Tampilkan postingan dengan label entrepreneur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label entrepreneur. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Februari 2012

10 Bekas Karyawan yang Sukses Berbisnis

Views :403 Times PDF Cetak E-mail
Jumat, 24 Februari 2012 13:12
shepianKesuksesan setelah berhenti dari pekerjaan kantoran Anda memang bukan jaminan. Namun untuk beberapa orang bisa beruntung setelah mengatakan 'Saya berhenti". Dengan kerja keras dan kebulatan tekad, mereka kini bisa berbalik mendulang sukses.

Berikut kisah sukses orang-orang setelah berhenti dari pekerjaannya. Orang-orang ini bisa mendulang jutaan dolar dan menciptakan kekayaannya sendiri. Berikut 10 orang-orang beruntung itu, seperti dikutip dari CNBC.

1. Shep dan Ian Murray, Vineyard VinesKarena merasa frustasi bekerja di kantor, dua bersaudara, Shep dan Ian Murray pada tahun 1998 resmi undur diri dari perusahaan tempat mereka bekerja. Shep Murray mengundurkan diri, disusul saudaranya 10 menit kemudian.

Mereka selanjutnya mendirikan Vineyard Vines, sebuah dasi yang berbasis di Martha's Vineyard. Ide mereka mengambil uang tunai dari kartu kredit sempat dicemooh dan dinilai bodoh.

Pada awalnya, mereka menjual dasi-dasi itu di tas ransel, di pantai, di kapal dan di bar. Saat ini ada 18 toko ritel Vineyard Vine di seluruh negara, dan jaringannya dapat ditemukan di hampir 500 toko. Vineyard Vine diperkirakan mampu mencetak penjualan hingga US$ 100 juta pada tahun 2011.

2. Rick Wetzel dan Bill Phelps, Wetzel's PretzelsRick Wetzel dan Bill Phelps dulunya sama-sama bekerja di Nestle ketika konsep Wetzel's Pretzels terlahir. Keduanya sedang dalam perjalanan bisnis ketika Wetzel mengatakan kepada Phelps tentang ide istrinya untuk membuat pretzel yang besar dan lembut dan dijual di mal. Malam itu, mereka duduk di bar dan menggambarkan rencana bisnisnya pada sebuah kain serbet.

Mereka menggandeng partner untuk menciptakan resep di dapur Phelp. Dan ketika waktunya tiba untuk membuka toko, mereka mencoba meyakinkan pemilik mal untuk datang ke rumah mereka dan mencoba kreasinya. Dan ternyata pemilik mal itu menyukai rasanya, sehingga mau menyewakan tempat untuk toko pertama Wetzel's Pretzels.

Di tahun 1994, Wetzel dan Phelps mendapatkan keberuntungannya ketika mereka mendapatkan beberapa paket penawaran (untuk berhenti) dari Nestle. Saat ini tercatat ada 250 toko Wetzel's Pretzel di seluruh AS. Penjualan di seluruh wilayah diperkirakan mencapai US$ 100 juta dengan pertumbuhan penjualan mencapai 9% pada tahun 2011.

3. Terry Finley, West Point ThoroughbredsTerry Finley menyelesaikan tugas militernya pada tahun 1990 ketika dia dan istrinya, Debbie kemudian membeli kuda seharga US$ 5.000. Kuda yang diberi nama Sunbelt itu memenangkan pacuan pertamanya.

"Melakukan apa yang Anda cintai dan membuatnya profesional adalah jauh lebih baik ketimbang hanya sekedar bekerja untuk hidup," jelas Finley.

West Point Thoroughbreds sekarang membeli 20-25 kuda setiap tahun, membentuk kelompok investor yang dapat meraup laba ketika kuda-kudanya menang, mengembangbiakkan dan menjual kuda-kuda tersebut. Sejak tahun 2007, kuda-kuda mereka telah memenangkan lebih dari 20% pacuan, sehingga membuat mereka bisa meraup US$ 16 juta. Penjualan tahunan mereka mencapai US$ 7 juta.

