Minggu, 01 April 2012

RENCANA KERJA TAHUN ANGGARAN 2013

Rencana Kerja Dinas Kelautan dan Perikanan Kepulauan Sula  Tahun Anggaran 2013 didasarkan pada penjaringan aspirasi melalui Forum Musyawarah Rencana Pembangunan Tingkat Desa, Kecamatan dan melalui Forum SKPD secara kontekstual dalam mekanisme perencanaan dengan substansinya melalui integrasi Kebijakan Pemerintah Pusat dan Provinsi.
Kebijakan pembangunan Kelautan dan perikanan Kabupaten Kepulauan Sula dilandasi oleh visi dan misi yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat serta diharapkan dapat memberikan konstribusi terhadap pembangunan ekonomi kerakyatan  yang dikembangkan secara sinergis, secara optimal dan berkelanjutan. 
Adapun Perencanaan Rencana Kerja Tahun Anggaran 2013 yaitu sebagai berikut :

Memelihara Tokek

Tips Cara Merawat Tokek Agar Cepat Besar diperlukan para pebisnis tokek karena sekarang lagi marak jual beli tokek dengan harga tinggi. Satu tokek bisa dijual dengan harga jutaan. Bagi pembeli tokek harga segitu adalah wajar dibalik manfaat yang akan diperoleh.

Untuk itulah bisnis jual beli tokek sangat menggiurkan untuk sekarang ini. Untuk itu diperlukan pengetahuan dalam memelihara tokek agar tokek tidak stres dan bisa laku dengan harga tinggi jika dibeli.

Bisnis jual beli tokek merupakan alternatif bisnis nyata, mengingat harga tokek dengan berat 3 ons bisa terjual hingga 30jt bahkan lebih. Berikut ini daftar harga tokek menurut berat badannya:

    250 gram – 299 gram 30 jt/ekor.
    300gram – 349gram 150 jt/ekor.
    350 gram-399 gram 1 M/ekor
    4 ons up 750 jt/100 gram.

Harga tokek bervariasi dan mempunyai beberapa kriteria
1. Sehat dan tidak cacat
2. Gemuk dan selalu mau makan
3. Ukuran besar dengan bobot mantab.

Lalu bagaimana cara memelihara tokek agar tidak stres. Berikut ini beberapa tips memelihara tokek:

1. Jangan pernah langsung menyentuh tokek dengan tangan telanjang.
2. Usahakan natural, jangan pernah membuat tokek jadi stres dengan orang nggak jelas. Biasanya tokek paling takut dengan keberadaan orang asing.
3. Jangan telat memberi makanan.
4. Sama halnya dengan manusia, tokek juga bisa diare :D maka jangan terlalu banyak diberi air.
5. Usahakan tokek nyaman dengan tempatnya, sedikit cahaya lebih baik. Karena tokek senang tempat yang gelap sepi dan sunyi jauh dari keramaian.
6. Sesuai nomer 2 usahakan cukup satu orang yang sama yang memberikan makan pada tokek setiap hari.

Tips Memelihara Tokek Agar Cepat Besar:
1. Ikuti tips merawat tokek diatas.
2. Untuk makanan tokek, cukup kasih makan sekali sehari.
3. Tokek senang dengan udang, jangkrik dan serangga lainnya.
4. Bisa juga diberi telur, telur bagus karena kandungan proteinnya. Protein merupakan zat pembangun tubuh. Secara tak langsung bagus untuk pertumbuhan tokek agar cepat besar.

Berdasarkan poin nomer lima di tips memelihara tokek, jangan pernah mempertontonkan tokek di orang umum. Tokek kan suka ketenangan :D dia bukan anggota topeng monyet ;) ) jadi usahakan jangan dijadikan tontonan orang, khususnya para bocah. Sekali tokek kena stres, berat badannya bisa turun drastis bisa 10gr-150gr.

Jika ada yang mempunyai tips merawat tokek agar cepat besar lainnya berdasarkan pengalaman pribadi bisa ditambahkan di kolom komentar.

