadi Rp 235 juta. Di luar tiga paket itu, Coffee Break kini menawarkan juga paket lounge yang nilai investasinya mencapai Rp 185 juta.

Coffee Break juga sudah menaikkan banderol kopi yang dijualnya. Jika semula harga jual kopi berkisar antara Rp 7.000-Rp 10.000 per gelas, kini naik menjadi Rp 15.000 per gelas. "Harga masih akan naik lagi sekitar 30%-40%," ungkap Yudi.

Tujuan dinaikkannya harga dan paket investasi ini untuk mendongkrak brand Coffee Break, serta menyasar kalangan menengah atas. Dengan harga jual sebesar itu, ia menjanjikan mitra akan memperoleh omzet Rp 1 juta-Rp 3 juta per hari, atau Rp 30 juta-Rp 90 juta per bulan.

Mitra diyakini bisa balik modal dalam 6-12 bulan. "Khusus untuk paket kafe komplet mitra bisa memperoleh omzet Rp 100 juta-Rp 200 juta per bulan," ucap Yudi.

Tahun depan, Coffee Break berencana meluncurkan paket investasi Rp 500 juta. Paket ini akan dilengkapi varian menu restoran. Sementara itu, untuk pengembangan usaha, Yudi fokus membidik wilayah Jakarta, Bali, dan lombok.


• Frosty Blend Coffee

Frosty Blend Coffee berdiri pada 2009 di bawah bendera usaha bernama PT Tatacipta Mega Pelangi. Gerai kopi yang berpusat di Jakarta ini menawarkan kemitraan setahun berikutnya. Pada 16 Februari 2011 lalu, gerai kopi ini baru memiliki 10 mitra yang tersebar di Jakarta, Bandung, Medan, dan Surabaya,

Saat ini, jumlah mitranya sudah bertambah menjadi 16 yang tersebar di tiga daerah, yakni Serpong, Bontang, dan Solo. Kedai kopi milik Henny ini menawarkan tiga paket investasi. Yakni, paket counter, booth, dan bar yang masing-masing bernilai Rp 28 juta, Rp 38 juta, dan Rp 58 juta.

Hingga saat ini, tawaran paket investasi tersebut belum berubah. Hanya, estimasi perolehan omzet mitra yang mengalami revisi. Semula, omzet mitra diperkirakan berkisar antara Rp 7 juta, Rp 13 juta, dan Rp 24 juta per bulan. Dengan omzet sebesar itu, mitra bisa balik modal dalam kurun waktu 6 sampai 10 bulan.

Nah, saat ini diperkirakan, mitra bisa mendulang omzet Rp 20 juta-Rp 50 juta saban bulannya, dengan balik modal maksimal lima bulan. "Ini adalah bukti perkembangan bisnis kami," ujar Henny.

Untuk harga kopi dan aneka makanan yang dijual, ia mengklaim tidak mengalami perubahan. Yakni masih di kisaran Rp 10.000-Rp 25.000. "Hal yang membedakan, kini kami menjual kopi dengan citarasa tradisional dan ini mendapat respons positif," ujarnya.

Tahun ini, Henny menargetkan, jumlah mitranya bertambah sekitar 10 sampai 15 mitra lagi. Ia optimistis, target itu tercapai karena prospek bisnis kedai kopi masih cerah. "Kami bakal merambah Sulawesi dan Sumatera bagian selatan, karena karakteristik pasarnya cukup menarik," tandasnya.

Guna memuluskan ambisinya itu, ia mengaku sedang menyusun paket investasi baru yang nilainya lebih kecil dari paket counter. Ia berharap, dengan tawaran baru tersebut, gerai kopinya bisa eksis dan bahkan lebih maju lagi.


• Zarric Coffee

Saat KONTAN menulis tawaran waralaba Zarric Coffee pada April 2009, waktu itu, usaha yang dirintis Ashari Hasibuan ini baru memiliki tujuh gerai. Dari tujuh gerai itu, tiga milik mitra dan empat milik sendiri.

Sekarang, jumlah mitranya hanya bertambah satu dan gerai milik sendiri bertambah tiga. Sehingga, total gerai Zarric Coffee kini berjumlah 11. Gerai-gerai tersebut tersebar di Batam, Semarang, Jakarta, dan Bandung.

Ashari mengaku, belakangan memang fokus pada penambahan gerai milik sendiri ketimbang menambah mitra. Alasannya, dengan milik sendiri, ia merasa lebih leluasa mengendalikan bisnis kedai kopinya.

Kendati demikian, ia tetap menerima jika ada calon mitra yang berminat bergabung. Untuk tawaran paket investasi kepada mitra juga belum berubah. Investasi tipe Kaya Toas masih dibanderol Rp 190 juta dan tipe Espresso dihargai Rp 300 juta.