4. Dana Sinkler dan Alex Dzieduszycki, Terra ChipsDana Sinkler dan Alex Dzieduszycki sebelumnya bekerja untuk chef bintang, Jean-Georges Vongerichten di restoran bintang empatnya, Lafayette di New York. Mereka kemudian memutuskan berhenti dan ingin menciptakan sebuah sajian khusus untuk disajikan di bar, namun mereka ingin sesuatu yang berbeda dari elaborasi satu piringan penuh sayuran atau crudité platters, yang populer pada saat itu. Jadi pada tahun 1990, mereka bereksperimen dengan menggoreng sayur-sayuran di dapur apartemen kecil Sinkler.

Dan ternyata keripik sayur-sayuran kreasi mereka 'Terra Chips' menjadi sangat populer dan bisa dijual di toko. Sebuah perusahaan swasta membeli 51% saham mereka pada tahun 1995, dan pada tahun 1998 Hain Celestial membeli Terra Chips sebagai bagian dari kesepakatan senilai US$ 80 juta dengan 3 perusahaan lain. Pada saat itu, ujar Dzieduszycki , Terra Chips memiliki penjualan hingga US$ 23 juta.

Sinkler dan Dzieduszycki telah bergerak ke perusahaan baru. Sinkler kini telah memulai bisnis restoran baru yang disebut Hubee D's, sementara Dzieduszycki memulai Julian's Recipe, yang menjual waffle beku.

5. Adam Lowry dan Eric Ryan, MethodAdam Lowry dulunya bekerja sebagai ilmuwan iklim, sementara Eric Ryan bekerja di bidang periklanan. Keduanya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan mengembangkan bisnis produk pembersih yang ramah lingkungan, Method. Pada saat itu tidak banyak pilihan untuk produk kebersihan yang tidak mengandung unsur-unsur kimia berbahaya. Sehingga dua orang yang berteman baik sejak anak-anak itu mulai melakukan riset dan Lowry bahkan mencampur bahan kimia di bak cuci apartemen mereka.

Mereka menggabungkan dana hingga US$ 200.000 dari keluarga, teman dan memulai Method pada tahun 2000. Method telah menjadi sebuah perusahaan swasta dengan pertumbuhan paling cepat di Amerika dengan produk sekitar 100 mulai dari sabun tangan hingga sabun cuci piring dan pembersih kamar mandi. Pendapatan kotor perusahaan itu diperkirakan mencapai US$ 100 juta.

6. Rod Johnstone, J/BoatsRod Johnstone berusia 38 tahun dan bekerja sebagai sales untuk publikasi kapal ketika memutuskan untuk berhenti dan mewujudkan mimpi perahu layarnya. Ia semula sangat menikmati, namun kemudian merasa pertumbuhannya tidak cukup cepat. Orang tuanya kemudian mendonasikan kayu yang bernilai beberapa ratus dolar, dan Johnstone kemudian mulai membangun kapal di garasinya. Satu setengah tahun kemudian kapal impiannya rampung dan ia mulai mengikutkannya dalam perlombaan. Didorong oleh kesuksesannya, Johnstone memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan mewujudkan impiannya.

7. Andy Schamisso, Inko's White TeaPada tahun 2002, Andy Schamisso bekerja sebagai public relations namun tidak merasa nyaman. Suatu hari, ketika istrinya tidak dapat menemukan teh putih untuk es tehnya, Schamisso menemukan panggilannya. Ketika sedang mencarinya di internet, ia menemukan keuntungan keseatan dan memutuskan membawa resep istrinya ke orang lain.

Jadi setelah 13 tahun di perusahaan PR, Schamisso memutuskan untuk berhenti bekerja dan memulai Inko’s White Tea, yang dinamakan seperti anjingnya. Setelah mendapatkan cukup uang untuk membuat 6.000 kotak, Schamisso pergi ke jalanan di New York untuk menjual produknya. Setahun kemudian, order sudah beruba dari kardus-kardus ke truk-truk. Saat ini ada 14 jenis Inko’s White Tea di pasar. Dalam beberapa tahun terakhir, penjualan tahunan perusahaan mencapai US$ 3 juta.