Ide Bisnis | Usaha Tutut (Kreco) Rebus

Jika Anda kebetulan melintas di Jalan Abdullah Bin Nuh, Taman Yasmin Bogor, Jawa Barat, sempatkan sejenak mampir dan membeli keong rebus yang dijual di sepanjang jalan itu. .

Keong rebus yang dijual itu adalah keong sawah yang rasanya hampir mirip dengan kerang laut. Masakan ini pas disantap bersama nasi putih hangat. Di masyarakat Sunda, keong sawah ini biasa disebut dengan tutut.

Terdapat sekitar 50 pedagang tutut rebus yang mangkal di sepanjang Jalan Abdullah Bin Nuh, Bogor. Selain memakai gerobak, banyak juga pedagang yang menggunakan mobil untuk menjajakan dagangannya

Setiap pedagang menyediakan kursi atau alas tikar bagi pembeli yang ingin makan di tempat. Namun, tidak sedikit pula pelanggan yang minta dibungkus untuk dibawa pulang.

Salah satu pedagang tutut rebus di daerah ini adalah Ade. Untuk memperkaya rasa, Ade menambahkan berbagai variasi bumbu, seperti original, rendang, asam manis, saus tiram, bumbu pedas, dan rasa kari.

Untuk tutut rebus rasa original dibanderol Rp 3.000 per porsi. Sedang keong rasa saus tiram dihargai Rp 5.000 per porsi. Dari berjualan tutut ini, Ade mengaku bisa menjual 30 kilogram (kg) sampai 50 kg tutur rebus per hari. “Laba bersih saya sekitar Rp 200.000 hingga Rp 300.000 per hari,” katanya.

Pedagang lainnya adalah Abdul Muhyi yang mengusung merek dagang Tutut Mang Oyeng. Dengan tiga gerobak dagang, ia bisa menjual tutut rebus sebanyak100 hingga 300 porsi per hari. " Pendapatan saya berkisar Rp 200.000, Rp 300.000, hingga Rp 400.000 per hari,” katanya.

Rezeki berjualan tutut rebus juga diperoleh Giyanto. Bedanya, ia menjajakan barang dagangannya di mobil. Dalam sehari ia bisa menjual 20 kilogram tutut rebus, dengan pendapatan berkisar Rp 200.000 hingga Rp 300.000 per hari. "Tutut ini banyak yang mencari karena bagus buat kesehatan," ucapnya.

Bahan tutut biasanya dibeli dari pembudidaya keong sawah di Cianjur. Selain itu, ada juga yang membeli dari petani di Bogor.

Giyanto sendiri membeli dari Pasar Anyar Bogor. Namun belakangan, para pemburu tutut di pasar semakin banyak. “Kalau mau beli di pasar, sudah harus menunggu dari jam dua pagi,” katanya. (Eka Saputra/Kontan)

Ide Bisnis | Budidaya Belut Super

Sebagian besar masyarakat Indonesia tidak asing lagi dengan belut. Hewan air tawar yang masuk dalam kelompok ikan berbentuk seperti ular ini digemari karena rasa dagingnya yang gurih. Belut boleh dibilang aman dikonsumsi oleh siapa saja, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Daging belut juga dipercaya dapat menambah vitalitas tubuh manusia.