Untuk tipe Kaya Toas, mitra akan mendapatkan pasokan 15 varian kopi bubuk bercita rasa oriental Singapura. Sementara yang mengambil tipe Espresso mendapat pasokan 60 varian kopi bercita rasa internasional (western).

Selain pasokan kopi, mitra juga mendapatkan berbagai peralatan yang terdiri dari mesin pembuat kopi espresso, penanak telur, pemanas air, dan kulkas satu pintu. Mitra juga akan memperoleh seragam karyawan, alat promosi, dan pelatihan karyawan. "Termasuk paket produk perdana 1.000 cangkir," ujar Ashari.

Ia menargetkan, omzet mitra minimal Rp 100 juta hingga Rp 200 juta per bulan. Dengan asumsi, rata-rata penghasilan dalam sehari mencapai Rp 3 juta. Syarat menjadi mitra Zarric Coffe wajib memiliki ruko sendiri.

Pada tahun 2012 ini, Ashari menargetkan akan membuka minimal 10 cabang lagi di Jakarta dan Bandung. Ke-10 cabang tersebut adalah milik sendiri. "Sebab yang utama sekarang adalah memperbanyak gerai milik sendiri dan pertambahan mitra nomor dua," ujarnya.

Menurutnya, jika gerai semakin banyak dan sukses, otomatis makin banyak yang berminat menjadi mitra.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/aroma-bisnis-kedai-kopi-lokal-masih-saja-harum

Senin, 30 Januari 2012

TAWARAN KEMITRAAN KULINER: BEBEK GORENG

Peluang Usaha

 
Senin, 30 Januari 2012 | 13:39  oleh Muhammad Yazid, Noverius Laoli
TAWARAN KEMITRAAN KULINER: BEBEK GORENG
Laba bebek goreng bisa bikin kesemsem
Usaha bebek goreng memang tengah naik daun. Anda pun bisa mencoba usaha ini. Bila tak mau repot membuka usaha sendiri, banyak tawaran waralaba usaha bebek goreng.

Salah satunya datang dari Bebek Goreng Rahminten dari Lamongan, Jawa Timur. Dymas Tunggul Panuju, pemilik, mengatakan, dia memulai usaha tahun 2006 silam. Semula, ia mendirikan kedai dengan menu utama bebek goreng. "Seiring waktu banyak pegawai kantoran membeli bebek goreng saya," ujarnya.

Lantaran makin menjadi buah bibir, tahun 2009, Dymas memberanikan diri mewaralabakan usahanya. "Mitra saya sekarang sudah 14, tersebar di Surabaya, Malang, dan Lamongan," katanya.

Jika Anda tertarik dengan tawaran ini, Dymas mematok beberapa persyaratan. Pertama, membayar franchise fee Rp 30 juta, dan kedua, lokasi usaha harus milik sendiri.

Dari biaya investasi tersebut, mitra memperoleh satu unit motor, perlengkapan dapur mulai dari kompor hingga lemari es, branding lokasi usaha, serta bahan baku berupa bebek beku plus sambalnya sebanyak 80 porsi. "Untuk bahan baku diberikan sekali saja, seterusnya mereka harus bayar lagi," imbuhnya.

Tambahan lain, Dymas tidak membebankan royalty fee kepada mitra setiap bulan. Demi menjaga kualitas dan ciri khas Bebek Goreng Rahminten, seluruh mitra harus membeli bahan baku bebek goreng dari Dymas dengan harga Rp 6.500 per porsi. "Kami sarankan, agar mitra hanya mengambil untung minimal Rp 10.000 per porsi," ujarnya. Umumnya, harga Bebek Goreng Rahminten dijual Rp 16.500 hingga Rp 25.000 per porsi.

Dengan asumsi penjualan oleh mitra mencapai 80 porsi per hari, omzet yang bisa dikantongi bisa sebanyak Rp 60 juta per bulan. "Laba bersihnya bisa 40% hingga 50%," imbuh Dymas.

Dymas yakin usaha bebek goreng masih prospektif kendati persaingan sengit. "Saya punya peternakan bebek sendiri dengan jumlah sekitar 11.000 ekor, jadi harga bahan baku dari kami lebih murah," tuturnya.

Amir Karamoy, Ketua Dewan Pengarah Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia mengamini, bisnis bebek goreng hingga saat ini masih bagus. Sebab, penikmat jenis makanan ini terus mengalami peningkatan.

Meski demikian, ia mengingatkan, persaingan bisnis ini kian ketat karena semakin banyak penjualan bebek goreng. Dus, perlu ada ciri dan rasa khas tertentu yang ditonjolkan oleh pewaralaba agar tidak kalah bersaing.


Kantor Pusat Bebek Goreng Rahminten
Jl. Soewoko No. 55, Lamongan,Jawa Timur
Telp (0322) 314153 /085649881107

sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/laba-bebek-goreng-bisa-bikin-kesemsem