8. Kim dan Beaver Raymond, Marshmallow Fun CompanyKim dan Beaver Raymond, keduanya sama-sama mengatakan "Saya Berhenti" setelah mainan yang semula mereka ciptakan untuk anak-anak mereka berubah menjadi mainan yang sangat hits. Dua bersaudara itu sebelumnya sama-sama bekerja di industri fesyen. Pada tahun 2002, mereka membuat mainan tembakan dari pipa PVC untuk pesta ulang tahun anak mereka. Dipicu oleh kesuksesan pertempuran makanan yang mereka saksikan, pasangan itu dan beberapa temannya kemudian menggambarkan bagaimana membangun dan memasarkan mainan baru tersebut  dan Marshmallow Fun Company terlahir.

Pada tahun 2010, Marshmallow Fun Company menjual lebih dari 7 juta tembakan mainan anak-anak.

9. Rocky Patel, Rocky Patel CigarsRocky Patel merupakan pengacara entertainment Hollywood, sebelum akhirnya sukses mengembangkan bisnis cerutu.  Patel melihat sebuah kesempatan untuk menciptakan produk yang ia pikir hilang dari pasar. Jadi iapun meninggalkan bisnis hukum dan mulai memroduksi cerutu pada tahun 1996, mengubah rumahnya di California menjadi kotak tembakau.

Setelah awal yang sangat sulit, Patel memutuskan untuk memindahkan bisnisnya ke Florida dimana sebagian besar perusahaan cerutu AS berada. Ia mendapat sukses besar pada tahun 2003 dengan Rocky Patel Vintage Series yang mendapatkan peringkat tinggi dan pujian.

Rocky Patel Cigars saat ini memroduksi 200.000 cerutu setiap tahunnya, dengan penjualan lebih dari US$ 40 juta pada tahun 2011.

10. Paul English, Kayak

Paul English bekerja di sebuah perusahaan modal, Greylock pada tahun 2004 ketika Steve Hafner yang mendirikan Orbitz mengungkapkan ide untuk membuat perusahaan perjalanan yang berbeda. Setelah melakukan pertemuan selama 1 jam dan 3 gelas minuman, English dan Hafner membentuk Kayak, sebuah mesin pencari perjalanan online. English pun berhenti dari pekerjaannya di Greylock dan mulai menjadi chief technology officer untuk website baru itu.

Kayak menjadi tempat pencarian ratusan situs perjalanan yang lengkap karena ada tarif pesawat, hotel, sewa mobil dan kini berada di peringkat 1 untuk pasar tersebut. Kayak juga menyampaikan dokumen untuk IPO pada tahun 2010, meski hingga kini belum juga dilakukan. Perusahaan tersebut dilaporkan meraup pendapatan hingga US$ 170,6 juta pada 9 bulan pertama di 2011. Kayak memproses 670 juta pengguna informasi perjalanan dan memiliki 5 juta download aplikasi mobile pada periode tersebut. (*/Detik Finance)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/entrepreneur/internasional/bisnis/14696-10-bekas-karyawan-yang-sukses-berbisnis.html

Selasa, 21 Februari 2012

Entrepreneurship dan Kebebasan

Views :374 Times PDF Cetak E-mail
Selasa, 21 Februari 2012 10:11
pakci10112Entrepreneurship sesungguhnya mengenai kebebasan. Kebebasan untuk bekerja dengan cara dan waktu yang Anda inginkan. Kebebasan ini menciptakan kehidupan Anda dari nol dan membuatnya lebih nikmat dan bermakna. Sebagai seorang entrepreneur, kita bisa bekerja saat kita merasa paling produktif. Misalnya kita bisa bekerja di pagi buta pukul 4 saat belum banyak orang terbangun untuk memulai mengerjakan pekerjaan dengan konsentrasi lebih tinggi. Gangguan juga lebih minim di saat-saat seperti ini.