Selain di rawa-rawa, hewan air ini banyak ditemukan di sawah atau kali (sungai). Lantaran peminatnya cukup banyak, pasokan belut tidak cukup mengandalkan dari tangkapan alam. Makanya, belakangan banyak orang tertarik budidaya belut.
Salah satu varian belut yang mulai banyak dibudidayakan adalah jenis belut super. Berbeda dengan belut pada umumnya, belut super memiliki ukuran lebih besar. Ukuran lingkar tubuhnya mencapai 6,5 cm dengan panjang sekitar 50 cm.
Herman Susilo, salah seorang pembudidaya belut super asal Malang, Jawa Timur, menyatakan, bobot tiga ekor belut super bisa mencapai 1 kg. Belut ukuran jumbo ini banyak dicari pengusaha restoran dan makanan ringan. "Kalau tidak budidaya, susah dapat belut super ini, padahal, pasarnya lebih menjanjikan," kata Herman.
Saat ini, Herman memiliki lima kolam lumpur tempat budidaya belut super. Setiap kolam berukuran sekitar 2x5 meter. Dengan pemberian pakan rutin, Herman bisa memanen belut setiap tiga atau empat bulan sekali. Jadi dalam setahun bisa empat kali panen.
Saat panen, setiap kolam bisa menghasilkan 250 kg belut super. Harga setiap kilonya sekitar Rp 30.000-Rp 35.000. Dengan harga tersebut, omzet yang didapatnya sekitar Rp 40 juta-Rp 50 juta setiap kali panen. Adapun laba bersihnya sekitar 50 persen dari omzet.
Biaya produksi yang dikeluarkan lebih banyak untuk pembibitan. Setiap satu kg bibit belut super ini dijual seharga Rp 40.000. "Sementara pakannya lebih banyak pakan alami, seperti kodok dan cacing," katanya.
Ia menghindari pemberian pelet karena justru dapat menghambat pertumbuhan belut. Selain budidaya belut hingga siap jual, belakangan ia juga mulai melayani penjualan bibit belut super.
Pemain lainnya adalah Prabowo dari Yogyakarta. Ia membudidayakan belut super sejak 2010. Saat ini, ia fokus menjual bibit belut super seukuran 15-20 cm. “Karena kalau bibit setiap bulan bisa langsung jual, sementara kalau tunggu besar itu sampai tiga bulan,” ujarnya.
Bekerja sama dengan petani, ia membudidayakan belut ini di pinggiran sawah. Omzetnya dalam sebulan mencapai Rp 8 juta. Karena bekerja sama dengan pemilik sawah, laba yang didapatnya hanya 20 persen-30 persen. "Jadi saya berbagi dengan pemilik sawah," ujarnya.
Budidaya belut super belakangan semakin digandrungi. Maklum, selain tingginya permintaan pasar, budidaya belut ini juga tidak sulit. Herman Susilo, pembudidaya belut super dari Malang, Jawa Timur bilang, hal utama yang mesti diperhatikan adalah pemberian pakan.

Menurutnya, asupan pakan akan sangat mempengaruhi pertumbuhan belut. Ia menyarankan, sebaiknya belut super lebih banyak diberikan pakan alami, seperti keong, katak, atau cacing ketimbang pakan buatan. "Pakan alami membantu pertumbuhan lebih cepat," kata Herman.

Dengan pakan alami, belut super bisa lebih cepat dipanen karena pertumbuhannya juga menjadi lebih cepat. Jika diberi pakan buatan, belut super baru bisa dipanen dalam waktu enam hingga tujuh bulan sejak awal dipelihara. "Tapi dengan pakan alami bisa panen setiap tiga hingga empat bulan," jelasnya.

Selain itu, kecukupan pakan juga harus diperhatikan. Sebab, bila jumlah pakan kurang bisa menyebabkan terjadinya kanibalisme antar belut. Untuk itu, ia menyarankan pemberian pakan dilakukan sebanyak dua kali dalam sehari.

Untuk metode budidayanya sendiri ada dua cara. Yakni, menggunakan media kolam lumpur dan menggunakan bubu bambu di sawah. Herman sendiri menggunakan media kolam lumpur. Langkah pertama yang harus dilakukan tentu menyiapkan kolamnya.  Kolamnya sendiri tak perlu terlalu lebar. Cukup dengan diameter 2x5 meter sudah bisa menampung 50 kilogram (kg) bibit belut. Saat panen, bibit sebanyak itu bisa menghasilkan bobot 250 kg.

Setelah kolam jadi, lalu masukkan gedebok pisang dan jerami. Lalu masukkan pupuk kandang untuk mempercepat pembusukan gedebok pisang dan jerami. "Ketika sudah membusuk bisa jadi santapan tambahan belut," katanya.

Setelah pakan tambahan siap, lalu lanjutkan dengan pemberian lumpur kering. Setelah itu, masukkan air dengan kedalaman minimal 15 centimeter (cm). "Proses pembusukan gedebok pisang dan jerami terjadi sekitar dua minggu setelah air masuk," jelasnya. Setelah terjadi pembusukan, maka benih siap dimasukkan.