Kita bisa mengatur jadwal sendiri, sambil masih tetap mempertahankan kebutuhan klien dan kesempatan kita sendiri. Kita menciptakan sebuah lingkungan kerja yang mencerminkan nilai dan prinsip Anda, bukan nilai dan prinsip yang diyakini oleh orang lain. Dan dalam dunia di mana di dalamnya perusahaan-perusahaan tak lagi memberikan kenyamanan seumur hidup sebagaimana di masa lalu, Anda bisa menciptakan kenyamanan bekerja sendiri dengan menciptakan pekerjaan sendiri dan bagi orang lain

Pertama kali jangan berpikir untuk bersaing dengan perusahaan-perusahaan besar. Sebagai entrepreneur, kita perlu memiliki dan mengasah kemampuan yang cepat untuk menanggapi perubahan dalam dunia bisnis Anda. Banyak perusahaan besar merasa bahwa mereka bisa mengendalikan ekosistem di mana mereka bekerja, padahal tak akan mungkin bisa.

Sumber:
http://www.ciputraentrepreneurship.com/index.php/ciputra-notes-inspirasi/14599-entrepreneurship-dan-kebebasan.html

Senin, 20 Februari 2012

Cara Menanamkan Nilai Entrepreneurship pada Anak-anak

 #Entrep4kids Views :620 Times PDF Cetak E-mail
Senin, 20 Februari 2012 13:41
Minggu pagi kemarin saya berbagi tentang berbagai cara yang bisa dilakukan untuk menanamkan entrepreneurship sejak dini pada anak cucu kita. Inilah ikhtisarnya:
1. Berikan ruang untuk membangun percaya diri. Ajari ia hargai diri dan pemikirannya sendiri. Berilah anak kesempatan untuk berpendapat.
2. Tanamkan entrepreneurship sebagai sebuah jalan hidup untuk memperbaiki kualitas kehidupan,bukan hanya mencari uang.
3.Beri pemahaman bahwa entrepreneurship itu menyenangkan,salah satu cara untuk menikmati dan mengisi kehidupan.
4. Ajarkan anak untuk tidak cuma mengeluh,bermanja jika ada masalah.Ajak ia temukan solusinya.
5.Anak punya banyak mainan?Ajak ia untuk jual mainan lamanya.Libatkan ia dalam proses penentuan harga,penjualan,tawar menawar.
6. Ajari anak tentang prinsip reward-punishment. Melakukan perbuatan baik=>reward.Malas/berbuat negatif=>hukuman.
7.Jika Anda entrepreneur,jelaskan dg simpel bagaimana Anda bekerja mencari nafkah.Tanyakan apa cita-citanya kelak.
8.Bimbing anak untuk kenali passion-nya.Passion membuat mereka lebih konsisten dan kuat dalam menjadi entrepreneur.
9.Saat di pasar/mall,ajarkan anak untuk tidak hanya menjadi konsumen tapi produsen.Asah kreativitasnya dengan mengamati produk/jasa yang ada.
10.Ajari mereka nikmatnya berbagi,entah itu berbagi mainan,uang,bekal makanan,pengetahuan.
11.Berikan teladan.Itulah kenapa orang tua juga harus cerminkan nilai2 entrepreneurship dalam aktivitasnya.
Di samping itu banyak juga yang memberikan masukan mengenai cara-cara lain yang bisa diterapkan untuk menanamkan entrepreneurship sejak dini dalam pribadi anak-anak kita.
Membelikan hewan peliharaan rumah (kura-kura dan ikan hias) agar si anak mempunyai tanggung jawab. (@den_baguse705)
Tanamkan yang dibangun adalah nilai-nilai diri sehingga kalau gagal tetap ‘nothing to lose’, kalo sukses tetap rendah hati (@anakjugamanusia)
Biasakan anak untuk berkomunikasi dengan bahasa yang baik, bekal kepercayaan diri ( @Tiaraakasdang)
Kalau dulu saya diajarkan ortu harus selalu pegang janji dan menjaga nama baik, meskipun secara materi rugi ( @monikatanu)
Ajari hidup dengan kalkulasi dan 'memilih jalan' beserta risiko dan konsekuensinya (@DemieMozz)
Tanamkan ke anak bahwa kejujuran adalah no.1, karena apapun hasilnya tanpa kejujuran maka tidak ada nilainya (@anakjugamanusia)
Dorong anak untuk berani mencoba & memberitahu anak untuk berfokus pada proses. (@anakjugamanusia)
Latih anak2 utk memiliki mental 'harus bisa!' Di tengah banyaknya masalah sulit yg akan sering mereka hadapi (@alto1988)
Belajar membuat kue bersama rekan-rekan dan menjualnya. Mulai dari menghitung modal, harga jual dan mengamalkan sebagian pendapatan.(@seenlook)
Beritahukan mereka berkat yang kita dapat berasal dari TUHAN (@sutansimatupang)