Cara budidaya yang lain adalah memakai bubu yang ditaruh di sawah. Prabowo, pembudidaya belut dari Yogyakarta menggunakan cara ini. "Keunggulan cara ini tidak perlu lahan." ujarnya.

Ia hanya perlu bekerja sama dengan pemilik sawah. Dalam satu petak sawah, ia biasa menanam 20 hingga 50 bubu sebagai tempat belut bertelur. Untuk makanan, cukup menaruh cacing di sekitar bubu tersebut. Prabowo sendiri hanya fokus menjual bibit belut super ukuran 15 cm-20 cm. “Yang penting telaten perhatikan pakan,” ujarnya. (Eka Saputra/Kontan)

Ide Bisnis | Bisnis Kue Non Terigu

Dalam berbisnis harus berinovasi. Tanpa inovasi, bisnis bak sayur tanpa garam. Bisnis dengan cara yang beda dari yang biasa itulah yang dilakukan seorang Sri Murtiningsih. Ia adalah pemilik usaha Hanah Cake and Cookies. Usaha kue telah digeluti Sri sejak ia kuliah.

Sekitar tahun 1992-1994, ia menjajakan kue untuk acara pernikahan. Pernah ia menjual kue sebanyak 1.500 potong untuk satu pesanan saja. "Tapi terputus karena selesaikan kuliah," ujar Sri kepada Kompas.com, Minggu (18/3/2012).
Usaha kuliner ini pun dilanjutkannya pada tahun 2003. Sri yang pekerjaannya ibu rumah tangga ini melanjutkan usaha karena untuk kebutuhan mendesak di keluarganya. "Waktu itu jujur karena kepepet. Suami nggak punya ongkos," cerita dia.
Kala itu, ia menjual cake biasa dengan bahan dasar tepung terigu. Ia pun menjualnya dengan cara menitip di empat toko sekitar Depok. Ia juga menitip kue di lima fakultas di Universitas Indonesia hingga ke Sucofindo dan Bidakara. Dalam satu hari, ia membuat satu loyang kue yang kemudian dibagi jadi 36 potong. "Sempat sisa, ditaruh di bawah etalase. Bukan terjual justru dimakan anaknya (yang punya toko)," tuturnya.
Lalu, Sri pun mengambil langkah untuk ikut pelatihan di bidang kuliner tahun 2006-2007. Penggunaan tepung singkong menjadi bagian dalam pelatihan tersebut. Lantas ia pun mencoba menggunakan tepung singkong ini untuk usahanya. Ia mulai pakai tepung ini sebagai bahan dasar membuat kue tahun 2008. Sejak itu, ia tidak lagi memakai tepung terigu sebagai bahan dasar kuenya, kecuali untuk kue jenis black forest.
Sri menuturkan, dari 20 orang yang ikut pelatihan, hanya dirinya yang masih terus bertahan menggunakan tepung singkong. Awalnya, ia mengaku susah menggunakan tepung yang berasal dari umbi-umbian tersebut. Dikatakannya, kualitas singkong bisa jelek jika musim hujan. "Cuaca bagus, singkong bagus," tuturnya.
Kesulitan lainnya adalah mengenai volume pembelian tepung yang harus dalam jumlah besar dari pabriknya. Setiap pembelian, Sri harus beli minimal 50 kilogram. Satu kilogram tepung singkong seharga Rp 6.000. Karena harus beli banyak, ia pun tidak memakai semua tepung. Sebagian ia jual kembali. "Kan belum banyak di pasaran," ungkapnya.
Kondisi yang demikian tak membuat semangat Sri padam untuk mengembangkan usaha yang sebenarnya membantu program diversifikasi pangan pemerintah. Ia pun menyebutkan banyak hal positif dari tepung singkong ini. Ketimbang tepung terigu, tepung singkong ternyata lebih banyak kandungan serat, protein, zat besi, hingga kalsium. Singkong pun punya kandungan garam yang rendah. "Lebih padat teksturnya daripada tepung terigu," kata Sri menjelaskan perbedaannya ketika diolah menjadi kue.
Karena keunggulan tepung singkong ini, ia pun menyasar anak-anak autis sebagai konsumennya. Karena anak autis harus makan makanan yang gluten free. Jadi tepung dari umbi-umbian menjadi salah satu yang masuk kriteria. Modal yang harus disiapkannya untuk melayani konsumen khusus ini pun terbilang besar. Lantaran kue tidak bisa sembarang membuat. Ada bahan-bahan tertentu yang tidak bisa dikonsumsi. Modalnya, kata Sri, bisa di atas Rp 500.00 untuk sekali pesanan. Untungnya, pesanan lancar-lancar saja. Produk Sri bisa pesan lewat pesan teks (SMS) dan pembayarannya melalui transfer.
Usaha kue browniesnya pun sekarang tidak hanya memakai tepung singkong. Ia juga memakai sagu ganyong yang juga jenis umbi-umbian. Jika tepung singkong didapatkan dari pabrik, sagu ganyong diperolehnya langsung dari petani di daerah Ciamis.
Keanekaragaman bahan pangan yang ditunjukkan dalam usahanya membawa Sri mendapatkan penghargaan dari Kementerian Perdagangan tahun 2009. Sri berhasil menang UKM Award untuk program diversifikasi pangan. Selanjutnya, ia pun menjadi UKM binaan Kemendag. Manfaatnya, ia diikutsertakan dalam sejumlah kegiatan seperti Food Security Summit.
Perlu diketahui, usaha Sri bukanlah tanpa hambatan. Ia bercerita, usahanya ini masih punya masalah permodalan. Pasalnya, ia berkeinginan mempunyai pabrik kue sendiri dan toko kue kecil. Pemasaran juga masih menjadi masalah usahanya. Karena itu, ia pun masih menjajakan produknya dengan cara pesanan. "Masih pesanan misalnya untuk komunitas ibu-ibu (yang anaknya penyandang autis)," tambahnya.
Sekalipun demikian, Sri berharap pendirian pabrik dan toko kue segera terwujud. Sekarang ini dia masih membuat kue brownies dan cookies di dapur rumahnya. "Usaha sih pingin buat mini factory, tapi mahal biaya peralatannya. Ya mudah-mudahan tahun depan," pungkas Sri.