Sumber:
http://www.ciputraentrepreneurship.com/index.php/ciputra-notes-inspirasi/14584-cara-menanamkan-nilai-entrepreneurship-pada-anak-anak-entrep4kids.html

Kamis, 16 Februari 2012

Apakah Anda Seorang Entrepreneur Sejati?

Views :334 Times PDF Cetak E-mail
Kamis, 16 Februari 2012 14:08
entr1111Makin hari persaingan bisnis makin ketat. Akhirnya beberapa businessman yang merasa terjepit, mulai melakukan kecurangan-kecurangan. Penipuan, manipulasi mutu dan harga serta banyak lagi tindakan-tindakan tidak terpuji.

Gejala seperti itu berkembang terus, makin lama keculasan para pedagang makin tidak terkendali. Etika seakan sudah tidak diindahkan lagi, setiap orang berebut rejeki untuk kepentingan diri sendiri. Semua cara dihalalkan, kalau perlu dengan menyikut orang lain. Atau menjual barang terlarang sekali pun.

Melihat dunia usaha yang sudah demikian amburadul, masyarakat banyak akhirnya mengasosiasikan bisnis sebagai kegiatan kotor, lambang keserakahan yang menjijikkan. Timbul semacam perasaan skeptis di kalangan awam.

Pada dasarnya bisnis itu sebenarnya mengandung nilai-nilai yang luhur. Seharusnya dengan bisnis, martabat manusia menjadi ditinggikan dan termuliakan. Oleh karenanya, sifat serta tindakan buruk harus dilenyapkan dari dunia usaha.

Ada beberapa tolok ukur yang digunakan untuk melihat apakah seseorang benar-benar seorang entrepreneur sejati atau bukan. Di antaranya adalah:

1. Seorang entrepreneur tulen tidak hanya fokus kepada profit semata. Ia akan memikirkan lingkungan sekitarnya misalnya dengan melestarikan lingkungan dan menyejahterakan masyarakat sekitar. Ia sadar bahwa tindakan itu bukan sekadar tindakan bersifat sosial semata, tapi juga mengandung benefit yang mendukung kemajuan perusahaannya.

2. Entrepreneur sejati tidak menganggap para pesaing sebagai ganjalan yang akan menghambat pertumbuhan usahanya. Sebaliknya, mereka lebih merasakan manfaat dari kehadiran para pesaing. Dengan demikian setiap saat ia dapat mengukur kualitas produk serta peningkatan kinerja perusahaannya.

3. Entrepreneur menggunakan pendekatan “kualitatif”. Artinya, seorang pebisnis sejati tidak melihat usahanya dari besaran modal yang dipakai. Rata-rata mereka memulai usaha dengan modal kecil, bahkan ada yang mulai dengan modal nekat.  Dalam hal ini, entrepreneur lebih mengandal pada keuletan pribadinya, bukan kepada kekuatan uang.

4. Para entrepreneur sejati tidak hanya melihat hasil akhir, melainkan juga cara memperoleh hasil tersebut. Mereka lebih menggunakan pendekatan saling menguntungkan. Tidak jarang dalam suatu program pembebasan tanah yang dilaksanakan seorang entrepreneur, warga yang tergusur justru berubah menjadi orang-orang kaya baru (OKB), bahkan tidak sedikit yang kemudian pergi naik haji dengan istilah mereka sendiri “Haji Gusuran”.