Sumber : kompas.com

Ide Bisnis | Bisnis Olahan Kulit Kodok

Guna memenuhi selera pasar, selama ini banyak produsen menawarkan produk fesyen seperti tas dan dompet dengan model unik dan dibuat dari bahan berkualitas. Untuk menghasilkan produk yang menarik, mereka sering menggunakan kulit binatang sebagai bahan baku produk.

Beberapa kulit binatang yang selama ini sering dipakai, seperti kulit ular, buaya, dan sapi. Namun, masih jarang yang menggunakan kulit kodok sebagai bahan baku produk.

Salah satu produsen yang menggunakan kulit kodok sebagai bahan baku produk adalah Cadusa, The Indonesiaz Exotic Leather dari Yogyakarta. Pemilik usaha ini, Ditto Wahyutomo bilang, pembuatan produk fesyen berbahan kulit kodok masih tergolong baru.  "Kulit kodok ini saya pakai sebagai bahan pembuatan tas dan dompet," jelasnya.

Karena pemakaian kulit kodok masih jarang, ia mengklaim, produk tas dan dompetnya berbeda dari yang lain. "Setidaknya itu menjadi ciri khas produk saya," ujarnya.

Menurut Ditto, pemanfaatan kulit kodok sebagai bahan pembuatan tas dan dompet tidak gampang. Perlu keahlian khusus dalam mengolah kulit kodok sehingga menarik dan memiliki kesan eksotis. "Selain itu pasokan kodoknya juga sulit diperoleh," ujarnya.

Selama ini, ia mendapat pasokan kodok dari Papua dan Kalimantan. Ditto mengaku telah memulai usaha ini sejak tahun 2005.

Selain kulit kodok, ia juga menggunakan kulit binatang lain sebagai bahan baku, seperti kulit buaya dan kambing. Selain tas dan dompet, ia juga memproduksi jaket dan sepatu wanita.