5. Entrepreneur berkeinginan untuk “menghidupi orang lain” dan bukan membunuh atau merampas hak orang lain. Walau sebuah bisnis sudah menjadi besar, mereka tidak mematikan usaha-usaha rumahan yang merupakan pesaing mereka, bahkan melakukan sinergi dengan kompetitor. Contohnya, Astra, perusahaan raksasa nasional ini melakukan pendekatan kemitraan, dengan jalan memberikan pembinaan modal dan manjemen kepada perusahaan-perusahaan yang lebih kecil.

6. Para entrepreneur sejati cenderung memperlakukan karyawan mereka sebagai mitra kerja dan bukan alat produksi sehingga para karyawan merasa berbahagia karena diperlakukan sebagai manusia yang sederajat.

Sudah seberapa entrepreneur-kah Anda?

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/index.php/pendidikan/serba-serbi/165-entrepreneurship/14463-apakah-anda-seorang-entrepreneur-sejati.html

Selasa, 14 Februari 2012

5 Film Tentang Entrepreneurship yang Harus Anda Tonton

Views :849 Times PDF Cetak E-mail
Selasa, 14 Februari 2012 09:18
Setelah menonton film “The Social Network” baru-baru ini, kita bisa temui banyak sekali film yang memiliki entrepreneurship atau bisnis sebagai tema besarnya. Pengaruh apakah yang film-film ini akan berikan kepada mereka yang menontonnya? Tidak ada yang diragukan bahwa komentar negatif di film “Wall Street” sebenarnya tertarik untuk bekerja di Wall Street selama dekade 1990-an yang juga dikenal dengan masa ketamakan. Daripada menundanya dengan isu etika, sebagaimana yang dimaksudkan dalam film tersebut. Mungkin saja film “The Social Network” dengan tema dasar mengenai perceraian dan si pemenang akan berada di atas angin mungkin akan memiliki efek yang serupa.

Jadi apakah film-film dengan tema entrepreneurship yang paling baik? Kita akan fokus pada film fiksi bahkan jika film-film ini berdasarkan pada kenyataan.

“Wall Street”Karena ketamakan tentunya bagus hingga Anda tenggelam dalam sistemnya, tentu saja. Sayang sekali bahwa film yang mengikutinya seharusnya bisa memberikan pesan yang lebih berisi agak tidak menggigit. Dua bersaudara Sheen yang membintangi film berikutnya nampak tidak bisa menandingi akting Michael Douglas yang brilian.

“The Social Network”

Meskipun film ini masih baru, “The Social Network” memiliki kesan yang baik sehubungan dengan latar belakangnya yang menggunakan Facebook. Apakah ini semua benar? Mungkin tidak tetapi ini menunjukkan bahwa apapun yang terjadi, jangan menandatangani apapun hingga Anda memiliki seorang kuasa hukum yang berpengalaman dan usaha rintisan bisa menjadi bisnis yang kacau sekali jika di tahap awal peraturan dasarnya tidak ditegakkan dengan baik dan konsisten.

“Glengarry Glen Ross”

Kisah mengenai David Mamet tentang penjual dan ketrampilan sebagai penjual dengan semua pemeran bintang dan kalimat-kalimat singkat yang cerdas, bisa menunjukkan pada generasi Y bahwa bekerja di usaha rintisan pun memiliki sisi-sisi manusiawi dan humoris. Mungkin setting serupa bisa ditemui di beberapa usaha rintisan sekarang.

“Barbarians at the Gate”

Kisah RJR Nabisco dan periode buy-out di Wall Street mugnkin masih lekat di benak sebagian orang. Sebenarnya ini bekerja sangat baik sebagai suatu negosiasi atau komedi dari kesalahan dan kekacauan. Dan sekali lagi ini merupakan sebuah film yang tidak ditunjukkan sesering seharusnya. Semua mahasiswa sekolah bisnis seharusnya diajak untuk menonton film ini. Aktor James Garner memerankan F. Ross Johnson, sang CEO RJR Nabisco dan memberikan kinerja terbaiknya abad ini.

“Pirates of Silicon Valley”

Meski film ini sebenarnya dibuat untuk ditayangkan di TV, film “Pirates of Silicon Valley” ini sangat menarik. Sebagaimana kisah Apple dan Microsoft di masa awal mereka, sekali lagi film nii melewati batas film jejaring sosial mengenai kepercayaan dan pengkhianatan dan tidak sepenuhnya akurat (IBM misalnya mendekati Digital Research untuk menyediakan DOS untuk itu sebelum menghubungi Bill Gates tetapi itu berhasil untuk ukuran sebuah film). Sekali lagi pemeran yang baik berarti para pemainnya terlihat cukup menyerupai karakter di kehidupan nyata. Pastinya setelah keberhasilan “The Social Network”, inilah skrip film yang menunggu untuk difilmkan kembali.

Sumber:
http://www.ciputraentrepreneurship.com/index.php/entertainment/hiburan/14364-5-film-tentang-entrepreneurship-yang-harus-anda-tonton.html

Selasa, 07 Februari 2012

Kriteria Seorang Entrepreneur Sosial

Views :355 Times PDF Cetak E-mail
Selasa, 07 Februari 2012 14:09
sosial0212Anda yakin ingin menjadi seorang entrepreneur sosial? Ada beberapa krieria yang menjadi pembeda antara seorang entrepreneur sosial dengan pebisnis umumnya.

Pertama, menjadi seorang entrepreneur sosial harus mau berkorban dan segera bertindak. Pengorbanan bukan cuma harta benda, melainkan juga naluri untuk bersenang-senang, waktu, tenaga dan pikiran.

Kedua, kesediaan untuk memulai bekerja dengan diam-diam. Entrepreneur sosial memulai karyanya dari hal-hal kecil di daerah yang tidak dikenal. Butet bekerja di pedalaman Sumatera dengan anak-anak suku Kubu. Atau Yayasan Dian Desa yang berkubang lumpur di desa-desa. Ada juga Muhammad Yunus yang bekerja dengan buruh-buruh kasar di Bangladesh. Biasanya mereka baru dikenal setelah karya-karyanya menjadi kenyataan dan ramai dibicarakan orang.

Ketiga, bekerja dengan energi penuh. Orang yang berenergi penuh ’tak ada matinya’. Ia melakukan banyak hal sekaligus dengan menembus berbagai dinding-dinding penyekat. Ia tak mengenal batas-batas yang dibuat manusia untuk membatasi ruang geraknya. Tanpa berpikir keuntungan yang akan didapat, entrepreneur sosial meledakkan segala ide kreatif mereka demi peningkatan kualitas hidup masyarakat luas.

Keempat, ia menghancurkan the established structures. Ia benar-benar bekerja Mandiri dan tak mau terbelenggu oleh struktur yang seakan-akan mewakili kebenaran. Mereka bisa saja ditemukan di antara pegawai-pegawai pemerintahan atau dosen di universitas, tetapi yang adalah kebebasannya dalam bertindak dan berpikir. Mereka punya kecerdasan yang luar biasa dalam mengambil jarak untuk melihat ”beyond the orthodoxy” dalam bidang/pekerjaan mereka. Untuk melakukan hal ini, mereka mengambil risiko yang terlihat aneh, bahkan adakalanya dimusuhi oleh orang umum.

Kelima, kesediaan melakukan koreksi diri. Entrepreneur sosial memerlukan kejernihan berpikir dan sikap-sikap positif. Artinya, kalau suatu langkah tidak bekerja dengan baik, mereka harus rela mengkoreksinya. Pada tahun 1990-an orang-orang sudah meyakini karya besar Muhammad Yunus yang sukses dengan Grameen Bank-nya untuk melayani segmen mikro, tetapi ia melihat tetap ada kelemahan yang merepotkan debitur untuk melunasi hutangnya. Pada tahun 2002, Yunus meluncurkan Grameen Bank II untuk melayani nasabah-nasabah mikro-nya dengan lebih baik lagi.