Aneka produk fesyen yang dihasilkannya itu dibanderol mulai dari Rp 250.000 - Rp 10 juta per buah. Ditto mengaku bisa meraup omzet rata-rata hingga Rp 50 juta per bulan.

Namun, jika sedang ada pameran, omzetnya bisa mencapai Rp 70 juta. Biasanya, Ditto mengikuti pameran sebanyak tiga kali dalam setahun.

Pelanggannya berasal dari beberapa daerah di Indonesia, seperti Jakarta, Yogyakarta, Palembang, Bengkulu, dan Makassar. Ia bilang, bisnis kerajinan dari kulit binatang ini prospeknya bagus.

Martini, pemilik Bagpose dari Bandung, Jawa Barat mengamini, permintaan kerajinan tas atau dompet cukup tinggi. Martini sendiri fokus memproduksi tas dan dompet yang terbuat dari kulit sapi.

Ia membanderol tas buatannya mulai dari harga Rp 300.000 hingga Rp 800.000 per buah. Sementara dompet dibanderol mulai Rp 100.000 sampai Rp 300.000 per buah.  "Pelanggan terbesar saya banyak datang dari Jakarta," kata Martini. (Noverius Laoli/Kontan)

Petani Susah Dapatkan Benih Ikan

Pangkalpinang - Petani ikan air tawar di Kota Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung (Babel), kesulitan mendapatkan bibit lele, akibat persediaan bibit kurang.

"Kami kesulitan mencari bibit lele, meskipun ada, harga bibit lele sangat tinggi sehingga kami mengalami kesulitan untuk mengembangkan budidaya ikan air tawar tersebut," kata Ambran, salah seorang petani ikan lele di Pangkalpinang, Minggu (1/4).

Ia menjelaskan, persediaan bibit ikan kurang karena pembenihan ikan lele banyak gagal sebagai dampak perubahan cuaca dari musim hujan ke musim panas sehingga suhu air tidak stabil.

"Suhu air kolam yang tidak stabil ini mengakibatkan telur-telur ikan tersebut tidak menetas, meskipun menetas anak ikan mudah mati karena ketahanan tubuh bibit ikan kurang untuk menghadapi perubahan suhu yang tidak bersahabat," ujarnya.

Ia mengatakan, keterbatasan persediaan bibit lele di sejumlah tempat penjualan bibit ikan air tawar juga akibat meningkatnya permintaan bibit lele selama musim hujan ini.

"Terhitung sejak awal musim hujan, peternak ikan lele kembali berlomba-lomba memelihara ikan lele karena air kolam kembali mencukupi dibandingkan selama musim kemarau yang sebagian besar kolam kering," ujarnya.

Ia mengatakan, saat ini, antara persediaan bibit lele dengan permintaan tidak sebanding, sehingga berdampak langsung terhadap kenaikan harga bibit lele tersebut.

Saat ini, harga bibit lele berukuran 5 cm - 6 cm naik menjadi Rp250 per ekor dibandingkan harga sebelumnya Rp160 per ekor dan harga bibit berukuran 6 cm - 7 cm naik menjadi Rp500 per ekor dari harga sebelumnya Rp250 per ekor.

"Biaya untuk pemeliharaan lele ini cukup tinggi karena biaya pembelian bibit, pakan yang cukup tinggi, sementara harga penjualan lele tidak mengalami kenaikan masih bertahan Rp18 ribu per kilogram, sehingga keuntungan yang diperoleh semakin tipis," ujarnya.

Hendra, petani budidaya ikan lele lainnya, mengatakan, terkendala mendapatkan benih lele yang berkualitas.

"Saya sudah berkeliling mencari benih lele di sejumlah pedagang dan tempat pembenihan, namun benih lele banyak yang kosong, meskipun ada benih lele masih berukuran dua hingga tiga centi meter yang tingkat kematiannya cukup tinggi," ujarnya.

Dikatakan, ukuran benih lele siap tebar dan dibesarkan berukuran lima hingga tujuh centi meter karena tingkat kematian rendah seiring daya tahan tubuh terhadap penyakit tinggi sehingga tidak mengalami kerugian dalam pembesaran lele.[micom]