Keenam adalah kesediaan berbagi keberhasilan. Mereka adalah orang-orang yang rendah hati, yang bekerja dengan prinsip, ”sukses ini bukan karena semata-mata karya saya.” Lebih dari sekedar berkarya dan berbisnis, para entrepreneur sosial membangun sebuah kekuatan, yaitu kekuatan perubahan yang berkelanjutan. Andapun bisa melakukannya. (*/ian)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/pendidikan/serba-serbi/165-entrepreneurship/14998-kriteria-seorang-entrepreneur-sosial.html

Senin, 30 Januari 2012

Ego Entrepreneur: Kendalikan atau Hancur

Views :282 Times PDF Cetak E-mail
Di samping tantangan-tantangan berupa risiko dan tekanan, entrepreneur juga bisa mengalami efek negatif dari ego yang terlalu besar dalam dirinya. Dengan kata lain, karakteristik tertentu yang biasanya menggerakkan entrepreneur menuju sukses juga bisa ditunjukkan dalam kadar yang berlebihan. Empat dari karakteristik ini bisa membawa seorang entrepreneur ke kehancuran, jika tidak dikendalikan dengan baik.

Rasa haus kendali
Entrepreneur biasanya terdorong oleh rasa haus kendali baik dalam menjalankan usaha dan nasib mereka. Fokus internal terhadap kendali ini menjalar hingga Anda merasa harus mengendalikan semua hal. Sebuah obsesi dengan otonomi dan kendali mungkin membuat entrepreneur bekerja dalam situasi yang terstruktur hanya saat mereka menciptakan struktur dengan persyaratannya sendiri. Tentu hal ini memiliki implikasi serius  untuk jejaring dalam tim entrepreneur karena entrepreneur bisa membayangkan kendali eksternal oleh yang lain sebagai sebuah ancaman dari keberatan atau pelanggaran dalam kehendak mereka sendiri. Dengan demikian, karakteristik yang sama bahwa entrepreneur membutuhkan pendirian usaha yang berhasil juga mengandung sisi yang destruktif.

Rasa tidak percaya
Agar bisa tetap waspada terhadap persaingan, peraturan pelanggan dan pemerintah, entrepreneur harus secara terus menerus memonitor lingkungan. Mereka mencoba untuk mengantisipasi dan bertindak berdasarkan perkembangan yang mungkin terlambat dikenali orang lain. Ketidakpercayaan seperti ini mengakibatkan entrepreneur untuk fokus pada hal yang kurang penting dan menyebabkan mereka kehilangan kesadaran terhadap kenyataan, logika dan cara berpikir  yang melenceng dan mengambil tindakan destruktif. Sekali lagi, rasa tak percaya merupakan karakteristik yang berdampak ganda.

Ambisi untuk sukses yang berlebihan
Ego seorang entrepreneur terlibat dalam ambisi sukses. Meskipun banyak entrepreneur masa kini yakin bahwa mereka hidup di tepi eksistensi, secara terus menerus mereka berpikir tentang ambisi kuatnya untuk berhasil meski harus menyingkirkan tantangan yang begitu banyak.

Optimisme yang tak realistis
Optimis itu positif. Namun apa jadinya jika optimisme mencapai kadar yang begitu tinggi? Sebagian entrepreneur mengalami hal ini. Mereka menganggap optimisme bisa membawa mereka melewati masa-masa sulit dengan lebih mudah. Tapi kadang saat terlalu berlebihan, optimisme mengakibatkan entrepreneur memiliki khayalan yang terlalu tinggi dalam menjalankan bisnisnya. Tanda-tandanya sederhana. Saat Anda menemukan seseorang yang terus berkata usahanya akan makin menguntungkan dengan mengabaikan semua tren, fakta dan laporan yang ada, bisa dipastikan inilah gejala optimisme yang tak realistis itu.

Semua contoh ini tidak menyiratkan bahwa seluruh entrepreneur pasti terjebak dalam 4 sikap ini, atau memvonis bahwa semua karakteristik ini sudah pasti negatif. Namun, semua entrepreneur potensial harus mengetahui bahwa sisi kelam entrepreneurship itu ada.

Sumber:
http://www.ciputraentrepreneurship.com/pendidikan/serba-serbi/165-entrepreneurship/14680-ego-entrepreneur-kendalikan-atau-hancur.html